‘Greenback’ Kian Perkasa, Yen Terpuruk ke Level Terendah Empat Dekade
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Mata uang yen Jepang kembali tertekan hingga menyentuh level terlemah dalam hampir empat dekade terhadap dolar Amerika Serikat. Hal ini meningkatkan kewaspadaan pelaku pasar terhadap kemungkinan intervensi langsung pemerintah Jepang di pasar valuta asing.
Pada perdagangan Selasa (30/6/2026), yen sempat melemah hingga 162,58 per dolar AS. Ini merupakan level terendah sejak 1986 menurut data LSEG. Pelemahan tersebut memperpanjang tren depresiasi mata uang Jepang yang berlangsung sepanjang tahun ini.
Baca Juga
Rupiah Bergerak Melemah Terhadap Dolar AS, Imbas Perdamaian AS-Iran yang Masih Labil
Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama menegaskan pemerintah siap mengambil tindakan apabila terjadi pergerakan nilai tukar yang dinilai berlebihan.
"Kami siap mengambil langkah yang tepat, termasuk tindakan tegas sebagaimana telah dikonfirmasi bersama Amerika Serikat," ujar Katayama.
Senada dengan itu, Kepala Sekretaris Kabinet Minoru Kihara mengatakan pemerintah berupaya membangun ekonomi yang lebih tahan terhadap gejolak pasar valuta asing, sembari tetap membuka opsi intervensi apabila diperlukan.
Meski demikian, pemerintah tidak memberikan sinyal mengenai level nilai tukar tertentu yang akan menjadi pemicu intervensi.
Chief Investment Officer Nomura untuk kawasan Asia Utara, Julia Wang, menilai pelemahan yen ke level terendah baru memang meningkatkan kemungkinan intervensi pemerintah.
Baca Juga
Yen Jepang Terpuruk hingga 160 per Dolar AS, Terendah sejak 1990
Namun menurutnya, dampak intervensi kemungkinan hanya bersifat sementara.
"Intervensi tidak bergantung pada angka tertentu. Yang menjadi perhatian adalah karakter pergerakan mata uang itu sendiri. Karena ini merupakan titik terendah baru dalam satu siklus, pasar domestik akan kembali khawatir terhadap pelemahan yen," katanya, seperti dikutip CNBC.
Wang menambahkan, faktor fundamental yang menekan yen belum berubah. Selisih suku bunga dan imbal hasil riil antara Amerika Serikat dan Jepang masih cukup lebar sehingga mendorong praktik carry trade, yakni investor meminjam dana berbiaya murah dalam yen untuk diinvestasikan pada aset berimbal hasil lebih tinggi di luar negeri.
Strategi tersebut terus meningkatkan tekanan jual terhadap mata uang Jepang.
Sebelumnya, pada April hingga Mei, pemerintah Jepang menggelontorkan lebih dari 11,7 triliun yen atau sekitar US$72,8 miliar dari cadangan devisa untuk menopang mata uangnya.
Intervensi itu sempat membuat yen menguat tajam dari sekitar 160,39 menjadi 156,6 per dolar AS, bahkan sempat menyentuh kisaran 155 pada hari berikutnya. Namun penguatan tersebut tidak bertahan lama dan yen kembali melemah.
Di sisi kebijakan moneter, Bank of Japan (BOJ) baru-baru ini menaikkan suku bunga acuannya menjadi 1%, tertinggi sejak 1995. Langkah tersebut merupakan bagian dari normalisasi kebijakan moneter yang dimulai pada 2024 setelah bertahun-tahun mempertahankan suku bunga sangat rendah.
Kenaikan suku bunga dilakukan untuk meredam tekanan inflasi, yang sempat meningkat akibat lonjakan harga energi selama konflik Iran.
Sejalan dengan itu, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor sangat panjang ikut melonjak. Yield obligasi tenor 40 tahun naik sekitar 7 basis poin menjadi 3,779%, sedangkan tenor 30 tahun meningkat hampir 8 basis poin menjadi 3,914%.
Dolar AS Masih Mendominasi
Di pasar valuta asing internasional, tekanan terhadap yen terjadi di tengah penguatan dolar AS yang berlanjut memasuki paruh kedua 2026.
Menurut laporan Reuters, indeks dolar AS mencatat kenaikan kuartalan keempat berturut-turut karena investor semakin yakin Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama setelah serangkaian data ekonomi AS menunjukkan ketahanan ekonomi dan inflasi yang masih relatif kuat.
Laporan Wall Street Journal menyebut WSJ Dollar Index naik sekitar 0,85% sepanjang kuartal II, sekaligus membukukan empat kuartal berturut-turut menguat. Penguatan tersebut turut menekan hampir seluruh mata uang utama dunia.
Sementara itu, Euro relatif stabil, namun masih menghadapi tekanan akibat perlambatan inflasi dan pertumbuhan ekonomi kawasan euro yang belum pulih sepenuhnya. Pound sterling juga bergerak terbatas karena investor menunggu arah kebijakan moneter berikutnya dari Bank of England di tengah ketidakpastian politik Inggris.
Mata uang negara berkembang di Asia cenderung melemah mengikuti penguatan dolar, meski meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah membantu mengurangi volatilitas pasar keuangan global.
Para analis memperkirakan fokus pelaku pasar dalam beberapa hari ke depan akan tertuju pada laporan nonfarm payrolls, tingkat pengangguran Amerika Serikat, serta perkembangan kebijakan bank sentral utama dunia. Data-data tersebut dipandang akan menjadi penentu arah dolar AS dan pasar valuta asing global pada awal semester kedua 2026.
