Prospek Emiten Logam Solid di Tengah Tekanan Biaya, Ini Saham Pilihannya Dipimpin TINS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Prospek saham emiten sektor pertambangan logam (metal mining) masih menarik hingga paruh kedua 2026, meski tekanan biaya produksi diperkirakan membuat margin laba emiten menyempit pada kuartal II-2026.
Hal ini mendorong BRI Danareksa Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi overweight saham sektor logam dengan pilihan utama saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM).
Baca Juga
Trump Ancam Bombardir Iran, Harga Minyak Brent Melonjak Dekati US$ 80
Dalam riset terbarunya, Analis BRI Danareksa Sekuritas Andhika Audrey dengan kotributor Taufan Fadhillah memperkirakan pendapatan sektor pertambangan logam pada kuartal II-2026 mencapai US$ 4,5 miliar atau tumbuh 12% secara kuartalan (qoq) dan melonjak 38% secara tahunan (yoy).
Pertumbuhan pendapatan tersebut bukan berasal dari pemulihan volume produksi secara menyeluruh, melainkan lebih didorong kenaikan harga komoditas, waktu pengakuan penjualan, pergerakan persediaan, serta bauran produk. Sebaliknya margin berpotensi turun akibat meningkatnya biaya bahan bakar dan sulfur serta melemahnya penyerapan biaya tetap.
“Margin keuntungan diperkirakan mengalami normalisasi. Margin laba kotor diproyeksikan turun menjadi 26,0% dari 27,3% pada kuartal sebelumnya, sementara margin laba operasional turun menjadi 21,7% dari 23,6%, dan margin laba bersih melemah menjadi 16,0% dari 17,4%,” tulis riset tersebut.
Terkait emiten dengan tingkat pertumbuhan laba paling pesat, BRI Danareksa menempatkan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) teratas dengan proyeksi kenaikan laba bersih 63% secara kuartalan. Sedangkan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) diperkirakan meningkat 44%.
Berdasarkan prospek laba kuartal II-2026, urutan emiten yang dinilai memiliki momentum terbaik adalah AMMN, INCO, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), ANTM, dan PT Timah Tbk (TINS).
Baca Juga
Inflasi dan Perang Iran Bikin Pejabat The Fed Terpecah soal Suku Bunga
Namun, untuk prospek hingga semester II-2026, BRI Danareksa Sekuritas mengunggulkan ANTM, disusul TINS, AMMN, INCO, NCKL, MBMA, dan BRMS. “Perubahan peringkat tersebut didasarkan pada pertimbangan kepastian pencapaian laba, perlindungan terhadap risiko kebijakan, serta visibilitas eksekusi bisnis,” terangnya.
BRI Danareksa mencatat ANTM dan TINS masing-masing telah mencapai sekitar 66% dan 77% dari target laba bersih tahun 2026, sehingga dinilai memiliki ruang yang lebih besar untuk menghadapi normalisasi kinerja pada paruh kedua tahun ini. Sementara itu, AMMN dan INCO masih memerlukan konsistensi eksekusi agar target laba tahunan dapat tercapai.
Dengan sejumlah factor tersebut, BRI Danareksa Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi beli saham logal dengan target harga saham AMMN Rp 6.000, ANTM dengan target harga Rp 4.800, INCO dengan target harga Rp 8.000, BRMS dengan target harga Rp 1.100, MBMA dengan target harga Rp 880, NCKL dengan target harga Rp 1.300, dan TINS dengan target harga Rp 4.500.
