Ancaman Aset Kripto Bergeser ke Manipulasi Pengguna, Deepfake dan AI Jadi Modus Baru
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Ancaman terhadap keamanan aset kripto kini semakin bergeser dari peretasan sistem ke manipulasi psikologis pengguna melalui berbagai modus penipuan berbasis kecerdasan buatan (AI), seperti deepfake, voice cloning, phishing, dan social engineering. Kondisi tersebut mendorong peningkatan literasi keamanan digital menjadi faktor yang sama pentingnya dengan penguatan teknologi.
Chief Information Security Officer (CISO) INDODAX, Ledy, mengatakan pelaku kejahatan siber kini lebih banyak memanfaatkan kelemahan pengguna dibandingkan mencoba menembus sistem keamanan platform.
"Banyak orang masih menganggap ancaman terbesar berasal dari peretasan sistem pada exchange. Padahal, dalam beberapa kasus yang terjadi belakangan, pelaku justru memperoleh akses karena korban secara tidak sadar memberikan informasi penting atau mengklik tautan berbahaya yang menyerupai layanan resmi," ujar Ledy dalam diskusi Beyond Code: The Human Side of Crypto Security bertema Security Starts With You, Jumat (26/6/2026.
Baca Juga
Jepang Resmikan Stablecoin RLUSD Ripple, Pasar Kripto Asia Kian Kompetitif
Menurutnya, perkembangan AI membuat berbagai modus penipuan semakin sulit dikenali. Selain deepfake dan voice cloning, pelaku juga memanfaatkan iklan palsu di media sosial, manipulasi hasil pencarian (AI search engine repositioning), hingga penyamaran sebagai layanan pelanggan resmi melalui aplikasi pesan instan seperti WhatsApp.
Ledy menegaskan INDODAX tidak memiliki layanan customer support resmi melalui WhatsApp. Seluruh layanan pelanggan hanya tersedia melalui nomor telepon, email, dan kanal resmi perusahaan.
"Karena itu, masyarakat perlu membiasakan diri melakukan verifikasi bahkan riset mandiri (Do Your Own Research/DYOR) dalam mencerna informasi sebelum mengambil keputusan," katanya.
Data dari NordStellar menunjukkan pembahasan mengenai layanan Deepfake as a Service (DFaaS) di forum dark web meningkat sekitar 39% sepanjang Januari–Mei 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, teknologi AI voice cloning kini mampu meniru suara seseorang hanya dengan sampel audio sekitar 10 detik, sehingga meningkatkan risiko penipuan berbasis identitas.
Baca Juga
Investor Kripto RI Tembus 21 Juta, OJK Fokus Perkuat Literasi dan Tata Kelola
Menurut Ledy, kondisi tersebut menunjukkan bahwa keamanan aset kripto tidak lagi cukup mengandalkan sistem teknologi. Pengguna juga harus membangun kebiasaan menjaga keamanan digital (cyber hygiene), seperti memverifikasi informasi, melindungi data pribadi, dan mengenali berbagai bentuk manipulasi digital.
"Platform dapat menyediakan berbagai sistem lapisan keamanan. Namun pada akhirnya, setiap keputusan tetap berada di tangan pengguna. Karena itu, kami selalu mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah percaya dan selalu melakukan verifikasi sebelum memberikan informasi ataupun mengambil keputusan terkait aset digital," tuturnya.
INDODAX menilai penguatan literasi keamanan digital harus berjalan beriringan dengan peningkatan teknologi keamanan. Sebagai bursa kripto yang beroperasi di Indonesia, perusahaan menyatakan terus memperkuat standar keamanan platform sekaligus meningkatkan edukasi kepada masyarakat agar dapat beraktivitas di ekosistem aset kripto secara lebih aman, bijak, dan bertanggung jawab.
