Penjualan Esa Medika Mandiri (EMMI) Melonjak 4 Kali Lipat di Semester I-2026, Rugi Bersih Susut 32%
JAKARTA, investortrust.id – PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI) mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp 65,4 miliar pada semester I-2026, melonjak lebih dari empat kali lipat dibandingkan Rp 15,40 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Sejalan dengan peningkatan penjualan, laba kotor perseroan naik menjadi Rp 26,15 miliar dari Rp 7,34 miliar pada semester I-2025. Kenaikan membuat rugi bersih EMMI turun 32% secara tahunan atau perbaikan kinerja operasional perseroan.
Direktur Utama EMMI Florian Chris Widjaja mengatakan, pola bisnis industri alat kesehatan, khususnya pada segmen institusi kesehatan pemerintah, memiliki karakteristik di mana sebagian besar transaksi terjadi pada semester kedua seiring realisasi anggaran dan penyelesaian proses tender. Karena itu, kontribusi pendapatan dan laba pada awal tahun belum sepenuhnya mencerminkan potensi kinerja sepanjang tahun.
Baca Juga
KDB Tambah Kepemilikan di Tifa Finance (TIFA) Jadi 92,5%, Gelontorkan Dana Segini
"Kami bersyukur berhasil mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang sangat kuat dibandingkan tahun sebelumnya sekaligus memperbaiki kinerja operasional Perseroan. Meskipun semester pertama masih dipengaruhi oleh karakteristik siklus pengadaan terutama pada institusi kesehatan pemerintah yang umumnya berlangsung pada paruh kedua tahun, kami melihat berbagai indikator bisnis bergerak sesuai ekspektasi," ujar Florian dalam keterangan tertulis, Jumat (31/7/2026).
Pada semester I-2026, perseroan memfokuskan upaya pada penguatan fondasi bisnis melalui pengelolaan operasional yang lebih efisien, optimalisasi persediaan, penguatan rantai pasok, serta partisipasi dalam sejumlah tender pengadaan pemerintah yang diperkirakan mulai terealisasi pada semester kedua.
Di saat yang sama, EMMI juga memperluas penetrasi pasar ke rumah sakit swasta dan berbagai fasilitas layanan kesehatan guna menjaga pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan.
Florian mengungkapkan, perseroan telah menyiapkan sejumlah proyek untuk dijalankan pada semester II-2026, disertai beberapa proses tender yang masih berlangsung. "Dengan pipeline proyek yang ada, kami optimistis dapat melanjutkan momentum pertumbuhan hingga akhir tahun. Di saat yang sama, sebagai perusahaan publik kami juga terus menjalankan penggunaan dana IPO secara disiplin sesuai Prospektus guna memperkuat kapasitas produksi, tata kelola perusahaan, dan daya saing jangka panjang," katanya.
Memasuki semester II-2026, manajemen memandang prospek usaha tetap positif. EMMI masih mengikuti berbagai tender pengadaan pemerintah yang saat ini berada dalam tahap evaluasi. Dengan meningkatnya aktivitas pengadaan pada semester kedua, perseroan optimistis pertumbuhan pendapatan akan terus berlanjut hingga akhir tahun.
Baca Juga
Esa Medika (EMMI) Lepas 30% Saham ke Publik, Incar Dana Segar Rp269 Miliar
Sebagai emiten baru di Bursa Efek Indonesia (BEI), EMMI menyatakan penggunaan dana hasil penawaran umum perdana saham (IPO) berjalan sesuai rencana. Dana tersebut dialokasikan secara bertahap untuk memperluas kapasitas produksi, meningkatkan daya saing, serta memperkuat fondasi pertumbuhan jangka panjang. Perseroan juga terus mengedepankan penerapan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG), penguatan manajemen risiko, dan efisiensi pengelolaan keuangan.
Sejalan dengan realisasi penggunaan dana IPO saham, EMMI tengah melanjutkan pembangunan fasilitas produksi baru di Cikupa, Tangerang. Fasilitas tersebut diharapkan dapat memperkuat kapasitas manufaktur perseroan dalam memenuhi kebutuhan alat kesehatan nasional sekaligus mendukung peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
Selain memperkuat pasar domestik, perseroan juga mulai memperluas langkah ke pasar internasional. Hal itu ditandai dengan kunjungan delegasi Kementerian Luar Negeri RI ke fasilitas produksi EMMI di Cikupa pada 29 Juli 2026 untuk meninjau kapabilitas manufaktur perseroan sebagai bagian dari strategi ekspansi global. Manajemen meyakini kolaborasi yang semakin erat dengan pemerintah akan membuka peluang lebih besar bagi produk alat kesehatan buatan Indonesia untuk menembus pasar internasional.
