IHSG Anjlok Hampir 2%, Analis Soroti Dua Sentimen Negatif Berikut
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah tajam pada perdagangan Jumat (24/7/2026), seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap sentimen global, mulai dari kebijakan tarif impor baru Amerika Serikat (AS) hingga memanasnya kembali konflik di Timur Tengah.
Mengacu data RTI Business hingga pukul 09.38 WIB, IHSG turun 98,48 poin atau 1,56% ke level 6.216,83. Sepanjang sesi perdagangan, bahkan indeks sempat melemah sekitar 2,09%. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp5,55 triliun dengan volume perdagangan 12,91 miliar saham.
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan, koreksi IHSG terjadi setelah reli yang berlangsung sejak awal Juli 2026. Menurutnya, investor mencermati sejumlah sentimen eksternal yang mendorong aksi jual di pasar saham.
Baca Juga
IHSG Anjlok 2% dalam 30 Menit Transaksi, Saham Big Cap Berjatuhan Dipimpin Emiten Prajogo
"Kami memperkirakan secara sentimen pergerakan IHSG dipengaruhi oleh investor yang mencermati pemberlakuan tarif impor baru dari Amerika Serikat sebesar 10-12,5% terhadap 60 mitra dagang, termasuk Indonesia," kata Herditya kepada investortrust.id, Jumat (24/7/2026).
Selain kebijakan tarif impor AS, Herditya menilai, kembali memanasnya konflik di Timur Tengah turut mendorong lonjakan harga minyak dunia hingga mendekati US$100 per barel. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap kenaikan inflasi global dan meningkatkan peluang bank-bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama (higher for longer).
Senada, riset BRI Danareksa Sekuritas menyebut harga minyak Brent bertahan di atas US$100 per barel dan berpotensi mencatat kenaikan hampir 14% dalam sepekan. Kenaikan tersebut dipicu meningkatnya risiko gangguan pasokan global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Menurut riset tersebut, ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat melanjutkan serangan terhadap Iran. Di sisi lain, Presiden Donald Trump kembali mengancam akan memberikan respons militer yang lebih besar apabila terjadi serangan lanjutan terhadap jalur pelayaran di Laut Merah.
Baca Juga
Selain itu, kelompok Houthi yang didukung Iran dilaporkan menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah, yang merupakan salah satu jalur utama ekspor energi dunia.
BRI Danareksa menilai lonjakan harga minyak berpotensi menekan nilai tukar rupiah melalui pelebaran defisit migas dan kenaikan biaya impor. Meningkatnya ketidakpastian geopolitik juga dinilai mendorong investor mengalihkan dana ke aset yang lebih aman (risk-off).
Kondisi tersebut diperkirakan memberikan tekanan terhadap emiten dengan konsumsi energi tinggi, seperti sektor semen, tekstil, dan transportasi, akibat meningkatnya biaya bahan bakar.
