Semester II Jadi Momentum Kebangkitan IHSG, Simak Proyeksi Analis Berikut
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Sejumlah analis pasar modal menilai prospek Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada semester II-2026 berpeluang menguat, meski volatilitas pasar diperkirakan tetap tinggi.
Peluang penguatan didukung ekspektasi penurunan suku bunga global, stabilnya nilai tukar rupiah, serta membaiknya sentimen pasar dan aliran dana asing menjadi katalis utama bagi pergerakan IHSG hingga akhir tahun.
Pengamat pasar modal Elandry Pratama mengatakan, peluang penguatan IHSG pada semester II terbuka, meski investor perlu mewaspadai sejumlah risiko dari dalam maupun luar negeri.
Baca Juga
IHSG Anjlok 34,73% di Semester I-2026, Bagaimana Prospek Semester II?
"Saya melihat prospek IHSG pada semester II masih cukup positif meski volatilitas pasar diperkirakan tetap tinggi. Peluang penguatan masih terbuka seiring potensi penurunan suku bunga global, stabilnya nilai tukar rupiah, serta membaiknya market sentiment dan capital flow asing," kata Elandry kepada Investortrust.id, Rabu (1/7/2026).
Meski demikian, ia mengingatkan investor untuk tetap mencermati dinamika kebijakan pemerintah, kondisi fiskal, serta perkembangan ekonomi global yang masih berpotensi memengaruhi arah pasar.
Elandry menyarankan investor mengutamakan saham-saham dengan fundamental kuat, valuasi yang menarik, serta prospek kinerja yang solid.
"Dalam kondisi seperti ini, investor sebaiknya tetap selektif dengan mengutamakan emiten yang memiliki fundamental kuat, valuasi yang menarik, dan prospek kinerja yang solid. Strategi buy on weakness masih relevan diterapkan secara bertahap, disertai diversifikasi portofolio agar dapat mengelola risiko di tengah ketidakpastian pasar," ujarnya.
Baca Juga
Intip Prospek Saham United Tractors (UNTR) di Tengah Peluang Revisi RKAB Batu Bara
Senada, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan secara teknikal IHSG masih berada dalam tren turun (downtrend). Namun, koreksi diperkirakan mulai terbatas sebelum berpeluang mengalami pemulihan.
"Dari sisi teknikal, kami masih mencermati pergerakan IHSG yang sedang berada di fase downtrend. Best case, koreksi IHSG akan relatif terbatas untuk menguji area 5.477-5.540 kemudian rebound ke rentang 6.250-6.835," kata Herditya.
Namun, ia mengingatkan skenario negatif masih perlu diantisipasi. Apabila IHSG menembus level 5.317, indeks berpotensi melanjutkan pelemahan hingga area 5.050.
Menurut Herditya, investor akan mencermati sejumlah sentimen sepanjang semester II-2026. Dari eksternal, perhatian tertuju pada perkembangan konflik Timur Tengah yang memasuki fase perjanjian damai, arah kebijakan suku bunga The Fed, serta data ekonomi Amerika Serikat yang diperkirakan masih mencerminkan kondisi higher for longer.
Sementara dari dalam negeri, pasar akan mencermati hasil kajian lembaga pemeringkat internasional terhadap Indonesia, evaluasi MSCI yang dijadwalkan pada November 2026, serta implementasi berbagai kebijakan pemerintah, termasuk stabilisasi nilai tukar rupiah dan kebijakan fiskal.
Target 7.470
Optimisme terhadap prospek IHSG juga disampaikan Pilarmas Investindo Sekuritas. Dalam risetnya, Pilarmas merevisi target IHSG semester II-2026 ke kisaran 6.390-7.470, dengan asumsi imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun berada di level 7-7,2%.
Pilarmas menilai kondisi pasar obligasi pada semester II tidak akan mengalami perubahan signifikan sehingga dapat menjadi fondasi bagi pergerakan pasar saham.
"Dengan situasi dan kondisi yang ada, Pilarmas pada akhirnya merevisi target IHSG semester kedua ini dengan rentang target 6.390-7.470, dengan imbal hasil SUN 10 tahun berada di 7%-7,2%," tulis Pilarmas dalam risetnya.
Baca Juga
Semester I Kelam, IHSG Ambles 34,73% Disertai Kejatuhaan Saham Big Caps dan Net Sell Asing
Pilarmas juga melihat sejumlah indikator mulai memberikan sinyal positif. Kepercayaan konsumen Amerika Serikat meningkat dari 90,6 menjadi 91,2 didukung penurunan harga bensin yang membantu meredakan tekanan inflasi. Selain itu, data ketenagakerjaan AS tetap solid, tercermin dari kenaikan JOLTS Job Openings menjadi 7,594 juta yang menunjukkan pasar tenaga kerja masih kuat dan mengurangi tekanan terhadap kebijakan moneter The Fed.
Di sisi lain, kondisi ketenagakerjaan Jepang dinilai relatif stabil. Menurut Pilarmas, kombinasi data tersebut berpotensi memperbaiki sentimen investor terhadap aset berisiko, termasuk pasar saham Indonesia.
Meski demikian, Pilarmas menilai arah IHSG pada awal semester II-2026 tetap akan dipengaruhi oleh rilis data ekonomi domestik dan perkembangan sentimen global yang akan menentukan kekuatan pemulihan indeks hingga akhir tahun.
