Kinerja BTN (BBTN) Lampaui Ekspektasi, Begini Target Harga Terbaru Sahamnya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Prospek saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) kian menarik setelah berhasil cetak lonjakan laba bersih pada semester I-2026. Kinerja keuangan yang melampaui ekspektasi, pertumbuhan kredit yang solid, serta perbaikan kualitas aset menjadi katalis positif bagi pergerakan harga saham perseroan.
Hal ini mendorong KB Valbury Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham BBTN dengan target harga Rp 1.530 per saham. Dibandingkan harga penutupan kemarin sebesar Rp 1.260, target tersebut mencerminkan potensi kenaikan (upside) sekitar 21,4%.
Analis KB Valbury Sekuritas Akhmad Nurcahyadi mengatakan, valuasi saham BBTN juga dinilai masih menarik, karena saat ini diperdagangkan pada 0,5 kali price-to-book value (PBV) 2026 atau sedikit di atas level -1 standar deviasi sebesar 0,4 kali PBV.
Baca Juga
Kinerja Kuartal II Lampaui Estimasi, Target Saham BBTN Dipatok Rp 1.500 per Lembar
Dari sisi fundamental, dia mengatakan, BBTN membukukan laba bersih Rp 2,40 triliun pada semester I-2026, melonjak 40,8% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan Rp 1,70 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Realisasi tersebut melampaui ekspektasi analis maupun konsensus pasar, terutama ditopang oleh penurunan beban pencadangan (provisi) sebesar 61,3% YoY menjadi Rp 1,41 triliun.
Meski demikian, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) turun 8% YoY menjadi Rp8,59 triliun akibat penurunan pendapatan operasional. Laba operasional sebelum pencadangan (pre-provision operating profit/PPoP) juga melemah 22,8% YoY menjadi Rp4,49 triliun, dipengaruhi perlambatan pendapatan nonbunga serta kenaikan beban operasional lainnya.
Pertumbuhan kredit BBTN tetap menjadi salah satu penopang utama kinerja. Total penyaluran kredit meningkat 11,2% YoY menjadi Rp418,11 triliun, melampaui batas atas proyeksi manajemen untuk 2026. Kenaikan tersebut didorong pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR) sebesar 4,8% YoY menjadi Rp332,89 triliun, serta lonjakan kredit nonperumahan sebesar 46,1% YoY menjadi Rp85,22 triliun.
Baca Juga
Wall Street Melemah Dibayangi Lonjakan Harga Minyak dan Kekhawatiran Inflasi
Segmen KPR subsidi masih mendominasi portofolio kredit dengan kontribusi 47,1% terhadap total kredit, sedangkan KPR nonsubsidi menyumbang 27%. Di sisi lain, porsi kredit nonperumahan meningkat menjadi 20,5% dari total portofolio, naik dari 15,5% pada semester I-2025. Pertumbuhan tersebut didorong kenaikan kredit korporasi sebesar 43% YoY menjadi Rp50,96 triliun dan lonjakan kredit konsumer sebesar 160,9% YoY menjadi Rp19,62 triliun.
Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 6,6% YoY menjadi Rp433 triliun. Pertumbuhan ditopang ekspansi dana murah atau current account saving account (CASA) sebesar 6,5% YoY menjadi Rp212,78 triliun.
Strategi peningkatan porsi dana murah juga berhasil menekan biaya dana. CASA berbiaya rendah meningkat 9,1% YoY menjadi Rp140,5 triliun, sementara CASA berbiaya tinggi turun 7,9% YoY menjadi Rp35,4 triliun. Kondisi tersebut mendorong biaya dana turun menjadi 3,01% pada semester I-2026, dibandingkan 4,13% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca Juga
BTN (BBTN) Cetak Laba Bersih Rp 2,4 Triliun di Semester I 2026, Melesat 40,8%
Kualitas aset BBTN juga menunjukkan perbaikan. Margin bunga bersih (net interest margin/NIM) tetap terjaga di level 3,5%, relatif stabil dibandingkan kuartal sebelumnya. Sementara itu, cost of credit (CoC) membaik signifikan menjadi 0,7% dari 2% pada semester I-2025. Rasio kredit bermasalah bruto (gross NPL) juga turun menjadi 3% dari 3,3% pada periode yang sama tahun lalu.
“Perbaikan tersebut didukung membaiknya kualitas kredit di segmen perumahan maupun nonperumahan. Rasio NPL KPR turun menjadi 3,5% dari 3,7%, sedangkan NPL kredit nonperumahan membaik menjadi 0,9% dari 1,2%,” tulisnya.
Ke depan, dia mengatakan, potensi penguatan harga saham BBTN akan ditopang percepatan pertumbuhan dana murah, potensi repricing imbal hasil kredit yang lebih cepat, pertumbuhan kredit yang lebih kuat, serta kualitas aset yang tetap terjaga.
