Bumi Resources Raih Pendapatan US$ 3.304 Juta
JAKARTA, investortrust.id -- PT Bumi Resources Tbk meraih pendapatan US$ 3.303,6 juta secara konsolidasi pada semester pertama (H1) tahun 2023 atau turun sebesar US$ 508,8 juta (-13,3%) dibandingkan periode sama 2022 sebesar US$ 3.812,4 juta.
“Pendapatan di H1-2023 adalah sebesar US$ 3.303,6 juta vs US$ 3.812,4 juta, turun 13,3% YoY lantaran kondisi hujan deras yang terus menerus (La Nina). Upaya terbaik telah dilakukan dengan mengendalikan biaya yang sebagian besar disebabkan oleh kenaikan harga bahan bakar,” kata Dileep Srivastava, Director & Corporate Secretary PT Bumi Resources Tbk, dalam keterbukaan informasi yang dikutip Sabtu (29/07/2023).
Pada semester pertama 2023 total royalti yang dibayarkan secara konsolidasi besarnya mencapai US$ 1.030,6 juta, dan ini setara dengan 31,2% pendapatan kotor sebesar US$ 3.303,6 juta.Royalti meningkat 14% pada penjualan domestik dan hingga 28% pada ekspor, yang mulai berlaku 1 Januari 2022 – di anak perusahaan KPC dan Arutmin.
Dia menjelaskan, Bumi memberikan kontribusi royalti sebesar Rp 15,6 triliun dari total royalti yang diterima negara sebesar Rp 78,5 triliun pada H1-2023. “Angka itu 19,9% dari total royalti yang dikumpulkan negara selama priode tersebut, merupakan kontribusi terbesar secara nasional,” ujar Dileep.
Selain itu, Bumi memberikan 10% profit sharing dari net income kepada pemerintah pusat dan pemerintah daerah, pajak perusahaan dan kewajiban-kewajiban lain, mensubsidi harga batubara untuk pasar domestik, menerapkan ESG, penurunan emisi dan penghijauan, serta memfinalisasi kerangka kerja untuk dekarbonisasi pada 2030.
Sementara itu, laba usaha Bumi turun 73,2% menjadi US$ 249,6 juta dibandingkan periode sama tahun 2022 sebesar US$ 931,2 juta (yoy). Laba sebelum pajak sebesar US$ 223,5 juta dibandingkan US$ 788,3 juta pada periode sama 2022.
“Total laba turun menjadi US$ 150,1 juta vs US$ 418,8 juta YoY - yang diatribusikan ke Bumi sebesar US$ 81,8 juta (vs US$ 167,7 juta YoY) – turun 51,2% vs H1-2022,” katanya.
Dari sisi kinerja operasional, perseroan melaporkan Overburden Removed (mbcm) sebesar 355 atau naik 16% dibandingkan H1-2002 sebesar 306 dan Strip Ratio 10.0 vs 8.9. Hal ini disebabkan batubara yang ditambang lebih sedikit karena hujan, sedangkan dalam cuaca yang lebih kering, produksi dapat meningkat.
Batubara yang Ditambang mencapai 35.4 metrik ton (MT) vs 34.5 MT atau naik 2%, penjualan batubara sebesar 34.6 MT vs 33.8MT (naik 2%), harga FOB sebesar US$ 93.2/t vs US$ 110.9/t (turun 16%), dan Inventori 4.4 MT vs 2.1 MT.
“Penurunan harga FOB sebesar 16% merupakan tren penurunan sejak tahun lalu, namun masih ada potensi kenaikan karena situasi geopolitik,” ujar Dileep.
Overburden removed meningkat sebesar 16% lebih tinggi dari H1-2022, sementara Batubara yang Ditambang dan Penjualan Batubara meningkat 2% YoY.
Untuk tahun 2023, perseroan manetapkan targetproduksi sebesar 75 MT hingga 80 MT, harga perkiraan rata-rata US$ 95/t hingga US$ 105/t, dan biaya kas roduksi sekitar US$ 60/t hingga US$ 62/t.
