Semester II-2026 Masih Menantang, Samuel Sekuritas Sarankan Strategi Investasi Defensif
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Samuel Sekuritas Indonesia menilai pasar keuangan Indonesia masih akan menghadapi sejumlah tantangan pada paruh kedua 2026, terutama dari sisi pelemahan rupiah, kenaikan imbal hasil (yield) obligasi, siklus kenaikan suku bunga, serta arah kebijakan domestik yang masih menjadi perhatian investor.
"Dalam kondisi tersebut, pendekatan investasi yang lebih defensif menjadi strategi yang lebih relevan dibandingkan mengambil posisi yang terlalu agresif," kata Managing Director PT Samuel Tumbuh Bersama, Shim Tae Yong pada acara “Media Connect Samuel Sekuritas Indonesia” di Menara Imperium, Jakarta, Jumat (3/7/2026).
Baca Juga
Ada 14 Pidato Presiden Sepanjang Juli, Begini Potensi Dampaknya ke IHSG
Dia menjelaskan, tekanan pasar pada semester I-2026 terutama dipengaruhi oleh kenaikan imbal hasil obligasi, pelemahan rupiah, arus keluar modal asing, serta risiko kebijakan. Dalam catatan Samuel Tumbuh Bersama, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik 108 bps dibandingkan awal tahun (ytd) dari 6,05% menjadi 7,13%.
Pada saat yang sama, kata Shim Tae Yong, Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 100 bps ke level 5,75%, menandai masuknya Indonesia ke dalam siklus kenaikan suku bunga.
“Memasuki paruh kedua 2026, pasar masih dibayangi kombinasi antara tekanan Rupiah, kenaikan imbal hasil, dan ketidakpastian kebijakan. Dalam situasi seperti ini, strategi yang terlalu agresif belum tentu menjadi pilihan terbaik. Karena itu, pendekatan defensif menjadi semakin penting,” ujar Shim.
Menurut Shim, fokus utama BI saat ini lebih tertuju pada stabilisasi nilai tukar rupiah, mengingat mata uang Garuda telah melemah 7,1% (ytd) dari Rp 16.690 per Dolar AS menjadi Rp 17.882. Konsensus juga memperkirakan rupiah berada di kisaran Rp 17.728 per dolar AS pada akhir tahun.
“BI menaikkan suku bunga untuk menjaga daya tarik rupiah. Namun, konsekuensinya adalah pertumbuhan ekonomi berpotensi tetap tertahan. Ini menjadi dilema utama pasar, karena stabilitas perlu dijaga, tetapi ruang pertumbuhan juga menjadi lebih terbatas,” jelas Shim.
Ia menambahkan, siklus kenaikan suku bunga saat ini memiliki kemiripan dengan kondisi 2018, ketika kenaikan suku bunga dilakukan untuk meredam pelemahan rupiah dan mengembalikan kepercayaan investor asing.
Baca Juga
Saham Perbankan Menarik! BRI Danareksa Tetapkan BBCA dan BTPS Jadi Pilihan Teratas
Shim Tae Yong mengungkapkan, BI telah menaikkan BI-Rate dari 4,75% pada Maret 2026 menjadi 5,75% pada Juni 2026. Dalam periode yang sama, nilai tukar rupiah bergerak dari Rp 16.995 menjadi Rp 17.848, sementara indeks harga saham gabungan (IHSG) turun dari 7.048 menjadi 5.821.
“Masalah utamanya bukan hanya kenaikan suku bunga, tetapi alasan di balik kenaikan tersebut. Ketika pasar membaca bahwa kenaikan suku bunga dilakukan untuk mengorbankan pertumbuhan demi stabilitas, investor akan menjadi lebih berhati-hati terhadap aset berisiko,” tegas Shim.
Baca Juga
IHSG Ditutup Naik Signifikan 2,28%, Tujuh Saham Dipimpin KOKA Cetak ARA
Dari sisi valuasi, Samuel Tumbuh Bersama menilai pasar saham Indonesia mulai menawarkan titik masuk yang lebih menarik setelah mengalami koreksi tajam. IHSG turun dari 8.647 menjadi 5.643, atau melemah sekitar 35% (ytd), dengan valuasi berada di sekitar 14,6 kali, yang disebut sudah mendekati level valuasi krisis.
Namun, Shim menggarisbawahi bahwa kenaikan suku bunga dan risiko kebijakan membuat katalis pemulihan pasar belum sepenuhnya kuat.
Selain tekanan suku bunga dan nilai tukar, menurut Shim Tae Yong, isu MSCI masih menjadi perhatian. Samuel Tumbuh Bersama memperkirakan tekanan terbesar dari isu MSCI kemungkinan telah berlalu, meskipun ketidakpastian terkait daya tarik, saham beredar di publik (free float), transparansi, dan downgrade frontier masih menjadi faktor yang perlu terus dicermati investor.
