BEI Evaluasi Target 50 IPO Saham di 2026, Utamakan Kualitas Emiten Baru
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) masih mengevaluasi target 50 perusahaan yang mencatatkan saham melalui initial public offering (IPO) saham sepanjang 2026. Saat ini dinilai masih terlalu dini untuk menyimpulkan pencapaian target, karena kondisi pasar hingga akhir tahun masih berpotensi berubah.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI Saidu Solihin mengatakan, target yang ditetapkan direksi BEI merupakan program kerja untuk satu tahun penuh. Karena itu, BEI masih mencermati perkembangan pasar sebelum memutuskan apakah target tersebut perlu direvisi.
Baca Juga
Sucor Sekuritas Siapkan Dua IPO Saham Semester II-2026, Intip Emitennya dan Target Dana
"Waktu masih berjalan lah kita lihat, tapi kalau kita berjuang, kita bisa dapet trust secepat mungkin, kondisi juga membaik geopolitik dan segala macemnya support, rasa-rasanya kita harus melihat ke depan tetap optimis. Masalah nanti tercapai atau engga kan akhir tahun. Kita lagi diskusikan apakah kita akan revisi atau engga dan belum ada keputusan," kata Saidu kepada wartawan di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (9/7/2026).
Hingga kini, enam perusahaan telah resmi mencatatkan saham di BEI sepanjang 2026. Jumlah tersebut dijadwalkan bertambah menjadi tujuh emiten setelah satu perusahaan melakukan pencatatan saham pada Jumat (10/7/2026).
Menurut Saidu, pasar modal Indonesia saat ini masih berupaya memulihkan kepercayaan investor, baik domestik maupun global. Karena itu, BEI lebih mengutamakan kualitas perusahaan yang akan melantai di bursa dibandingkan sekadar mengejar jumlah IPO. "Kita coba untuk lakukan emiten-emiten yang berkualitaslah yang akan masuk ke Bursa, menjadi emiten kita," ujarnya.
Baca Juga
BEI: Sebanyak 327 Emiten Belum Penuhi Ketentuan Free Float 15% hingga Mei 2026
Hingga 9 Juli 2026, dia menyampaikan, terdapat lima perusahaan yang telah mencatatkan saham melalui IPO dengan total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp1,67 triliun.
Saidu menegaskan, keberhasilan pasar perdana tidak hanya diukur dari jumlah emiten baru maupun nilai dana yang berhasil dihimpun, tetapi juga dari kualitas perusahaan yang masuk ke pasar modal. "Lebih kepada kualitas perusahaan yang masuk ke pasar modal, baik dari sisi fundamental, tata kelola, maupun kesiapannya menjadi perusahaan terbuka," jelasnya.
Baca Juga
Sementara itu, hingga saat ini pipeline IPO saham masih berisi enam perusahaan. Berdasarkan klasifikasi aset sesuai POJK Nomor 53/POJK.04/2017, terdiri atas dua perusahaan dengan aset skala kecil di bawah Rp50 miliar, satu perusahaan dengan aset skala menengah Rp50 miliar-Rp250 miliar, serta tiga perusahaan dengan aset skala besar di atas Rp250 miliar.
Dari sisi sektor, pipeline IPO saham didominasi perusahaan healthcare sebanyak dua perusahaan. Selebihnya masing-masing berasal dari sektor basic materials satu perusahaan, consumer cyclicals dua perusahaan, dan consumer non-cyclicals satu perusahaan.
