Bank Terbesar di Rusia Bangun Infrastruktur Perdagangan Kripto, Genjot Pembentukan Pasar Teregulasi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Sberbank, bank terbesar di Rusia, berencana membangun infrastruktur perdagangan aset kripto, termasuk digitaldepository (penyimpanan aset digital), paling lambat 1 Desember 2026.
Melansir Cointelegraph, Senin (27/7/2026), langkah ini menjadi bagian dari upaya Rusia mengintegrasikan perdagangan, penyimpanan (custody), dan penyelesaian transaksi kripto ke dalam sistem keuangan yang diawasi regulator.
Berdasarkan laporan Interfax, digital depository tersebut akan berfungsi mencatat kepemilikan aset kripto nasabah serta memproses sebagian besar transaksi di luar blockchain utama (off-chain).
Baca Juga
Susul BitMEX, Exchange Kripto BitMart Tutup Setelah Beroperasi 9 Tahun
Sberbank juga akan mengoperasikan dompet digital (active wallets) untuk melayani setoran, penarikan, dan transfer aset kripto atas instruksi nasabah.
Wakil Ketua Dewan Manajemen Sberbank Alexander Vedyakhin mengungkapkan, digital depository akan menjadi salah satu komponen utama dalam infrastruktur baru tersebut.
“Digital depository akan mencatat hak kepemilikan aset kripto nasabah dan membukukan transaksi di luar blockchain utama. Sistem ini juga akan memfasilitasi transaksi melalui active wallets untuk memenuhi perintah transfer aset digital dari nasabah,” ujarnya.
Baca Juga
Krisis Pasokan Listrik, Rusia Pertimbangkan Larangan Mining Bitcoin di 19 Wilayah
Langkah Sberbank sejalan dengan upaya pemerintah Rusia membentuk kerangka regulasi menyeluruh bagi pasar aset kripto. Awal bulan ini, parlemen Rusia menyelesaikan pembahasan akhir rancangan undang-undang yang mengatur aktivitas aset digital.
Melalui aturan tersebut, Bank Sentral Rusia akan memperoleh kewenangan luas untuk mengawasi pasar kripto yang teregulasi, termasuk menentukan aset kripto yang dapat diperdagangkan melalui perantara berlisensi serta menerbitkan aturan pelaksanaannya.
Bank sentral juga menetapkan persyaratan likuiditas bagi aset kripto yang dapat diperdagangkan, di antaranya memiliki kapitalisasi pasar rata-rata lebih dari 5 triliun rubel atau sekitar US$ 64 miliar serta volume perdagangan harian rata-rata di atas 1 triliun rubel atau sekitar US$ 12,8 miliar selama dua tahun.
Regulasi tersebut dijadwalkan mulai berlaku pada 1 September 2026 dan akan membentuk lima kategori pelaku pasar yang diawasi regulator, yakni bursa kripto, broker, manajer aset, kustodian, serta penyedia layanan pertukaran aset digital. Aturan ini juga menetapkan pihak-pihak yang berhak membeli, menjual, menyimpan, dan menukarkan aset kripto dalam pasar yang telah diatur.
Di Tengah Tekanan Sanksi Uni Eropa
Percepatan pembangunan infrastruktur kripto di Rusia berlangsung di tengah meningkatnya sanksi dari Uni Eropa terkait perang Rusia-Ukraina.
Pekan lalu, Uni Eropa memasukkan bursa kripto HTX, yang sebelumnya dikenal sebagai Huobi Global, ke dalam daftar entitas yang dikenai sanksi. Dewan Uni Eropa menilai HTX termasuk penyedia layanan aset kripto di luar wilayah Uni Eropa yang dinilai membantu menghindari pembatasan finansial terhadap Rusia.
Pada hari yang sama, Uni Eropa juga mengumumkan larangan bagi warga negara dan penduduk Belarus untuk memiliki, mengendalikan, atau mengelola bursa kripto maupun penyedia layanan aset digital sebagai bagian dari penerapan regulasi Markets in Crypto Assets (MiCA).
Sebelumnya, pemerintah Inggris juga telah menjatuhkan sanksi terhadap HTX pada Mei 2026 dengan alasan terdapat dugaan kuat bahwa platform tersebut mendukung pemerintah Rusia melalui layanan keuangan dan transaksi yang melibatkan entitas yang telah dikenai sanksi.
