Bagikan

IHSG Pekan Depan Masih Dibayangi Sentimen Negatif, MAPI hingga SAME Menarik Dicermati

Poin Penting

IHSG berisiko uji support 6.917 akibat konflik Iran-AS dan harga minyak dunia.
Rupiah melemah ke Rp17.382 per dolar AS, berisiko picu capital outflow berkelanjutan.
Saham komoditas dan industri dasar tertekan rencana revisi royalti serta biaya energi.

JAKARTA, investortrust.id Indeks harga saham gabungan (IHSG) diproyeksikan masih bergerak volatile pada perdagangam Senin (11/5/2026) setelah ditutup anjlok 2,86% ke level 6.969,40 pada akhir pekan lalu.

Tekanan pasar dipicu meningkatnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz yang kembali memicu kekhawatiran investor global terhadap distribusi minyak dunia, inflasi, hingga arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat.

Analis Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana menilai kondisi pasar saat ini masih dibayangi risiko koreksi lanjutan, terutama setelah IHSG gagal bertahan di level psikologis 7.000. Menurut dia, tekanan eksternal dan derasnya aksi jual investor asing membuat sentimen pasar domestik cenderung negatif dalam jangka pendek.

“Secara teknikal, IHSG kini berada dalam fase rawan koreksi lanjutan setelah gagal mempertahankan area psikologis 7.000. Pergerakan indeks dalam jangka pendek cenderung akan menguji support penting di area 6.917. Jika level tersebut breakdown, maka IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan menuju support berikutnya di area 6.876,” ujar Hendra dalam risetnya, Minggu (10/5/2026).

Meski demikian, dia menilai peluang technical rebound masih terbuka selama level support tersebut mampu dipertahankan. “Namun selama support tersebut masih mampu dipertahankan, peluang technical rebound tetap terbuka terutama apabila tensi geopolitik mulai mereda dan harga minyak kembali stabil,” katanya.

Hendra menjelaskan, pasar saat ini sangat sensitif terhadap perkembangan konflik di Selat Hormuz karena jalur tersebut merupakan salah satu jalur utama distribusi minyak dunia. Bertahannya harga minyak Brent di atas US$100 per barel memunculkan kekhawatiran terhadap tekanan fiskal Indonesia, terutama risiko membengkaknya subsidi energi dan pelebaran defisit APBN.

Menurutnyaa, kondisi fiskal Indonesia sebenarnya memiliki kerentanan struktural meski realisasi APBN kuartal I-2026 terlihat cukup kuat. Pemerintah disebut telah menggunakan sekitar 34,8% target defisit tahunan hanya dalam tiga bulan pertama tahun ini akibat lonjakan belanja konsumsi seperti THR dan program Makan Bergizi Gratis.

Di sisi lain, pelemahan rupiah ke area Rp17.382 per dolar AS turut memperburuk sentimen pasar. Hendra mengatakan tekanan terhadap rupiah mencerminkan tingginya capital outflow dari emerging market di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Baca Juga

Saham Bank Papan Atas Topang Kenaikan IHSG 0,18% Pekan Ini, Ada BBRI hingga BBCA

“Jika The Fed kembali hawkish atau konflik Timur Tengah semakin memburuk, rupiah berpotensi bergerak menuju Rp18.000 per dolar AS. Pelemahan rupiah tentu akan meningkatkan biaya impor bahan baku industri, menaikkan beban utang berbasis dolar, dan berisiko menekan daya beli masyarakat melalui imported inflation,” ujar dia.

Selain faktor global, IHSG juga tertekan oleh aksi jual di saham-saham komoditas setelah pasar merespons negatif rencana revisi tarif royalti atau windfall profit sektor mineral dan batu bara. Investor khawatir kebijakan tersebut dapat memangkas margin keuntungan emiten tambang di tengah volatilitas harga komoditas.

Tekanan paling besar terjadi pada saham-saham nikel dan mineral seperti PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), hingga PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang mengalami koreksi tajam karena pasar mulai menghitung potensi penurunan profitabilitas apabila skema windfall tax resmi diberlakukan.

Sementara itu, sektor basic industry juga ikut tertekan akibat kenaikan biaya energi dan pelemahan rupiah. Saham-saham seperti PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP), PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM), dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) turut terkoreksi karena pasar mulai mengantisipasi kenaikan biaya produksi dan perlambatan permintaan domestik.

Di tengah tingginya volatilitas pasar, investor mulai melakukan rotasi ke saham-saham defensif dan emiten yang memiliki katalis domestik lebih kuat. Hendra merekomendasikan trading buy pada saham PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) dengan target jangka pendek di area 1.605 setelah masuknya Pacific Universal Investments sebagai pemegang saham pengendali baru.

Selain itu, saham PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) juga dinilai menarik dicermati dengan target 720 seiring potensi pemulihan konsumsi domestik. Dari sektor kesehatan, PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk (SAME) menjadi salah satu saham defensif yang layak diperhatikan dengan target harga di level 370.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024