Ikuti OPEC, IEA dan UBS Pangkas Prospek Permintaan Minyak
CHICAGO, Investortrust.id - Harga minyak turun tipis pada Selasa (15/4/2025) setelah Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) mengikuti OPEC memangkas perkiraan permintaan energi, meskipun penurunan harga dibatasi rencana Presiden AS Donald Trump soal beberapa pengecualian tarif baru.
Harga minyak Brent acuan internasional turun 21 sen atau 0,32% ditutup pada US$ 64,67 per barel, dan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) acuan AS
turun 20 sen atau 0,33% menjadi US$ 61,33 per barel.
Baca Juga
Kebijakan perdagangan AS yang berfluktuasi menciptakan ketidakpastian pasar minyak global dan mendorong OPEC pada Senin (14/5/2025) menurunkan prospek permintaan.
Sejalan dengan itu, IEA memangkas perkiraan permintaan minyak global menjadi 730.000 barel per hari (bph) tahun ini dari 1,03 juta bph, serta menjadi 690.000 bph pada tahun depan, karena meningkatnya ketegangan perdagangan.
Sementara itu, bank Swiss UBS memangkas perkiraan harga Brent sebesar US$ 12 per barel menjadi US$ 68 per barel pada Selasa.
“Jika perang dagang semakin meningkat, risiko penurunan yang dihadapi -resesi AS lebih dalam dan hard landing di Tiongkok- dapat menyebabkan harga minyak Brent turun menjadi US$ 40-60 dalam beberapa bulan mendatang,” kata analis UBS Giovanni Staunovo dilansir CNBC.
Adapun BNP Paribas menurunkan ekspektasi harga rata-rata untuk tahun ini dan berikutnya menjadi US$ 58 per barel dari US$ 65.
Baca Juga
RI dan Rusia Jajaki Peluang Kerja Sama Eksplorasi Minyak dan Pembangkit Nuklir
Sementara faktor yang mendukung harga minyak adalah Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan bahwa Amerika Serikat dapat menghentikan ekspor minyak Iran sebagai bagian rencana Trump untuk menekan Teheran atas program nuklir.
Hal lain adalah data pada Senin menunjukkan bahwa impor minyak mentah China pada Maret naik hampir 5% dari tahun sebelumnya karena kedatangan minyak Iran melonjak.
Aset berisiko, seperti ekuitas dan minyak juga mendapat dukungan setelah Trump mengatakan sedang mempertimbangkan modifikasi tarif 25% pada impor mobil dari Meksiko dan negara lain.

