AAJI Sebut Mayoritas Nasabah Unitlink Merupakan Kalangan Tajir
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Togar Pasaribu mengungkapkan, jika mayoritas nasabah dari produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI) atau unitlink berasal dari kalangan menengah ke atas alias masyarakat tajir.
“Orang tajir itu (belinya) unitlink. Karena mereka memahami investasi,” ujarnya, saat ditemui media, belum lama ini.
Namun, Togar tidak merinci berapa persen porsi kepemilikan nasabah tajir terhadap total premi unitlink secara keseluruhan. Hingga kuartal pertama tahun ini sendiri, merujuk data AAJI, total premi dari produk unitlink sebesar Rp 19,22 triliun atau turun dibandingkan periode yang sama 2023 yakni Rp 22,98 triliun.
Baca Juga
AAJI Catat Klaim Industri Asuransi Jiwa Turun 5,8% di Kuartal I 2024
Besaran premi dari produk tersebut mengkontribusi sekitar 41,79% dari total premi industri asuransi jiwa secara keseluruhan yang tercatat Rp 46 triliun. Sementara sebagian besarnya masih digenggam oleh produk tradisional dengan raihan premi Rp 26,77% atau berkontribusi 52,21% dari total premi asuransi jiwa di kuartal I 2024.
“Trennya masih cerah (unitlink), justru orang-orang kaya itu carinya unitlink, bukan yang tradisional,” katanya.
Lebih lanjut, menurut Togar, masyarakat tajir umumnya telah paham bagaimana skema dari produk unitlink. Misalnya, nasabah harus membayar premi sepanjang kontrak. Jika kontraknya 20-30 tahun, maka premi yang harus dibayar juga sepanjang kontrak itu.
“Supaya hasil investasinya optimal, lalu nasabah akan di-cover. Karena begitu kontrak sudah selesai tapi nasabah masih hidup, akan keluar uang pertanggungan. Maka dompetnya akan jadi penuh,” ujarnya.
Baca Juga
Secara rinci ia mencontohkan, jika nasabah pertama kali membeli unitlink dengan premi Rp 1 juta, maka selama tiga tahun pertama biasanya 60% atau Rp 600.000-nya akan dialokasikan untuk investasi, sisanya untuk perlindungan. Lalu tahun keempat hingga keenam, porsi investasinya naik jadi 80% atau Rp 800.000. Kemudian, tahun ketujuh dan seterusnya, 100% premi akan ditempatkan di investasi.
“Produk ini sekarang diperbolehkan dibeli untuk masyarakat menengah ke atas, karena dianggap lebih paham, dan mereka sudah pasti mengerti jika investasi akan naik turun,” ucap Togar.

