Trading Menyusut, Pendapatan Lini Bisnis Robinhood dari Kripto Turun 38%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Perusahaan jasa keuangan asal Amerika Serikat Robinhood membukukan kinerja keuangan tertinggi sepanjang sejarah pada kuartal II 2026, meski pendapatan dari transaksi aset kripto mengalami penurunan signifikan di tengah perubahan dinamika pasar.
Robinhood menyediakan platform perdagangan (brokerage) untuk berbagai instrumen investasi, termasuk saham, ETF, opsi, mata uang kripto, dan produk keuangan lainnya.
Didirikan pada 2013 oleh Vlad Tenev dan Baiju Bhatt, Robinhood dikenal karena mempopulerkan konsep perdagangan saham tanpa komisi melalui aplikasi seluler, sehingga menarik banyak investor ritel, terutama generasi muda.
Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, Robinhood mencatat pendapatan sebesar US$1,31 miliar pada kuartal II 2026, naik 32% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Laba bersih juga meningkat 48% secara tahunan menjadi US$573 juta. Namun di sisi lain, pendapatan dari transaksi aset kripto turun 38% menjadi US$100 juta, dari sekitar US$160 juta pada kuartal II 2025.
Baca Juga
Emirates Perkuat Transformasi Digital dengan Integrasi Pembayaran Kripto
Meski pendapatan kripto menurun, aktivitas perdagangan aset digital di platform Robinhood tetap tinggi. Sepanjang kuartal II 2026, volume perdagangan kripto mencapai US$40 miliar, terdiri atas US$18 miliar yang berasal dari aplikasi Robinhood dan US$22 miliar melalui Bitstamp, bursa kripto yang diakuisisi perusahaan pada Juni 2025.
Robinhood juga terus memperluas bisnis aset digitalnya. Selama kuartal tersebut, perusahaan meluncurkan mainnet publik Robinhood Chain, memperkenalkan saham Amerika Serikat yang ditokenisasi kepada pengguna yang memenuhi syarat di lebih dari 120 negara, serta merilis produk pinjaman terdesentralisasi pertamanya, Robinhood Earn.
Selain itu, Robinhood telah menyelesaikan akuisisi platform kripto asal Kanada, WonderFi, dan mengumumkan rencana memperluas layanan aset digitalnya di Inggris. Perusahaan juga melaporkan hampir 100.000 akun pelanggan telah terdaftar pada layanan Agentic Trading, dengan aset kelolaan melampaui US$100 juta.
Baca Juga
ASEAN Didorong Permudah Ekspansi Perusahaan Kripto Lewat Paspor Lisensi
Kinerja tersebut mencerminkan perubahan strategi pelaku industri kripto global yang mulai mengandalkan diversifikasi bisnis di luar pendapatan transaksi perdagangan (trading fee). Sejumlah perusahaan kripto kini memperluas layanan ke tokenisasi aset dunia nyata (real-world assets/RWA), stablecoin, layanan kustodian, pinjaman berbasis blockchain, hingga infrastruktur blockchain untuk memperkuat sumber pendapatan.
Perkembangan itu juga didorong oleh meningkatnya adopsi aset digital oleh institusi keuangan, semakin jelasnya regulasi di berbagai negara, serta integrasi teknologi blockchain ke dalam layanan keuangan arus utama. Kondisi tersebut membuat persaingan di industri kripto tidak lagi hanya berfokus pada aktivitas jual beli aset digital, tetapi juga pada pengembangan ekosistem keuangan digital yang lebih luas.
Sementara itu, menjelang pengumuman laporan keuangan, saham Robinhood ditutup melemah 3,15% pada perdagangan Rabu, (29/7/2026) berdasarkan data Yahoo Finance.
