Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,29%, Analis: IHSG Masih Menunggu Kembalinya Dana Asing
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pertumbuhan ekonomi Indonesia sebanyak 5,29% secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal II-2026 menjadi sentimen positif bagi pasar saham. Namun demikian faktor utama penentu kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berasal dari arus dana asing dan kepastian global.
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengatakan, pertumbuhan ekonomi yang melampaui ekspektasi pasar belum cukup menjadi katalis utama bagi IHSG. Reli indeks dalam beberapa hari ini masih belum menunjukkan kualitas yang kuat.
"IHSG memang melanjutkan penguatan, tetapi kualitas reli masih terbatas. Kenaikan indeks lebih banyak ditopang saham-saham spekulatif, sementara investor asing masih mencatatkan net sell pada sejumlah saham berkapitalisasi besar seperti TLKM, BBRI, dan ASII," ujar Rully dalam keterangan tertulis, Kamis (6/8/2026).
Baca Juga
Kinerja Keuangan Prodia Diagnostic (PRDL) Anjlok di Semester I, Alasan Ini Diungkap
Menurut Rully, investor belum sepenuhnya menjadikan pertumbuhan ekonomi sebagai dasar untuk meningkatkan eksposur di pasar saham. Hal itu tercermin dari masih tertekannya sejumlah saham berfundamental kuat seperti TLKM, BBRI, BBCA, ASII, dan BMRI meski produk domestik bruto (PDB) Indonesia tumbuh di atas ekspektasi.
"Kami melihat pasar saat ini tidak hanya memperhatikan besarnya angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mencermati kualitas dan keberlanjutan sumber pertumbuhan tersebut. Selama arus dana asing belum kembali dan saham-saham berkapitalisasi besar belum menunjukkan penguatan yang lebih merata, investor masih cenderung bersikap selektif," jelasnya.
Dia menambahkan, penguatan nilai tukar rupiah dalam beberapa hari terakhir lebih dipengaruhi faktor eksternal, terutama setelah penguatan yen Jepang akibat intervensi terkoordinasi pemerintah Jepang dan Amerika Serikat yang menekan penguatan dolar AS.
Baca Juga
Target Harga Saham TLKM Rp 3.500, BRI Danareksa Nilai Disiplin Capex Jaga Free Cash Flow
"Kami masih melihat reli IHSG perlu dicermati secara selektif hingga saham-saham berkapitalisasi besar dan arus dana asing menunjukkan perbaikan yang lebih konsisten," kata Rully.
Sementara itu, Pengamat Pasar Modal Elandry Pratama menilai, pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,29% menjadi sinyal positif bagi pasar modal karena mencerminkan aktivitas ekonomi domestik yang tetap solid dan berada di atas ekspektasi pasar.
Menurut Elandry, data tersebut memperkuat keyakinan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih kuat sehingga mampu meningkatkan sentimen pasar dan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk saham.
Baca Juga
Laju Pertumbuhan Ekonomi Global Semester II-2026 Diprediksi Menurun
Meski demikian, ia menilai dampak pertumbuhan ekonomi terhadap IHSG dalam jangka pendek masih terbatas. Pasalnya, arah pergerakan indeks juga dipengaruhi berbagai faktor eksternal, seperti kebijakan suku bunga The Fed, pergerakan imbal hasil US Treasury, nilai tukar rupiah, serta arus dana investor asing.
Ke depan, peluang penguatan IHSG dinilai akan lebih berkelanjutan apabila pertumbuhan ekonomi yang solid diikuti perbaikan kinerja emiten, inflasi yang tetap terkendali, stabilitas nilai tukar rupiah, serta kembalinya aliran dana asing ke pasar domestik. "Namun, jika tekanan global kembali meningkat, sentimen positif dari data PDB ini berpotensi hanya menjadi katalis jangka pendek," ujar Elandry.
Secara keseluruhan, Elandry menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 memberikan fondasi positif bagi pasar saham. Namun, investor tetap perlu mencermati perkembangan kondisi global serta pergerakan arus dana asing yang akan menjadi penentu arah IHSG selanjutnya.

