Kinerja Kuartal II Lampaui Estimasi, Target Saham BBTN Dipatok Rp 1.500 per Lembar
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) dengan target harga Rp 1.500 per saham, atau mencerminkan potensi kenaikan sekitar 18,11% dari harga terakhir Rp 1.270 per saham pada perdagangan sesi II Senin, (20/7/2026).
Berdasarkan riset yang diterbitkan Senin (20/7/2026), BRI Danareksa menilai kinerja keuangan BBTN pada kuartal II-2026 melampaui ekspektasi, terutama ditopang oleh penurunan biaya kredit (cost of credit/CoC) yang lebih rendah dari perkiraan seiring membaiknya kualitas aset perseroan.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Victor Stefano menyebut laba bersih BBTN pada kuartal II-2026 mencapai Rp 1,3 triliun, naik 17% secara kuartalan (qoq) dan 61% secara tahunan (yoy). Dengan demikian, laba bersih semester I-2026 mencapai Rp 2,4 triliun, meningkat 41% yoy dan telah memenuhi 68% dari proyeksi laba sepanjang 2026 versi BRI Danareksa serta 64% dari konsensus pasar.
Kinerja tersebut didorong oleh beban pencadangan yang lebih rendah sehingga mampu mengimbangi tekanan pada profitabilitas akibat penurunan pendapatan operasional sebelum pencadangan (PPOP). Penurunan CoC juga disebut sebagai hasil dari membaiknya kualitas aset perseroan.
Baca Juga
Bos BTN (BBTN) Ungkap Dampak Akuisisi Portofolio Kredit Pensiun SMBC Indonesia (BTPN)
BRI Danareksa mencatat beban provisi turun 53% qoq dan 79% yoy pada kuartal II-2026, sementara CoC membaik menjadi 1,1%, lebih rendah 29 basis poin dibanding kuartal sebelumnya dan 177 basis poin dibanding periode yang sama tahun lalu. Perbaikan tersebut mendorong laba operasional naik 12% qoq dan 48% yoy.
Tak hanya itu, rasio kredit bermasalah (NPL) membaik menjadi 3%, sedangkan rasio loan at risk (LAR) turun menjadi 18,6%. Ke depan, BRI Danareksa memperkirakan NPL dapat turun ke kisaran 2,8%-2,9% pada akhir 2026 dan CoC bergerak di batas bawah proyeksi manajemen sebesar 1%-1,2%, didukung oleh perbaikan penagihan, potensi penjualan kredit bermasalah, serta digitalisasi proses pemulihan aset.
Baca Juga
Bos BTN Sebut Penguatan Tata Kelola dan AI Dorong Kinerja Bisnis
Meski pendapatan operasional sebelum pencadangan (PPOP) semester I-2026 turun 25% yoy menjadi Rp 4,6 triliun, penurunan tersebut dinilai lebih disebabkan oleh margin bunga bersih (NIM) yang masih tertekan. Namun, biaya dana (cost of fund/CoF) telah menunjukkan perbaikan sehingga diperkirakan akan memberikan dampak positif terhadap kinerja pada paruh kedua tahun ini.
Dengan demikian, BRI Danareksa tetap mempertahankan proyeksi kinerja dan rekomendasi buy dengan target harga Rp1.500 per saham. Valuasi tersebut didasarkan pada metode Gordon Growth Model (GGM) dengan asumsi cost of equity (CoE) 14,9%, return on equity (ROE) 9,4%, serta forward price to book value (PBV) sekitar 0,5 kali.
