Harga Amonia Tinggi dan Bebas Utang, Saham ESSA Industries (ESSA) Menarik dengan Potensi Cuan Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Prospek kinerja PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) dinilai semakin menarik, seiring kenaikan harga amonia global dan rampunya pelunasan utang proyek senilai US$ 800 juta. Dua factor tersebut diharapkan menjadi sentiment positif terhadap harga saham emiten ini.
Sejumlah sentiment positif tersebut mendorong KB Valbury Sekuritas dalam riset terbarunya memulai cakupan terhadap saham ESSA dengan rekomendasi beli dan target harga Rp 940 per saham.
Target harga tersebut didasarkan discounted cash flow (DCF) dengan asumsi weighted average cost of capital (WACC) 12,1% dan terminal growth 1,5%. Valuasi juga telah memperhitungkan diskon 20% untuk mengantisipasi volatilitas harga amonia.
Baca Juga
Lalu Lintas Kapal Tanker di Selat Hormuz Sudah Kembali Normal, Tanpa Toll Fee?
Analis KB Valbury Sekuritas Atikah Tri Adriyanti mengatakan, 2026 berpotensi menjadi tahun kinerja terbaik ESSA sejak 2022. Laba bersih ESSA diprediksi melonjak 59,6% secara tahunan menjadi US$ 64,3 juta. Kenaikan ditopang dua factor utama, yakni kenaikan harga amonia global dan penurunan hampir seluruh beban keuangan setelah pelunasan seluruh utang pembiayaan proyek pembangunan pabrik amonia.
Dengan kontribusi amonia yang mencapai lebih dari 80% terhadap pendapatan, ESSA dinilai menjadi salah satu emiten yang paling diuntungkan dari kenaikan harga komoditas tersebut dalam beberapa bulan terakhir. Kenaikan harga amonia dipicu oleh meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat serta penutupan sementara Selat Hormuz pada awal 2026.
KB Valbury memperkirakan rata-rata harga (ASP) amonia ESSA diperkirakan mencapai US$ 450 per ton pada 2026, meningkat 33,1% dari estimasi 2025 sebesar US$ 338 per ton. Dengan asumsi ini, pendapatan ESSA diperkirakan mencapai US$ 361,1 juta atau naik 22,4% YoY dengan kenaikan laba bersih diprediksi 59,6% menjadi US$ 64,3 juta.
“Berdasarkan analisis sensitivitas bahwa setiap kenaikan harga amonia sebesar US$ 10 per ton berpotensi meningkatkan laba bersih sekitar US$ 1,8 juta atau setara 2,7% dari proyeksi laba 2026,” tulisnya.
Baca Juga
Dony Oskaria: Laba Bersih Pupuk Indonesia Melonjak 230% Jadi Rp6,7 Triliun
Selain faktor harga komoditas, perbaikan struktur permodalan menjadi katalis utama bagi kinerja ESSA. Perusahaan telah melunasi seluruh utang proyek sebesar US$ 800 juta yang digunakan untuk pembangunan pabrik amonia PT Panca Amara Utama (PAU), sehingga sejak kuartal III-2025 ESSA berada dalam posisi tanpa utang (debt free).
Sejumlah sentiment positif ini diproyeksikan mendorong pertumbuhan laba bersih tahunan majemuk (CAGR) sebesar 7,3% pada periode 2025-2030, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pendapatan sebesar 2,8% dan EBITDA sebesar 3,6%.
“Meski harga amonia diperkirakan mulai normal kembali ke level US$ 380 per ton mulai 2028, kinerja ESSA dinilai tetap solid berkat neraca keuangan yang bebas utang. Margin laba kotor diproyeksikan tetap berada di atas 36% hingga 2030, lebih tinggi dibandingkan level terendah 33,5% pada 2025,” tulisnya.
