Samuel Sekuritas: Fiskal Indonesia Masih Terjaga, Pasar Tunggu Keputusan MSCI
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Deputy President Director PT Samuel Sekuritas Suria Dharma menilai kondisi fiskal Indonesia masih terjaga pada semester I-2026. Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang tetap solid ini akan menjadi sentimen positif bagi pasar.
"Jadi itu menurut saya cukup positif juga (bagi pasar)," kata Suria dalam diskusi Membedah Resiliensi dan Kredibilitas Ekonomi-Fiskal di Jakarta, Kamis (9/7/2026).
Berdasarkan data APBN semester I-2026, pendapatan negara mencapai Rp1.459,4 triliun atau setara 46,3% dari target. Secara tahunan, pendapatan negara tercatat tumbuh 21,4%.
Baca Juga
Purbaya Naikkan Defisit APBN 2026 Jadi 2,85% dari PDB, Penerimaan Pajak Bakal Tak Sesuai Target
Suria mengatakan, pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh penerimaan perpajakan yang mencapai Rp1.187,8 triliun atau 44,1% dari target.
Menurutnya, capaian tersebut mengejutkan pasar, mengingat sebelumnya penerimaan pajak sempat menghadapi tantangan akibat implementasi sistem Coretax. "Ternyata dalam dua bulan terakhir ini cukup bagus. Ini yang membuat pencapaian pendapatan perpajakan itu bagus," ujarnya.
Selain dari perpajakan, Suria menyoroti kinerja Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) hingga semester I-2026 mencapai Rp271 triliun atau 59% dari target.
Ia menilai pemerintah mampu untuk menjaga pertumbuhan PNBP meski tidak lagi memperoleh dividen dari badan usaha milik negara (BUMN). "Tapi, ternyata kalau dilihat di situ naik sebesar 21,6% (secara tahunan)," katanya.
Suria menambahkan, salah satu penopang penerimaan pajak berasal dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang mencapai Rp315,7 triliun atau meningkat 41,3% per Mei 2026. "Jadi ini indikasi bahwa ada household consumption yang naik," ujarnya.
Baca Juga
Dengan kondisi fiskal yang dinilai masih kuat, Suria menilai pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam beberapa bulan terakhir tidak bisa dikaitkan secara langsung dengan kondisi APBN.
Ia mencatat, sejak awal tahun aliran dana asing secara keseluruhan masih mencatatkan arus masuk sebesar Rp103,1 triliun. Dana tersebut berasal dari investasi di Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp7 triliun dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebesar Rp169,7 triliun. Sementara itu, pasar modal masih mencatat arus dana keluar sebesar Rp73,6 triliun. "Jadi overall sebetulnya masih positif. Tapi, memang isunya adalah di pasar modal," kata Suria.
Menurutnya, perhatian pelaku pasar saat ini masih tertuju pada keputusan Morgan Stanley Capital Index (MSCI) terhadap pasar modal Indonesia. Suria mengatakan, kondisi tersebut membuat pasar belum memperoleh tambahan katalis, termasuk dari penambahan emiten, perubahan free float, maupun peningkatan status pasar. "Karena jadi memang kalau tidak ada upgrade juga berpengaruh terhadap saham-saham yang sebetulnya harusnya bisa stay," ujarnya.
