Amman (AMMN) Siap Masuk Era Pertumbuhan Baru, Potensi Cuan Sahamnya Bisa 90%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) bersiap memasuki siklus pertumbuhan laba baru pada tahun buku 2026, seiring peningkatan produksi tambang Batu Hijau setelah fase transisi Phase-8. Siklus ini berpotensi mengerek kinerja keuangan dan harga saham emiten ini.
Hal ini mendorong BRI Danareksa Sekuritas dalam riset terbarunya menyematkan rekomendasi beli saham AMMN dengan target harga Rp 6.000 per saham. Target tersebut mencerminkan potensi kenaikan (upside) sekitar 90% dari harga penutupan terakhir di level Rp 3.300.
Baca Juga
Merdeka Copper (MDKA) Cetak Laba Bersih US$ 57,5 Juta di Kuartal I-2026, Ini Penopangnya
Analis BRI Danareksa Sekuritas Andhika Audrey mengatakan, peningkatan produksi tambang Batu Hijau berpotensi mengerek naik pendapatan AMMN menjadi US$ 4,0 miliar tahun ini atau melambung sebanyak 117% dari tahun sebelumnya. Lompatan tersebut sejalan dengan estimasi peningkatan pesat produksi Batu Hijau sekitar 130% secara tahunan. EBITDA diproyeksikan naik 97% menjadi US$2,0 miliar.
Pertumbuhan pesat kinjerja keuangan juga didukung ekspektasi bahwa permintaan tembaga global kini tidak lagi hanya bergantung pada sektor konstruksi, tetapi semakin ditopang oleh tren elektrifikasi, kecerdasan buatan (AI), pembangunan pusat data, adopsi kendaraan listrik, dan pengembangan jaringan energi terbarukan.
Pertumbuhan juga didukung harga emas yang masih tinggi didukung fondasi yang kuat berkat pembelian berkelanjutan bank sentral, termasuk People's Bank of China (PBoC). “Kombinasi fundamental tembaga dan emas tersebut dinilai memberikan prospek harga yang mendukung bagi produsen terintegrasi, seperti AMMN dalam beberapa tahun ke depan,” tulisnya.
Baca Juga
IHSG Diprediksi Begerak Mixed Hari Ini, Saham DSSA hingga UNVR Layak Dilirik
Terkait transisi Phase-8 di Batu Hijau, menurut dia, ditunjukkan indikasi produksi hingga kuartal I-2026 dengan volume bijih segar (fresh ore) yang ditambang meningkat menjadi 38 juta ton, dibandingkan 1 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut mendorong produksi konsentrat menjadi 167,8 ribu dry metric ton (dmt) atau meningkat 110% secara tahunan, yang terdiri atas produksi 101 juta pon tembaga dan 136 ribu ons emas.
Amman (AMMN) juga mulai bertransformasi dari perusahaan pengolah konsentrat menjadi produsen logam terintegrasi. Pada kuartal I-2026, fasilitas smelter dan Precious Metals Refinery (PMR) menghasilkan 27,7 ribu ton katoda tembaga serta 66,2 ribu ons emas murni, yang dinilai meningkatkan kualitas pendapatan perseroan.
BRI Danareksa Sekuritas juga menyoroti pembangunan fasilitas pengolahan baru yang ditargetkan mulai menerima bijih pertama pada kuartal III-2026. “Proyek tersebut akan meningkatkan kapasitas pengolahan dari sekitar 40 juta ton per tahun menjadi sekitar 85 juta ton per tahun, sehingga mendukung pertumbuhan volume produksi dalam jangka Panjang,” tulisnya.
Baca Juga
Pasar Masih Was-was, Harga Minyak Naik Usai AS-Iran Sepakati Jeda Serangan
Dengan potensi pertumbuhan kuat tersebut, BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan, valuasi saham AMMN kini makin menarik dengan estimasi EV/EBITDA 6,7 kali untuk 2026, lebih rendah dibandingkan perusahaan tambang tembaga dan emas global. Menurut BRI Danareksa Sekuritas, valuasi tahun 2025 terdistorsi akibat fase transisi operasional. Penilaian menggunakan metode Sum of the Parts (SOTP) mencakup tambang Batu Hijau sebagai aset utama penghasil arus kas, fasilitas smelter dan PMR sebagai sumber nilai tambah hilirisasi, serta proyek Elang sebagai potensi pertumbuhan jangka panjang.
BRI Danareksa Sekuritas menargetkan kenaikan pesat laba bersih AMMN menjadi US$ 909 juta tahun ini dan diharapkan mencapai US$ 1,46 miliar pada 2027, dibandingkan tahun 2025 senilai US$ 249 juta. Pendapatan diprediksi melesat menjadi US$ 4 miliar tahun ini dan menjadi US$ 4,28 miliar pada 2027, dibandingkan tahun lalu US$ 1,84 miliar.
