IHSG Melonjak 1,29% Saat Pasar Saham Asia Ambruk, Ini Faktor Penopangnya
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 1,29% atau naik 79 poin ke level 6.187,21 pada perdagangan Jumat (17/7/2026). Penguatan indeks ditopang oleh reli saham-saham perbankan berkapitalisasi besar (big caps), seiring menguatnya nilai tukar rupiah dan optimisme investor terhadap musim rilis laporan keuangan emiten.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga pukul 15.10 WIB, nilai transaksi mencapai sekitar Rp11 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 22,30 miliar saham. Lompatan IHSG ini sejalan dengan kenaikan saham big bank, seperti BBCA naik 4,02%, BBRI menguat 4,90%, BBNI sebanyak 3,14%, BMRI naik 3,94%, BRIS naik 9,20%, dan BBTN sebanyak 4,13%.
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan penguatan IHSG sejalan dengan proyeksi teknikal yang telah disampaikan dalam riset pagi. Menurutnya, kenaikan indeks terutama didorong oleh saham-saham perbankan berkapitalisasi besar, disusul sejumlah emiten big caps lainnya.
Baca Juga
IHSG Melesat 1,33% Jelang Penutupan Terdongkrak Saham BBCA hingga BRIS
"Sentimen penguatan IHSG didorong oleh penguatan emiten-emiten perbankan khususnya bigcaps, serta oleh beberapa emiten bigcaps lainnya seperti ASII dan TLKM," kata Herditya kepada investortrust.id, Jumat (17/7/2026).
Ia menambahkan, sentimen positif juga berasal dari penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Kembalinya rupiah ke bawah level Rp18.000 per dolar AS dinilai meningkatkan optimisme pelaku pasar, terutama karena adanya potensi aliran dana asing ke saham-saham perbankan yang sedang merilis laporan keuangan semester I-2026.
"Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pun menguat, di mana saat ini sudah kembali ke bawah area Rp18 ribu serta diperkirakan adanya inflow asing kepada emiten-emiten perbankan yang sedang rilis laporan keuangan," ujarnya.
Baca Juga
MSCI Ubah Metodologi Seleksi Saham, Apa Dampaknya bagi Emiten?
Sementara itu, Pengamat Pasar Modal Elandry Pratama menilai penguatan IHSG pada perdagangan hari ini lebih banyak dipengaruhi faktor domestik. Menurutnya, reli saham-saham Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) menjadi motor utama kenaikan indeks.
Selain itu, penerapan High Shareholding Concentration (HSC) juga dinilai memberikan sentimen positif karena meningkatkan persepsi terhadap transparansi dan pengawasan pasar.
"Menurut saya, penguatan IHSG hari ini lebih banyak didorong oleh faktor domestik, terutama kenaikan saham-saham perbankan Himbara yang menjadi motor utama indeks. Selain itu, sentimen positif juga datang dari penerapan HSC yang memberikan persepsi adanya peningkatan transparansi dan pengawasan pasar, sehingga membantu memperbaiki market sentiment investor," kata Elandry.
Baca Juga
Didorong Hal Ini, Pembiayaan BSI (BRIS) Tumbuh 14,6% Jadi Rp 335 Triliun per Mei 2026
Secara teknikal, Elandry menilai kenaikan IHSG mencerminkan technical rebound setelah indeks mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut mendorong investor kembali melakukan akumulasi, khususnya pada saham-saham berkapitalisasi besar yang memiliki likuiditas tinggi.
"Kenaikan hari ini juga bisa dilihat sebagai technical rebound setelah IHSG mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir. Investor mulai melakukan akumulasi kembali, terutama pada saham-saham big caps yang memiliki likuiditas tinggi seperti sektor perbankan," ujarnya.
Meski demikian, Elandry mengingatkan investor untuk tetap mencermati sejumlah faktor eksternal yang masih berpotensi memengaruhi pergerakan IHSG. Menurutnya, sebagian besar sentimen negatif sebelumnya telah tercermin dalam harga saham sehingga membuka ruang pemulihan ketika muncul katalis positif. Ia menyebut pergerakan bursa global, arah suku bunga The Fed, nilai tukar rupiah, serta potensi perubahan foreign flow masih menjadi faktor yang dapat memengaruhi volatilitas pasar ke depan.
