Minyak Jatuh karena Kekhawatiran Permintaan dan Keraguan Komitmen OPEC+
NEW YORK, Investortrust.id - Harga minyak melanjutkan penurunannya pada hari Senin (4/12/2023) waktu AS, tertekan oleh skeptisisme investor terhadap keputusan terbaru OPEC+ mengenai pengurangan pasokan.
Baca Juga
Pasar juga mencermati ketidakpastian seputar permintaan bahan bakar global, meskipun risiko gangguan pasokan akibat konflik Timur Tengah membatasi kerugian.
Penurunan yang terjadi pada hari Senin menambah penurunan sebesar 2% pada minggu lalu setelah pengurangan pasokan diumumkan pada hari Kamis oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya termasuk Rusia, yang dikenal sebagai OPEC+.
Minyak mentah berjangka Brent turun 42 sen, atau 0,53%, menjadi $78,46 per barel. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate AS turun 37 sen, atau 0,5%, menjadi $73,70.
“Minyak mentah tampaknya terus berada di bawah tekanan akibat keputusan OPEC+,” kata Vandana Hari, pendiri penyedia analisis pasar minyak Vanda Insights, seperti dikutip CNBC internasional.
Pemotongan produksi OPEC+ bersifat sukarela, sehingga menimbulkan keraguan apakah produsen akan menerapkannya sepenuhnya atau tidak. Investor juga tidak yakin mengenai bagaimana pemotongan tersebut akan diukur.
Aktivitas manufaktur global yang lesu juga membebani harga.
Data terbaru menyiratkan hambatan ekonomi yang kuat yang memperkuat kekhawatiran terhadap pertumbuhan permintaan minyak, kata Tamas Varga dari pialang minyak PVM.
Pertimbangan geopolitik kembali menjadi fokus ketika pertempuran kembali terjadi di Gaza. Tiga kapal komersial diserang di perairan internasional di Laut Merah bagian selatan, kata militer AS pada Minggu.
Di tempat lain, negara-negara Barat telah meningkatkan upaya untuk menerapkan batasan harga $60 per barel pada pengiriman minyak Rusia melalui laut yang diberlakukan untuk menghukum Moskow atas perangnya di Ukraina.
Washington pada hari Jumat memberlakukan sanksi tambahan terhadap tiga entitas dan tiga kapal tanker minyak.
Baca Juga
Raja Minyak Arab Saudi Perpanjang Pengurangan Produksi hingga Kuartal Pertama 2024

