Pasar Kripto Melemah Jelang Rilis Inflasi AS, Pelaku Pasar Waspadai Arah Suku Bunga The Fed
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pasar aset kripto bergerak di zona merah menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) yang diperkirakan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Investor memilih bersikap hati-hati di tengah meningkatnya ekspektasi bahwa bank sentral AS akan mempertahankan kebijakan moneter ketat apabila tekanan inflasi belum mereda.
Berdasarkan data CoinMarketCap, Rabu (8/7/2026) pukul 05.50 WIB, kapitalisasi pasar kripto global turun 1,41% menjadi US$2,18 triliun. Indeks CoinMarketCap 20 (CMC20), yang mencerminkan kinerja aset kripto berkapitalisasi besar, juga melemah 1,27% ke level 129,87.
Bitcoin (BTC) diperdagangkan di level US$63.489,12 atau turun 1,08% dalam 24 jam terakhir. Kendati demikian, aset kripto terbesar tersebut masih mencatatkan kenaikan 8,47% dalam sepekan terakhir.
Ethereum (ETH) juga mengalami koreksi sebesar 1,71% ke posisi US$1.774,80, meski masih membukukan penguatan mingguan sebesar 13,28%. Dari sisi sentimen, Crypto Fear & Greed Index berada di level 28 yang masih menunjukkan kondisi fear atau kehati-hatian investor. Sementara Altcoin Season Index berada di angka 45 dari 100, mengindikasikan dominasi pergerakan pasar masih berada di Bitcoin dibandingkan altcoin.
Menariknya, di tengah koreksi harga tersebut, sekitar 68% trader kontrak berjangka Bitcoin (BTC futures) masih mempertahankan posisi long, yang mencerminkan ekspektasi bahwa harga Bitcoin masih berpotensi melanjutkan penguatan. Aktivitas transaksi di jaringan Bitcoin juga dilaporkan mencapai level tertinggi dalam 17 tahun terakhir, menunjukkan aktivitas blockchain tetap tinggi meski pasar tengah terkoreksi.
Baca Juga
Beri Kepastian Regulasi dan Dorong Inovasi Pasar, OJK-nya Amerika Usulkan Aturan Baru Kripto
Sentimen pasar kini tertuju pada rilis data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat periode Juni 2026 yang dijadwalkan diumumkan Bureau of Labor Statistics (BLS) pada 14 Juli 2026 pukul 08.30 waktu setempat.
Data tersebut menjadi salah satu indikator ekonomi paling penting bagi pelaku pasar karena akan menjadi acuan dalam memperkirakan arah kebijakan moneter The Fed.
Sebelumnya, inflasi AS pada Mei 2026 meningkat menjadi 4,2% secara tahunan, level tertinggi sejak awal 2023. Secara bulanan, CPI naik 0,5%, didorong lonjakan harga energi sebesar 23,5% dan kenaikan harga bensin hingga 40,5% akibat gangguan pasokan minyak global. Sementara inflasi inti (core CPI) naik menjadi 2,9% secara tahunan, tertinggi sejak September 2025.
Jika inflasi Juni kembali meningkat, peluang The Fed mempertahankan suku bunga tinggi diperkirakan semakin besar.
Dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 16–17 Juni 2026, The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%-3,75%. Namun, proyeksi terbaru atau dot plot menunjukkan sikap yang lebih hawkish dengan median proyeksi suku bunga akhir 2026 naik menjadi 3,8%. Bahkan, sembilan dari 18 pejabat The Fed masih memperkirakan adanya setidaknya satu kali kenaikan suku bunga tahun ini.
Saat ini pasar memperkirakan probabilitas sekitar 79,5% bahwa The Fed kembali menahan suku bunga pada pertemuan 28–29 Juli 2026. Namun, sebagian investor mulai mengantisipasi kemungkinan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Oktober apabila inflasi belum menunjukkan penurunan.
Baca Juga
OJK Catat Jumlah Konsumen Kripto Tembus 22,4 Juta dengan Nilai Transaksi Rp 23 Triliun per Mei 2026
Secara historis, data inflasi AS kerap menjadi pemicu volatilitas tinggi di pasar aset digital. Inflasi yang lebih rendah dari ekspektasi biasanya mendorong reli aset berisiko karena meningkatkan harapan pelonggaran kebijakan moneter. Sebaliknya, inflasi yang lebih tinggi cenderung memicu aksi jual karena memperbesar peluang suku bunga tinggi bertahan lebih lama.
Sebagai contoh, ketika data CPI Januari 2026 yang dirilis pada Februari berada sedikit di bawah ekspektasi sebesar 2,4%, harga Bitcoin sempat melonjak sekitar 5% dalam sehari dari kisaran US$65.889 menuju hampir US$70.500. Ethereum juga menguat lebih dari 5% hingga 8% dan kembali menembus level US$2.100.
Dengan demikian, pelaku pasar kini menanti hasil inflasi Juni sebagai petunjuk baru mengenai arah kebijakan The Fed sekaligus prospek pergerakan Bitcoin, Ethereum, dan pasar kripto global dalam jangka pendek.
Analisa saham dan kripto dengan mudah dan cepat dengan InvestingPro, dapatkan diskon tambahan khusus untuk pembaca Investortrust, klik di sini
