IHSG Berpeluang Tembus 6.100 usai S&P Pertahankan Peringkat Utang Indonesia di Level BBB
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berpotensi lanjtukan penguatan hingga menembus level 6.100 setelah sentimen positif dari keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat utang Indonesia di level BBB dengan outlook stable.
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana mengatakan, keputusan S&P telah menjadi katalis utama penopang penguatan IHSG 1,92% hingga kembali menembus level psikologis 6.000 pada penutupan perdagangan Senin (13/7/2026).
"Berita positif dari S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat utang Indonesia di level BBB dengan outlook stable menjadi katalis utama yang mendorong IHSG menguat 1,92% hingga kembali menembus level psikologis 6.000," kata Hendra kepada investortrust.id, Senin (13/7/2026).
Baca Juga
Sentimen S&P Angkat IHSG ke Atas 6.000, Investor Asing Berpotensi Kembali Masuk
Menurut Hendra, keputusan tersebut menunjukkan lembaga pemeringkat internasional masih menilai fundamental ekonomi Indonesia kuat, mulai dari kemampuan menjaga stabilitas fiskal, ketahanan sektor keuangan, hingga prospek pertumbuhan ekonomi jangka menengah.
Ia menambahkan, kepastian tidak adanya penurunan peringkat maupun perubahan outlook menjadi sentimen positif bagi pelaku pasar yang sebelumnya mengkhawatirkan potensi revisi negatif di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Secara teknikal, Hendra menilai, keberhasilan IHSG kembali berada di atas level 6.000 membuka peluang penguatan menuju area resistance psikologis di kisaran 6.080-6.100.
"Keberhasilan IHSG kembali berada di atas level 6.000 membuka peluang untuk melanjutkan penguatan menuju resistance psikologis di kisaran 6.080-6.100. Bahkan apabila didukung peningkatan volume transaksi dan berkurangnya tekanan jual asing, ruang kenaikan masih dapat berlanjut," ujarnya.
Baca Juga
Net Sell Berlanjut Rp 437,67 Miliar, Pemodal Asing Lepas Saham BBCA hingga TINS
Meski demikian, Hendra mengingatkan, investor untuk tetap mencermati area support kuat di kisaran 5.887. "Selama IHSG mampu bertahan di atas level tersebut, tren pemulihan jangka pendek masih dinilai terjaga. Sebaliknya, apabila tekanan eksternal semakin meningkat dan arus keluar dana asing berlanjut, volatilitas pasar berpotensi kembali meningkat," jelasnya.
Di sisi lain, Hendra menilai penguatan IHSG belum sepenuhnya mencerminkan masuknya dana asing secara agresif. Hal ini ditunjukkan berlanjutnya net seel saham oleh pemodal asing sekitar Rp 412 miliar hari ini yang menunjukkan sebagian investor global masih memilih bersikap hati-hati.
Menurutnya, kehati-hatian tersebut dipengaruhi sentimen eksternal, terutama meningkatnya konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu lonjakan harga minyak dunia setelah muncul isu penutupan Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi energi terpenting di dunia.
Baca Juga
S&P Global Ratings Pertahankan Peringkat Kredit Indonesia BBB dengan Outlook Stabil
Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah hingga kisaran Rp18.100 per dolar AS juga menjadi faktor yang membuat investor asing belum sepenuhnya meningkatkan eksposur pada aset domestik.
Ke depan, Hendra menilai arah pergerakan pasar tidak hanya ditentukan oleh sentimen domestik, tetapi juga perkembangan global, terutama dinamika konflik Timur Tengah, pergerakan harga minyak, arah suku bunga Amerika Serikat, serta musim laporan keuangan emiten global yang dimulai pekan ini.
Sementara dari dalam negeri, investor akan mencermati stabilitas nilai tukar rupiah, inflasi, serta konsistensi kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas pasar keuangan.
