Bagikan

Begini Upaya SeaBank Atasi Maraknya Modus Penipuan Deepfake

Poin Penting

Ancaman Deepfake Meningkat di Indonesia
Strategi Pertahanan Berbasis AI
Inovasi Fitur Cek Rekening

JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Seabank Indonesia (SeaBank) menyatakan bahwa invasi deepfake saat ini cukup tinggi di Indonesia. Bukan saja hanya berusaha meniru, melainkan juga berusaha sampai menciptakan identitas baru.

 
Hal itu diutrakan langsung oleh Wakil Direktur SeaBank Junedy Liu merespons perihal peristiwa security atau keamanan yang pernah dialami oleh SeaBank.
 
"Jadi kadang-kadang mereka bisa mengadopsi muka, suara, gitu ya," ujar Junedy dalam acara Podcast Road to Digital Banking Awards 2025 di Kantor Investortrust.id, Gedung The Convergence Indonesia, Jakarta, Kamis (7/8/2025).
 
Diketahui, deepfake adalah konten digital, seperti video, gambar, atau audio, yang dimanipulasi menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk menciptakan ilusi yang tampak nyata, namun sebenarnya palsu. Teknologi ini seringkali digunakan untuk membuat seseorang tampak melakukan atau mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah mereka lakukan atau katakan. 
 
Junedy menjelaskan, jangankan dalam sisi know your customer (kenali pelanggan Anda) alias KYC, sekarang ini banyak karyawan SeaBank dihubungi oleh nomor WhatsApp yang mengaku sebagai dirinya. Bahkan, kata Junedy, nomor tersebut berani untuk melakukan panggilan telepon, tidak hanya menggunakan teks.
 
"Jadi ketika diangkat, itu suaranya suara saya. Tapi untungnya staf saya tahu nomor saya, sehingga dia bisa menghindari kasus tersebut. Jadi saat ini kalau dilihat ya luar biasa lah perkembangannya," ungkap Junedy.
 
Wakil Direktur Utama PT Bank Seabank Indonesia Junedy Liu memberikan penjelasan saat melakukan podcast dengan Juri Digital Banking Awards 2025; Dr Bayu Prawira Hie, Tjandra Gunawan dan Irwan Habsjah di kantor redaksi Investortrust, The Convergence Lt 5, Rasuna Said, Jakarta, Kamis (7/8/2025). Foto: Investortrust/Elsid Arendra 
 
Sejalan dengan hal tersebut, Junedy membeberkan bahwa sebagai bank digital, SeaBank terus melakukan inovasi dan investasi dari sisi security. Dalam hal ini, Junedy mencontohkannya dengan deepfake yang berusaha untuk membuka rekening seseorang. Menurutnya, akan sangat sulit jika hanya mengandalkan mata manusia untuk mengetahui apakah orang yang berusaha membuka rekening tersebut benar-benar pemilik rekening sesungguhnya.
 
"Karena tampangnya mirip, suaranya mirip. Kita harus menggunakan AI juga, jadi AI cuma bisa lawan AI," ungkap Junedy.
 
Lebih lanjut, Junedy menyebut, jika SeaBank meciptakan teknologi sendiri, maka ada beberapa hal yang perlu dilihat. Pertama, konsistensi antara wajah dengan data atau Dukcapil (Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil).  
 
"Kedua, kami akan berusaha melihat dari video tersebut apakah ada modifikasi virtual atau tidak, karena siapa tahu kan dia pakai kamera yang sudah dimodifikasi sedemikiam rupa, dia bisa mencuri kemiripannya," jelas Junedy.
 
Menjelang Digital Banking Awards 2025, Investortrust mengadakan podcast dengan Wakil Direktur Utama PT Bank Seabank Indonesia Junedy Liu dan Juri Digital Banking Awards 2025; Dr Bayu Prawira Hie, Tjandra Gunawan dan Irwan Habsjah di kantor redaksi Investortrust, The Convergence Lt 5, Rasuna Said, Jakarta, Kamis (7/8/2025). Foto: Investortrust/Elsid Arendra 
 
Ketiga, SeaBank melihat kehangatan wajah. Hal ini dilakukan jika kamera handphone yang digunakan memungkinkan. 
 
"Kalau dilihat dari sisi deepfake sendiri, kalau dulu mesti 99,99% mirip, kalau sekarang kebalikannya," ucap Junedy.
 
Junedy menambahkan, butuh suatu banyak inovasi untuk menciptakan peraturan-peraturan fraud identification yang sedemikian rupa. Salah satu contoh inovasi yang dilakukan SeBank adalah terdapat pada fitur cek rekening.
 
"Nah kami bangun itu (fitur cek rekening) nempel dengan rekening kami. Ketika nasabah mau melakukan transfer, dia masukan nomor yang sudah terdaftat di cek rekening, kami akan mengeluarkan warning. Kami nggak bisa melarang, karena itu kan hak nasabah. Tapi kami akan keluarkan warning, 'apakah anda yakin dengan melakukan transfer ke nomor ini', karena nomor ini sudah pernah dilaporkan di scam center, atau nomor ini sudah pernah dilaporkan di cek rekening, minimal orang kalau seperti itu, maka akan cek terlebih dahulu, jadi mereka akan berpikir dua kali. Jadi kita berusaha mengurangi dari sisi itu, karena kan secara sistem kita bisa langsung terkoneksi dan kami bisa langsung berikan warning," terang Junedy.
 
Sebelumnya diberitakan investortrust.id, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan bahwa kemajuan teknologi artificial intelligence (AI) memiliki potensi penyalahgunaan untuk membuat tiruan suara (voice cloning) dan tiruan wajah (deepfake). 
 
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen Friderica Widyasari Dewi mengungkapkan, hal itu dilakukan dengan tujuan, antara lain menipu dengan cara yang terlihat dan terdengar meyakinkan. 
 
"Ini menuntut masyarakat lebih waspada melakukan transaksi keuangan," ujar Friderica dalam jawaban tertulis konferensi pers Asesmen Sektor Jasa Keuangan dan Kebijakan OJK Hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan Juni 2025, dikutip Minggu (3/8/2025).
 
Friderica menjelaskan, tiruan suara dan wajah merupakan beberapa cara kerja penipuan AI. Teknologi AI memungkinkan pelaku merekam dan meniru suara seseorang, seperti teman, kolega, atau keluarga. "Dengan menggunakan suara yang sudah dipelajari tersebut, penipu melakukan percakapan seolah-olah mereka adalah orang yang dikenal korban," ungkap Friderica.
 
 
The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024