CLSA: Astra Otoparts Tetap Tangguh, Meski Pasar Mobil Indonesia Masih Lesu
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) dinilai tetap menjadi pemain papan atas industri komponen otomotif nasional berkat model bisnis yang terdiversifikasi, posisi kuat di pasar original equipment manufacturer (OEM), serta kemampuan menangkap peluang dari kendaraan komersial dan kendaraan listrik.
Dalam laporan CLSA bertajuk “Top-tier auto parts” yang diterbitkan pada 30 Juni 2026, analis Aimee Garibaldi dan Sarina Lesmina menyebut Astra Otoparts mampu menjaga pertumbuhan meski pasar kendaraan roda empat domestik melemah dalam tiga tahun terakhir dan pasar kendaraan roda dua juga relatif lunak.
CLSA mencatat, pendapatan Astra Otoparts pada 2025 mencapai rekor Rp19,9 triliun, naik 4% secara tahunan. Laba bersih juga naik 8% menjadi Rp2,2 triliun. Kinerja tersebut ditopang struktur bisnis yang seimbang antara manufaktur komponen otomotif dan perdagangan, serta portofolio pelanggan yang tersebar antara grup Astra dan non-Astra.
Baca Juga
Astra Rajai 51% Pasar Otomotif Nasional, Penjualan Mobil Januari-Mei 2026 Tembus 182 Ribu Unit
Pada kuartal I-2026, pendapatan Astra Otoparts masih tumbuh 7%, sedangkan laba bersih meningkat 11%. Momentum ini berlanjut pada April–Mei 2026 seiring membaiknya pasar kendaraan roda empat domestik, terutama ditopang permintaan kendaraan komersial dari proyek pemerintah, peluncuran model baru, dan tren kendaraan listrik.
Menurut CLSA, salah satu kekuatan utama Astra Otoparts adalah sifat bisnisnya yang defensif. Pendapatan perseroan relatif seimbang antara manufaktur dan perdagangan, antara pelanggan Astra dan non-Astra, serta antara segmen kendaraan roda empat dan roda dua. Komposisi ini membuat AUTO lebih tahan terhadap tekanan siklus pasar otomotif.
Meski demikian, CLSA menilai perseroan tetap menghadapi tantangan dari kenaikan harga bahan baku, pelemahan rupiah, dan tekanan biaya produksi. Astra Otoparts telah melakukan penyesuaian harga secara bertahap kepada pelanggan OEM sejak tahun lalu, terutama akibat kenaikan harga aluminium, komponen berbasis minyak seperti plastik, serta eksposur biaya dalam dolar AS. Namun, ruang kenaikan harga ke pelanggan OEM relatif terbatas karena perseroan harus tetap menjaga daya saing.
Di sisi lain, Astra Otoparts memiliki kekuatan harga lebih besar di bisnis perdagangan. Margin kotor bisnis perdagangan mencapai sekitar 24%, jauh lebih tinggi dibandingkan margin manufaktur sekitar 8%. Produk utama seperti aki GS Astra masih memiliki pangsa pasar hampir 60%, sementara ban roda dua menguasai sekitar 10% pasar.
Baca Juga
Kenaikan Laba Astra Otoparts (AUTO) Berlanjut di Kuartal I-2026, Pendapatan Tumbuh Segini
CLSA juga menyoroti peluang besar dari kendaraan listrik. Astra Otoparts telah memperoleh kontrak pasokan komponen untuk sejumlah merek kendaraan listrik asal Tiongkok, seperti Jaecoo, BYD, dan VinFast. Dorongan pemerintah untuk meningkatkan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) kendaraan listrik dari 40% menjadi 60% pada 2027–2029 dinilai akan menguntungkan industri komponen otomotif domestik.
Selain memasok komponen, Astra Otoparts juga memperluas infrastruktur kendaraan listrik melalui jaringan pengisian daya Astra Otopower. Hingga Maret 2026, perseroan telah memiliki 65 stasiun pengisian ultra cepat di berbagai wilayah Indonesia. Perseroan juga mengembangkan pengisi daya dinding Altro dan bekerja sama dengan PLN untuk pengisi daya berbasis tiang listrik.
CLSA menyebut kontribusi kendaraan listrik berbasis baterai masih kecil, tetapi volume yang lebih bermakna mulai datang dari kendaraan hybrid, terutama model Toyota seperti Zenix, Yaris Cross, dan Veloz Hybrid, serta model non-Toyota seperti Suzuki Fronx.
Baca Juga
Yusak Kristian Diangkat Jadi Dirut Baru Astra Otoparts (AUTO), Intip Profilnya
Sejalan dengan strategi induknya, PT Astra International Tbk (ASII), Astra Otoparts juga akan fokus meningkatkan total shareholder return (TSR), terutama melalui kenaikan rasio dividen dari 45% menjadi 50%. Perseroan tetap membuka peluang merger dan akuisisi strategis yang berkaitan dengan kompetensi inti dan penguatan bisnis utama.
Manajemen Astra Otoparts, menurut CLSA, masih berhati-hati namun optimistis terhadap prospek tahun berjalan. Perbaikan pasar mobil domestik, kekuatan bisnis perdagangan, dan dukungan pendapatan ekspor menjadi penopang utama, meski perseroan tetap mencermati volatilitas permintaan dalam beberapa bulan ke depan.
Konsensus pasar memperkirakan pendapatan Astra Otoparts tumbuh 4,8% pada 2026, sedangkan laba bersih naik 7,6%. Pada harga Rp2.390 per saham, AUTO diperdagangkan pada valuasi sekitar 4,9 kali price earning ratio (PER) 2026, dengan dividend yield sekitar 9%.
