BMoney (BUKA) Bidik AUM Rp 10 T dan EBITDA Rp 20 M, Mayoritas Dana Disumbang Nasabah Tajir
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Platform investasi digital BMoney milik PT Buka Investasi Bersama (BIB), perusahaan teknologi finansial subsidiari dari PT Bukalapak.com Tbk (BUKA), menargetkan pertumbuhan agresif hingga 2027 setelah mencatat EBITDA positif untuk pertama kalinya pada 2025. Perusahaan membidik dana kelolaan atau assets under management (AUM) mendekati Rp 10 triliun dari saat ini Rp 6 triliun. Sementara EBITDA dipatok Rp 20 miliar pada tahun ke depan dengan mengandalkan kepuasan nasabah serta kekuatan jaringan tenaga penjual.
Chief Executive Officer (CEO) BMoney Angganata Sebastian mengatakan struktur nasabah perusahaan saat ini didominasi investor ritel. Namun, kontribusi dana kelolaan justru sebagian besar berasal dari kelompok nasabah high net worth individual (HNWI) atau individu dengan aset dan kemampuan investasi besar alias nasabah tajir.
Baca Juga
Baru 5 Tahun, BMoney (BUKA) Sudah Kelola Dana Rp 6 Triliun dan Kantongi 1 Juta Investor
"Kalau dari jumlah nasabah, dari total Rp 6 triliun dana kelolaan, 90% itu adalah nasabah ritel, sisanya nasabah high net worth," kata Angganata dalam media gathering di Jakarta, Selasa (23/6/2026).
Meski jumlahnya relatif kecil, kelompok high net worth menjadi penyumbang utama dana kelolaan perusahaan. "Namun, kalau dari AUM kebalik, 90% nasabah high net worth," ujarnya.
Dia mengatakan, pencapaian AUM Rp 6 triliun per Mei 2026 melampaui target perusahaan yang menargetkan Rp 4,5 triliun hingga akhir 2025.
Menurut Angganata, keberhasilan bisnis pengelolaan investasi sangat ditentukan oleh kualitas hubungan antara tenaga penjual dan nasabah. Untuk itu, perusahaan menempatkan kepuasan pelanggan sebagai prioritas utama sebelum mengejar target pertumbuhan bisnis yang lebih agresif. Tenaga penjual memiliki peran sentral karena menjadi ujung tombak dalam membangun kepercayaan dan hubungan jangka panjang dengan investor.
"Jadi saya merasa bahwa tenaga penjual ini merupakan kuncinya, relationship ini kuncinya. Sehingga saya selalu bilang bahwa arahan bisnis dari kami bahwa kepuasan nasabah itu nomor 1," ujar Angganata.
Menurut dia, nasabah yang puas akan menjadi sumber pertumbuhan bisnis paling efektif karena cenderung merekomendasikan layanan perusahaan kepada kolega maupun keluarga. "Jadi saya percaya bahwa kalau nasabah ini cukup puas, biasanya dia akan mereferensikan teman-temannya dan bisnis kita tumbuh," katanya.
Bidik EBITDA Rp 20 Miliar
Seiring pertumbuhan bisnis yang terus membaik, BMoney mencatat EBITDA positif penuh pertama pada tahun lalu. EBITDA merupakan indikator laba operasional perusahaan sebelum memperhitungkan bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi.
"Tahun lalu kita full positive EBITDA untuk full year, untuk pertama kali kurang lebih sekitar Rp 100 juta," kata Angganata.
Pada 2026, perusahaan menargetkan peningkatan laba yang signifikan menjadi sekitar Rp 2 miliar hingga Rp 3 miliar. "Tahun ini mungkin kita targetnya bisa Rp 2-3 miliar profit setahun," ujarnya.
Baca Juga
Laba Bersih Bukalapak (BUKA) Capai Rp 112 Miliar, Ini Pendorongnya
Momentum tersebut diharapkan berlanjut pada 2027 dengan target EBITDA yang jauh lebih besar. "Dan tahun depan saya rasa mungkin Rp 10-20 miliar untuk positif EBITDA-nya," kata Angganata.
Selain profitabilitas, perusahaan juga menempatkan pertumbuhan dana kelolaan sebagai fokus utama. Menurut dia, tonggak berikutnya yang ingin dicapai BMoney adalah dana kelolaan sebesar Rp 10 triliun. "AUM sendiri, dana kelolaan, kalau tahun ini saya bisa akhirnya tutup, tidak jauh-jauh dari angka sekarang, mungkin Rp 10 triliun is the next milestone buat kita," ujar saat menjawab pertanyaan Investortrust.
