BEI Pangkas Target IPO Saham di 2026, OJK Minta Fokus Emiten Berkualitas
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa penyesuaian target jumlah penawaran umum perdana saham (IPO) menjadi 50 perusahaan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) lebih mencerminkan upaya penguatan kualitas emiten, bukan semata-mata mengejar kuantitas.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi menyampaikan bahwa OJK bersama BEI menekankan agar emiten yang melakukan IPO memiliki fundamental yang kuat, tata kelola yang baik, serta keberlanjutan usaha yang memadai.
Baca Juga
Mansek Siapkan 4–5 IPO Besar di 2026, Satu Emiten Super Lighthouse
“OJK bersama BEI menekankan agar emiten yang melakukan IPO memiliki fundamental yang kuat, tata kelola yang baik, serta keberlanjutan usaha yang memadai, sehingga kredibilitas emiten tetap terjaga dan kepentingan investor terlindungi,” ujar Inarno dalam pernyataan tertulisnya, dikutip Senin (15/12/2025).
Inarno menambahkan, terdapat sejumlah calon emiten yang memilih menunggu momentum pasar yang lebih tepat untuk merealisasikan rencana IPO. Pertimbangan tersebut dilakukan dengan mencermati kondisi pasar serta strategi bisnis masing-masing perusahaan.
“OJK memandang dinamika ini sebagai bagian dari proses pendalaman pasar yang sehat dan berorientasi jangka panjang,” tambahnya.
Baca Juga
Superbank (SUPA) Tetapkan Harga IPO Rp 635 per Saham, Listing Pekan Depan
Sebagaimana diketahui, BEI sebelumnya menargetkan 66 perusahaan dapat melantai di bursa melalui IPO pada 2025. Namun, untuk 2026 BEI menargetkan sebanyak 50 perusahaan. Hingga pertengahan Desember 2025, tercatat baru 25 perusahaan yang telah melaksanakan IPO, sementara 12 perusahaan lainnya masih berada dalam antrean pipeline.
Meski target jumlah IPO diturunkan, BEI justru menaikkan target perusahaan lighthouse dengan nilai aset di atas Rp 3 triliun menjadi enam perusahaan. Adapun kriteria lighthouse meliputi perusahaan dengan aset lebih dari Rp 3 triliun, free float minimal 15%, serta nilai IPO minimal Rp 700 miliar.

