Rupiah Melemah Seiring Penguatan Dolar dan Kekhawatiran Inflasi Global
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (29/4/2026) pagi seiring penguatan mata uang Negeri Paman Sam dan meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar menjelang keputusan suku bunga bank sentral utama dunia.
Pada perdagangan pukul 09.09 WIB, rupiah tercatat turun 0,29% ke level Rp 17.293 per dolar AS. Tekanan terhadap mata uang domestik terjadi di tengah kombinasi sentimen global yang masih kompleks, mulai perkembangan geopolitik di Timur Tengah, penguatan indeks dolar AS, hingga dimulainya rapat kebijakan Federal Reserve atau The Fed.
Baca Juga
Rupiah Menguat ke Rp 17.216 Per Dolar AS Ikuti Tren Mata Uang Asia
Pelemahan rupiah juga sejalan dengan tekanan yang dialami mayoritas mata uang Asia lainnya. Rupee India tercatat melemah 0,38%, baht Thailand turun 0,26%, peso Filipina terkoreksi 0,22%, dan won Korea Selatan turun 0,23%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menjelaskan bahwa imbal hasil obligasi Pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun atau US Treasury naik 0,60 basis poin ke level 4,35%.
Menurut dia, kenaikan yield tersebut mendorong investor kembali memburu aset berbasis dolar sehingga menekan mata uang emerging markets, termasuk rupiah.
Sentimen eksternal juga datang dari perkembangan situasi di Timur Tengah yang mulai menunjukkan tanda-tanda mereda. Kondisi ini menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut Iran telah meminta Washington mencabut blokade laut di Selat Hormuz.
Meski demikian, negosiasi untuk mengakhiri konflik disebut masih berlangsung. Pasar menilai ketidakpastian tetap tinggi karena jalur pelayaran strategis tersebut memegang peran vital dalam distribusi energi global.
Gangguan di Selat Hormuz sebelumnya memperketat pasokan energi dari Timur Tengah. Penutupan jalur ini memangkas sekitar 20% aliran minyak global dan memicu lonjakan harga energi.
Kondisi tersebut bahkan disebut Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) sebagai salah satu guncangan pasokan terbesar dalam sejarah modern. Tekanan itu ikut memperbesar risiko inflasi global.
Sejalan dengan itu, indeks dolar AS atau DXY naik tipis ke level 98,7 dan mendekati posisi tertinggi dalam tiga pekan terakhir. Penguatan dolar terjadi di tengah kekhawatiran pasar bahwa kenaikan harga minyak dapat memicu spiral inflasi baru dan mempersulit langkah bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneternya.
Gedung Putih menyatakan Trump akan merespons proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu dekat. Namun, usulan tersebut disebut belum mencakup pembahasan isu nuklir hingga situasi di kawasan Teluk mereda.
Di sisi lain, perhatian pasar kini tertuju pada rapat kebijakan dua hari The Fed yang dimulai hari ini. Pelaku pasar secara luas memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga acuannya. Konsensus saat ini belum melihat adanya ruang penyesuaian suku bunga hingga akhir tahun.
Baca Juga
Pelemahan Rupiah Disebut Bisa Berdampak pada Kenaikan Klaim Asuransi Kesehatan
Selain The Fed, Bank of England dan Bank Sentral Eropa juga dijadwalkan mengumumkan keputusan kebijakan moneternya dalam waktu dekat. Pasar uang memperkirakan peluang kenaikan suku bunga masih terbuka seawal Juni apabila tekanan inflasi global kembali meningkat.
Di kawasan Asia, Bank of Japan memilih mempertahankan suku bunga pada level saat ini. Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda juga tidak banyak memberikan petunjuk mengenai waktu kenaikan suku bunga berikutnya. Sikap tersebut menekan yen dan turut memperkuat posisi dolar AS di pasar global.

