Saham Bach Multi (BACH) Melesat 24,43% di Hari Perdana, Target Pendapatan Rp 3 Triliun
JAKARTA, investortrust.id – PT Bach Multi Global Tbk (BACH) menargetkan pendapatan lebih dari Rp3 triliun pada 2030 setelah resmi mencatatkan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (10/7/2026). Target tersebut akan didukung ekspansi bisnis penyewaan pembangkit listrik, pengembangan energi baru, serta penguatan proyek infrastruktur telekomunikasi.
Pada hari pertama perdagangan, saham BACH dibuka langsung menyentuh Auto Reject Atas (ARA) setelah melonjak 24,43% ke level Rp 550 dari harga penawaran umum perdana (IPO) sebesar Rp 442 per saham.
Manajemen memproyeksikan pendapatan Perseroan meningkat dari sekitar Rp1,73 triliun pada 2025 menjadi lebih dari Rp3 triliun pada 2030, atau tumbuh rata-rata sekitar 12% per tahun. Sementara itu, laba bersih diperkirakan naik sekitar 158% menjadi sekitar Rp401 miliar pada akhir periode tersebut.
Baca Juga
BACH dan EMMI Listing Perdana Saham Pagi Ini, Intip Kinerja Keuangan dan Prospek Usaha Ini
Perseroan menyatakan pertumbuhan kinerja akan ditopang oleh ekspansi bisnis power solution, peningkatan proyek infrastruktur telekomunikasi, efisiensi operasional, serta penurunan beban keuangan setelah memperoleh dana hasil IPO.
Untuk mencapai target tersebut, BACH berencana menambah kapasitas penyewaan pembangkit listrik hingga 50 MW per tahun, mengembangkan lini bisnis energi baru, meningkatkan proyek pembangunan jaringan telekomunikasi, memperbesar pendapatan berbasis kontrak jangka panjang (recurring income), serta melakukan transformasi operasional melalui digitalisasi dan peningkatan kualitas layanan kepada pelanggan.
Sebelumnya, BACH menawarkan 615 juta saham baru atau setara 15,06% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO dengan harga Rp442 per saham. Melalui aksi korporasi tersebut, BACH berhasil menghimpun dana sebesar Rp307,5 miliar.
Sekitar 70% dana hasil IPO akan digunakan sebagai modal kerja, terutama untuk pembelian genset guna memenuhi kebutuhan penjualan dan penyewaan. Adapun sekitar 30% sisanya akan digunakan untuk membayar sebagian pinjaman bank sehingga memperkuat struktur permodalan sekaligus menurunkan tingkat leverage Perseroan.
Baca Juga
Harga Emas Turun Jelang Risalah The Fed, Pasar Waspadai Timur Tengah
Sepanjang 2025, BACH mencatatkan pendapatan sekitar Rp1,73 triliun, meningkat hampir 40% dibandingkan tahun sebelumnya. Laba bersih juga melonjak 97,5% menjadi sekitar Rp155 miliar, sehingga margin laba bersih meningkat menjadi 9% dari sebelumnya 6,3%.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh kenaikan bisnis penjualan genset yang meningkat lebih dari 93% secara tahunan serta bisnis penyewaan genset yang tumbuh lebih dari 1.200%. Di sisi lain, segmen jasa konstruksi dan pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi tetap menjadi salah satu kontributor utama pendapatan melalui model bisnis berbasis kontrak jangka panjang yang menghasilkan recurring income.
Saat ini, BACH memiliki pengalaman lebih dari 20 tahun di sektor solusi energi dan infrastruktur telekomunikasi. Perseroan mengelola lebih dari 40.000 site, telah mendistribusikan lebih dari 20.000 unit genset, serta melayani lebih dari 200 pelanggan korporasi dari berbagai sektor, termasuk telekomunikasi, perbankan, energi, hingga pemerintah. Sejumlah pelanggan perseroan antara lain Grup Protelindo, PLN Group, Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia, Huawei, dan Indosat Ooredoo Hutchison.
