Kinerja Keuangan Prodia Diagnostic (PRDL) Anjlok di Semester I, Alasan Ini Diungkap
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) membukukan pendapatan sebesar Rp 13,7 miliar pada semester I-2026 atau turun 51,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp28,5 miliar. Penurunan penjualan tersebut turut membuat perseroan mencatat rugi bersih Rp 8,84 miliar, berbalik dari laba bersih Rp5,31 miliar pada semester I-2025.
Berdasarkan laporan keuangan perseroan, laba kotor turun 76,1% menjadi Rp4,51 miliar dari Rp18,92 miliar pada semester I-2025. PRDL juga membukukan rugi usaha Rp 7,60 miliar, berbalik dari laba usaha Rp8,32 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, EBITDA berubah menjadi rugi Rp4,29 miliar, dibandingkan EBITDA positif Rp9,29 miliar pada semester I-2025.
Baca Juga
Melesat 250% dalam Lima Hari, Saham Proline (PRDL) Masuk UMA
Manajemen PRDL menjelaskan penurunan kinerja dipengaruhi penyesuaian pola pembelian pelanggan seiring penerapan metode Point-of-Care Testing (POCT) Lipid Panel sebagai alternatif pemeriksaan selain metode spektrofotometri yang menggunakan reagen cair. Perubahan tersebut memengaruhi waktu dan komposisi pembelian selama masa transisi.
Meski demikian, perseroan menyebut basis pelanggan tetap terjaga. Sebanyak 69% pendapatan semester I-2026 masih berasal dari segmen pelanggan swasta. Selain itu, segmen instrumen mencatat pertumbuhan signifikan dengan penjualan mencapai Rp5,8 miliar, meningkat 172% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Menurut manajemen, tekanan terhadap kinerja semester I-2026 bersifat sementara karena lebih dipengaruhi transisi produk dan pergeseran waktu pembelian, bukan akibat menurunnya kebutuhan layanan diagnostik maupun hilangnya pelanggan.
Baca Juga
Ekonom Ingatkan Pertumbuhan Ekonomi Tak Bisa Terus Bertumpu pada Belanja Pemerintah
Sejalan dengan penurunan volume penjualan, gross profit margin (GPM) turun menjadi 33,0% dari 66,4% pada semester I-2025. Perseroan menjelaskan penurunan margin juga dipengaruhi fase awal ramp-up fasilitas produksi baru. Pada tahap ini, struktur biaya manufaktur yang sebagian besar bersifat tetap, termasuk depresiasi gedung baru, telah mulai dibukukan, sementara utilisasi produksi masih dalam proses peningkatan.
PRDL menilai struktur biaya dan kapasitas produksi yang telah tersedia diharapkan mampu menghasilkan operating leverage yang lebih baik seiring meningkatnya volume penjualan dan utilisasi fasilitas produksi pada paruh kedua 2026.
Perseroan tetap optimistis terhadap prospek bisnis hingga akhir tahun dengan menargetkan pertumbuhan penjualan dua digit sepanjang 2026, disertai peningkatan profitabilitas yang didukung komersialisasi produk baru serta meningkatnya utilisasi kapasitas produksi.

