IHSG Jatuh Hampir 4%, Analis Soroti Rupiah dan Kekhawatiran Ekonomi Global
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Indeks harga saham gabungan (IHSG) terperosok hampir 4% pada perdagangan Rabu, (3/6/2026). Tekanan terhadap pasar saham domestik dipicu kombinasi sentimen negatif dari dalam dan luar negeri, mulai dari pelemahan rupiah hingga meningkatnya kekhawatiran perlambatan ekonomi global.
Mengacu data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG anjlok 238 poin atau 3,85% ke level 5.966,93 pada perdagangan pagi.
Menurut Pengamat Pasar Modal Elandry Pratama, pelemahan IHSG pagi ini yang sempat mencapai lebih dari 3% dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan domestik.
“Dari eksternal, market masih dibayangi kekhawatiran perlambatan ekonomi global serta meningkatnya ketidakpastian kebijakan perdagangan yang mendorong investor mengurangi eksposur ke aset berisiko,” kata Elandry kepada investortrust.id Rabu, (3/6/2026).
Baca Juga
IHSG Intraday Sesi I Anjlok 3,57%, Saham Prajogo dan Big Bank Amblas
Sementara dari domestik, Elandry menyoroti pelemahan rupiah yang kembali mendekati level Rp 18.000 per dolar AS turut menekan sentimen pasar.
“Investor cenderung lebih berhati-hati karena pelemahan kurs berpotensi memicu capital outflow dan meningkatkan risiko terhadap emiten yang memiliki eksposur dolar AS,” ujar Elandry.
Selain itu, tekanan jual juga terlihat pada saham-saham berkapitalisasi besar yang memiliki bobot dominan terhadap pergerakan indeks. Ketika beberapa saham big caps terkoreksi secara bersamaan, dampaknya terhadap IHSG menjadi cukup signifikan.
Di sisi lain, faktor sentimen dan teknikal turut memperburuk tekanan di pasar. Penembusan level support tertentu dapat memicu aksi stop loss yang pada akhirnya meningkatkan volatilitas perdagangan.
Untuk ke depan, Elandry menilai pasar masih berpotensi bergerak volatil dalam jangka pendek.
“Namun, jika rupiah mulai stabil dan tekanan jual asing mereda, peluang technical rebound tetap terbuka. Saat ini investor sebaiknya lebih selektif, fokus pada saham berfundamental kuat, dan menjaga porsi cash untuk mengantisipasi volatilitas yang masih tinggi,” ungkap dia.

