Rupiah Mendatar Level Rp 17.817 per Dolar AS, Tertekan Penguatan Greenback
JAKARTA, investortrust.id – Nilai tukar rupiah bergerak mendatar terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi, Senin (22/6/2026). Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.05 WIB, rupiah turun 0,07% ke level Rp 17.817 per dolar AS.
Pelemahan rupiah sejalan dengan pergerakan mayoritas mata uang Asia yang juga tertekan terhadap dolar AS. Yen Jepang melemah 0,15%, won Korea Selatan turun 0,44%, ringgit Malaysia melemah 0,24%, peso Filipina terkoreksi 0,21%, dolar Singapura turun 0,06%, dan yuan China melemah 0,05%. Di kawasan Asia, hanya baht Thailand yang mencatat penguatan terhadap dolar AS dengan kenaikan 0,06%.
Baca Juga
Reliance Sekuritas Jagokan 4 Saham Ini, Ada MEDC hingga ISAT
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, mengatakan pasar saat ini mencermati perkembangan hubungan Iran dan AS yang kembali memanas. Menurutnya, Iran berencana menangguhkan perundingan sebagai respons atas pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengancam akan melancarkan serangan baru jika Hizbullah terus menyerang Israel.
Trump juga memperingatkan Iran agar tidak kembali menutup Selat Hormuz. Di sisi lain, laporan menunjukkan berkurangnya lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz yang turut mendorong kenaikan harga minyak.
Pekan ini, dimulainya kembali lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz menjadi perhatian pasar setelah AS dan Iran sepakat mencabut blokade angkatan laut.
Baca Juga
Dari sisi data ekonomi, investor menantikan sejumlah indikator penting dari AS, termasuk data pendapatan dan pengeluaran pribadi, indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE), serta data pesanan barang tahan lama.
Pasar juga akan mencermati indeks PMI S&P, indeks sentimen konsumen University of Michigan, dan berbagai survei regional Federal Reserve.
Selain faktor geopolitik dan data ekonomi, pelaku pasar terus memperhatikan prospek suku bunga AS setelah muncul sinyal hawkish dari Federal Reserve. Kondisi tersebut tercermin dari indeks dolar AS yang berada di level 100,8 dan bertahan dekat posisi tertinggi dalam satu tahun terakhir. “Dolar AS menguat sekitar 1,1% sepanjang pekan,” kata Andry.
Baca Juga
IHSG Dibuka Melesat 0,65%, Lompatan Melanda Sejumlah Saham Ini
Menurut Andry, Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuannya sesuai ekspektasi pasar. Namun, bank sentral AS tersebut mencatat adanya dukungan yang semakin besar terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat pada akhir tahun ini.
Sekitar separuh anggota Federal Open Market Committee (FOMC) kini memproyeksikan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga pada 2026. Saat ini, pasar memperkirakan peluang sekitar 50% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September 2026.
Sementara itu, Ketua The Fed Kevin Warsh belum memberikan panduan terkait langkah kebijakan berikutnya. Namun, ia menegaskan inflasi masih berada di atas target 2% selama beberapa tahun terakhir dan kembali menekankan komitmen The Fed untuk memulihkan stabilitas harga.
