Rupiah Menguat ke Rp18.093 per Dolar AS, S&P Tegaskan Peringkat Indonesia BBB Stabil
JAKARTA, investortrust.id – Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (14/7/2026), di tengah perkembangan situasi Timur Tengah yang masih labil dan perhatian pasar terhadap prospek kebijakan moneter AS.
Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 09.20 WIB, rupiah menguat 0,09% menjadi Rp18.093 per dolar AS. Pergerakan mata uang Asia berlangsung bervariasi. Yen Jepang menguat 0,04%, dolar Singapura naik 0,02%, dan won Korea Selatan menguat 0,21%. Sebaliknya, yuan China melemah 0,04%, ringgit Malaysia turun 0,23%, rupee India melemah 0,31%, dan dolar Hong Kong turun tipis 0,01%.
Baca Juga
Di Tengah Pelemahan Bursa Asia, IHSG Melesat 0,67% Pagi Ini Berkat Reli Saham Berikut
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, mengatakan indeks dolar AS (DXY) berada di level 101 seiring investor mencermati perkembangan di Timur Tengah serta mengevaluasi prospek kebijakan moneter AS.
Menurutnya, aksi saling serang terbaru antara Amerika Serikat dan Iran, ditambah laporan yang saling bertentangan mengenai status Selat Hormuz, telah mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Di sisi lain, pelaku pasar juga menantikan rilis Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI) Amerika Serikat pada pekan ini sebagai petunjuk terbaru mengenai arah inflasi. Investor juga mencermati kesaksian Ketua The Fed, Kevin Warsh, di hadapan Kongres untuk memperoleh sinyal tambahan terkait arah kebijakan suku bunga.
Baca Juga
Emas Antam (ANTM) Melemah, Sentimen Trump dan The Fed Tekan Harga
Saat ini, pasar memperkirakan setidaknya akan terjadi satu kali kenaikan suku bunga The Fed pada tahun ini, dengan probabilitas kenaikan pada September 2026 sekitar 71%. Sementara itu, dolar AS bergerak melemah terhadap euro setelah laporan Reuters menyebutkan Jepang belum memiliki rencana dalam waktu dekat untuk mengubah alokasi aset dana pensiun negaranya.
Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari S&P Global Ratings yang kembali mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan outlook stabil. Keputusan tersebut mencerminkan keyakinan terhadap ketahanan pertumbuhan ekonomi Indonesia, pengelolaan fiskal yang dinilai hati-hati, serta berlanjutnya reformasi struktural.
S&P juga memperkirakan perekonomian Indonesia masih mampu tumbuh sekitar 5% dalam beberapa tahun ke depan. Lembaga pemeringkat tersebut menilai volatilitas pasar keuangan belakangan ini lebih banyak dipengaruhi tekanan eksternal dan risiko implementasi kebijakan dibandingkan pelemahan fundamental makroekonomi.
Penegasan peringkat tersebut memperkuat status Indonesia sebagai negara investment grade dan mendukung pasar obligasi pemerintah. Namun, dalam jangka pendek, S&P menilai sentimen pasar masih akan dipengaruhi kredibilitas kebijakan, arus modal, dinamika sektor eksternal, serta stabilitas nilai tukar rupiah yang akan menjadi faktor utama dalam prospek peringkat Indonesia ke depan.
