Menakar IPO Terbaik 2025 di BEI: Antara Kualitas Emiten dan Ujian Pasar
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Tahun 2025 menjadi salah satu periode paling atraktif bagi pasar saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) di tengah dinamika pasar yang masih diwarnai volatilitas. Di balik kondisi tersebut, aktivitas penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) justru menunjukkan karakter yang semakin selektif, dengan penekanan pada kualitas emiten dan daya serap investor.
Sepanjang 2025, total terdapat 26 emiten yang mencatatkan aksi korporasi IPO di BEI. Pada Januari, delapan emiten melantai, yakni PT Asuransi Digital Bersama Tbk (YOII), PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), PT Kentanix Supra International Tbk (KSIX), PT Hero Global Investment Tbk (HGII), PT Raja Roti Cemerlang Tbk (BRRC), PT Delta Giri Wacana Tbk (DGWG), PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK), dan PT Brigit Biofarmaka Teknologi Tbk (OBAT).
Selanjutnya pada Maret, terdapat tiga emiten, yaitu PT Sinar Terang Mandiri Tbk (MINE), PT Jantra Grupo Indonesia Tbk (KAQI), serta PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI). Aksi IPO berlanjut pada April oleh dua emiten, yakni PT Fore Kopi Indonesia Tbk (FORE) dan PT Medela Potentia Tbk (MDLA), disusul satu emiten pada Mei, yaitu PT Cipta Sarana Medika Tbk (DKHH).
Memasuki Juli, terdapat delapan emiten yang tercatat, meliputi PT Asia Pramulia Tbk (ASPR), PT Pancaran Samudera Transport Tbk (PSAT), PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN), PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), PT Prima Multi Usaha Indonesia Tbk (PMUI), PT Trimitra Trans Persada Tbk (BLOG), PT Merry Riana Edukasi Tbk (MERI), dan PT Diastika Biotekindo Tbk (CHEK).
Sementara itu, pada September tercatat PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), pada November PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk (PJHB), serta pada Desember masing-masing PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) dan PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA).
Secara keseluruhan, hingga 19 Desember 2025, sebanyak 26 perusahaan telah mencatatkan saham di BEI dengan total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp 18,11 triliun. Meski secara jumlah lebih sedikit dibanding tahun sebelumnya, nilai penghimpunan dana justru menunjukkan peningkatan kualitas IPO.
Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, memandang dinamika IPO 2025 menunjukkan pergeseran yang jelas dari sisi kuantitas menuju kualitas.
“Kalau total IPO 2025 lebih dikit jika dibandingkan dengan tahun 2024. Tapi dana yang terhimpun dalam IPO tahun 2025 ini lebih besar, lebih tinggi, lebih banyak berbandingkan dengan tahun 2024. Secara kuantitas memang lebih turun, tapi kalau secara quality (kualitas) lebih meningkat,” ujar Nafan saat dihubungi investortrust.id, baru-baru ini.
Baca Juga
Sektor Keuangan Dominasi Pipeline IPO BEI 2026, Ada Bank Jakarta?
Menurut dia, kondisi tersebut turut mendorong minat investor ritel tetap terjaga, tercermin dari tingginya tingkat oversubscribe pada sejumlah IPO. Terlebih menurutnya IPO 2025 cenderung berpihak pada investor ritel dengan kualitas emiten yang relatif lebih baik.
Ia juga menambahkan, secara umum kinerja emiten yang melantai di 2025 menunjukkan perbaikan fundamental. "Kinerja emiten yang IPO itu rata-rata bagus. Walaupun sebenarnya juga terdapat valuasi yang premium, tapi setidaknya secara kinerja sudah bagus. Anggap saja misalnya dari sebelumnya net loss sudah mencapai net profit misalnya,” jelas Nafan.
Dari sisi sektoral, Nafan menyoroti sejumlah saham yang menarik perhatian investor. Ia menilai PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) sebagai salah satu emiten yang paling menarik perhatian pasar. Selain itu, saham PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN) juga dinilainya memiliki daya tarik tersendiri.
Selain itu, sektor komoditas, khususnya emas, dinilai memiliki daya tarik tersendiri di tengah ketidakpastian global. “Kalau misalnya komoditas saya rasa sih, EMAS ya, karena harga emas kan mengalami tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) emas dunia ya, seperti itu, akibat dari faktor uncertainties,” kata Nafan.
Sependapat dengan Nafan, Analis Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai kualitas IPO 2025 secara umum lebih baik dari sudut pandang investor ritel. Menurut dia, peningkatan terlihat dari keterbukaan informasi, struktur penawaran, serta kehadiran emiten dengan skala bisnis yang lebih besar dan relevan dengan tren ekonomi digital serta konsumsi domestik.
"Namun, perbaikan kualitas tersebut juga diiringi risiko yang lebih nyata. Valuasi awal banyak emiten dinilai sudah cukup agresif sejak harga IPO, sehingga margin of safety bagi investor ritel menjadi lebih sempit. Dalam kondisi ini, pasar IPO 2025 dinilai lebih ramah bagi investor yang selektif, tetapi berisiko bagi investor yang hanya ikut-ikutan (FOMO)," kata Hendra kepada investortrust.id.
Ia mencontohkan saham-saham seperti BRRC, KAQI, PJHB, dan beberapa emiten lain yang bergerak di bawah harga IPO sebagai bukti bahwa pasar kini lebih cepat menghukum emiten dengan cerita bisnis lemah atau valuasi terlalu mahal.
Indikator suksesnya IPO
Dalam pandangan Hendra, indikator utama untuk menilai IPO terbaik versi investor ritel kini semakin jelas, mulai dari cerita bisnis yang sederhana namun memiliki arah pertumbuhan nyata, penggunaan dana IPO yang produktif, likuiditas perdagangan yang sehat, valuasi yang masuk akal, hingga dukungan pemegang saham pengendali dan institusi.
Dari sisi sektor, IPO 2025 menunjukkan daya tarik kuat pada sektor teknologi finansial, konsumsi, dan sumber daya berbasis cerita pertumbuhan. "Saham-saham seperti COIN, RLCO, CDIA, RATU, FORE, CBDK, dan MINE dinilai mencatatkan kinerja luar biasa karena berhasil menggabungkan sentimen sektor, likuiditas tinggi, dan narasi pertumbuhan agresif, meski sebagian bergerak sangat spekulatif," jelas Hendra.
Di tengah spektrum antara IPO yang meledak dan IPO yang boncos, PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) menempati posisi yang relatif sehat. SUPA melantai dengan harga IPO Rp 635 dan sempat mencapai level tertinggi Rp 1.230, atau melonjak sekitar 93,7%. Seiring waktu, saham ini mengalami normalisasi harga dan kini berada di level Rp 925, masih naik sekitar 45,7% dibanding harga IPO.
"Koreksi tersebut mencerminkan fase wajar saham IPO, dipicu oleh aksi ambil untung investor jangka pendek dan pengujian valuasi terhadap realisasi kinerja. Selama harga bertahan jauh di atas level IPO, struktur SUPA dinilai masih sehat dan mencerminkan kepercayaan pasar yang lebih rasional," tuturnya.
Jika ditarik benang merah, ucap Hendra, IPO 2025 mengajarkan bahwa IPO bukanlah tujuan akhir, melainkan titik awal seleksi pasar. Saham yang naik tinggi belum tentu berkelanjutan tanpa kinerja, sementara saham yang terkoreksi belum tentu gagal jika bisnisnya mampu tumbuh.
Senada, Pengamat Pasar Modal Reydi Octa turut berkomentar kualitas IPO 2025 menunjukkan perbaikan signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ia menilai regulator dan penyelenggara lebih ketat dan selektif dalam menyaring emiten, sementara investor ritel menjadi lebih rasional dan berhati-hati.
"IPO 2025 lebih ramah karena penyelenggara dan regulator menyaring lebih ketat emiten-emiten bakal IPO. Investor ritel punya informasi yang lebih luas, dan mayoritas yang go public memiliki model bisnis yang jelas dan memiliki potensi profitabilitas," ungkap Reydi.
Meski demikian, risiko tetap mengintai, terutama dari sisi valuasi tinggi, likuiditas, serta narasi yang masih memicu perilaku FOMO di kalangan investor.
Ia menekankan pentingnya memperhatikan valuasi rasional, potensi laba dan arus kas, rekam jejak manajemen, serta struktur kepemilikan saham. Dari sisi sektor, Reydi menilai sektor energi dan terbarukan, serta emas dan logam, akan terus menarik perhatian investor seiring transisi energi global dan tingginya harga komoditas di tengah ketidakpastian ekonomi.

