RUPST Baramulti Suksessarana (BSSR) Bagi Dividen Rp 486 per Saham, Rombak Direksi dan Komisaris
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Baramulti Suksessarana Tbk (BSSR) menyetujui pembagian dividen tunai sebesar US$ 70 juta dari laba bersih tahun buku 2025. Dengan kurs tengah Bank Indonesia per 9 Juni 2026 sebesar Rp 18.171 per dolar AS, nilai dividen tersebut setara Rp 486,13 per saham.
Direktur Utama PT Baramulti Suksessarana Tbk Widada mengatakan, dividen akan dibayarkan kepada pemegang saham yang tercatat dalam Daftar Pemegang Saham (DPS) pada 26 Juni 2026. Berdasarkan perhitungan perusahaan, dividend payout ratio (DPR) mencapai sekitar 63,83% dari laba bersih 2025 sebesar US$83,98 juta. Adapun pada tahun lalu, laba bersih BSSR tercatat sebesar US$ 83,98 juta, dibandingkan US$ 131,55 juta pada 2024.
Selain menyetujui pembagian dividen, RUPST juga menyetujui perubahan susunan pengurus perseroan. "Pemegang saham menerima pengunduran diri Jinendra Vardhaman Patil dan Jeong Woo Yoo dari jabatan komisaris. Sebagai penggantinya, RUPST mengangkat Anjali Pandey sebagai Komisaris dan Seok Chul Sohn sebagai Komisaris Perseroan," ujarnya di Jakarta, Senin (15/6/2026).
Dari jajaran direksi, pemegang saham menyetujui pengunduran diri Kamlesh Kumar sebagai Wakil Direktur Utama dan menunjuk Rajesh Daga untuk mengisi posisi tersebut. RUPST juga menyetujui pengunduran diri Sangwon Lee sebagai Direktur dan mengangkat Dongho Lee sebagai penggantinya.
Baca Juga
Baramulti Suksessarana (BSSR) Tebar Dividen Final US$ 20 Juta
Berikut susunan komisaris dan direksi PT Baramulti Suksessarana Tbk :
Dewan Direksi:
- Direktur Utama: Widada
- Wakil Direktur Utama: Rajesh Daga
- Direktur: Deden Ramdhan
- Direktur: Arun Viswanathan
- Direktur: Dongho Lee
- Direktur: Wong Liong Tje
- Direktur: Fareza Deshandi
Dewan Komisaris:
- Komisaris Utama: Badrodin Haiti
- Wakil Komisaris Utama: Sanjeev Churiwala
- Komisaris: Adikin Basirun
- Komisaris: Anjali Pandey
- Komisaris: Seok Chul Sohn
- Komisaris Independen: Irwandy Arif
- Komisaris Independen: RR Assistia Semiawan
- Komisaris Independen: Paul Tambunan.
Sementara itu, perseroan mencatat kinerja positif pada kuartal I 2026 yang ditopang kenaikan harga batu bara serta peningkatan efisiensi operasional. Pasalnya harga batu bara pada awal 2026 berada di level yang lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Selain faktor harga, kinerja operasional juga membaik seiring rasio operasional yang lebih efisien dibandingkan 2025.
Hingga 31 Desember 2025, total cadangan batu bara BSSR tercatat sebesar 32,3 juta ton. Untuk memperpanjang umur tambang (life of mine), perseroan terus melanjutkan kegiatan eksplorasi, khususnya di wilayah konsesi PT Antang Gunung Meratus (AGM).
Widada mengatakan, Dari total area PKP2B AGM seluas sekitar 22.000 hektare, saat ini baru sekitar 6.000-7.000 hektare yang telah beroperasi. Perseroan telah melakukan eksplorasi di sejumlah area baru, termasuk Blok 5 dan Blok 6, meskipun hasilnya sejauh ini belum optimal.
Di tengah fluktuasi harga batu bara global, manajemen tetap optimistis terhadap prospek industri. Setelah sempat tertekan pada 2025 akibat berbagai kebijakan global, harga batu bara kini kembali menguat hingga kisaran US$ 67 per ton dari level awal tahun sekitar US$ 50 per ton.
Baca Juga
Berbanding Terbalik, Laba Baramulti (BSSR) Turun Saat Pendapatan Naik
Terkait ekspansi anorganik, BSSR mengaku masih bersikap selektif di tengah berbagai perubahan regulasi pemerintah, termasuk rencana kebijakan ekspor satu pintu. Namun, perseroan tetap membuka peluang untuk menindaklanjuti proyek atau akuisisi yang dinilai layak secara bisnis.
“Kami tetap terbuka terhadap peluang proyek yang feasible dan sejalan dengan kompetensi perseroan di sektor batu bara,” ujar Widada.
Untuk tahun 2026, Direktur PT Baramulti Suksessarana Tbk Wong Liong Tje mengatakan, BSSR mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$ 26,3 juta. Sebagian besar atau sekitar 71,1% capex akan digunakan untuk akuisisi lahan, sedangkan sisanya dialokasikan untuk penggantian alat berat dan kebutuhan operasional lainnya.
Nilai capex tersebut turun sekitar 28% dibandingkan tahun sebelumnya. Hingga Mei 2026, realisasi penyerapan capex baru mencapai sekitar 12,7%.
Manajemen menjelaskan rendahnya serapan capex disebabkan sebagian besar anggaran dialokasikan untuk pembelian lahan yang proses realisasinya bergantung pada negosiasi dengan pemilik lahan. Perseroan tetap optimistis target akuisisi lahan dapat terealisasi sesuai rencana pada tahun ini
