IHSG Melonjak 4% Hari Ini, Mirae Asset Ungkap Faktor Penopang Berikut
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai stabilitas nilai tukar rupiah dan pergerakan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) menjadi faktor utama yang akan menentukan keberlanjutan penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
IHSG BEI, Senin (15/6/2026), ditutup naik signifikan sebanyak 247,31 poin (4,12%) menjadi 6.254, bahkan sempat melambung lebih dari 5% di intraday sesi II. Lompata ini ditopang kenaikan sejumlah sektor saham, seperti sektor material dasar 7,26%, sektor keuangan 5,23%, dan sektor industri 4,51%.
Baca Juga
Saham Bank Jadi Primadona Pemodal Asing Hari Ini, BBCA, BMRI, dan BBNI Diborong
Saham pendorong AMMN menguat 9,57%, BBCA naik 5,91%, BBRI naik 4,91%, BBNI naik 6,74%, dan BMRI naik 7,14. Kenaikan juga didukung penguatan seluruh saham emiten Prajogo Pangestu, seperti TPIA, BREN, BRPT, CUAN, CDIA, dan PTRO.
Head of Research and Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan penguatan IHSG yang terjadi saat ini masih didominasi faktor technical rebound. Namun, menurutnya, pergerakan tersebut juga didukung oleh mulai membaiknya sejumlah indikator fundamental.
“Penguatan yang terjadi saat ini masih didominasi oleh technical rebound. Namun, rebound tersebut bukan tanpa dasar karena mulai terlihat tanda-tanda bahwa kebijakan moneter Bank Indonesia yang lebih tegas serta de-eskalasi ketegangan geopolitik turut membantu menstabilkan nilai tukar rupiah dan yield obligasi. Meski demikian, arus modal asing masih cenderung selektif,” ujar Rully dalam keterangannya kepada media, Senin (15/6/2026).
Baca Juga
RUPST Indokripto Koin Semesta (COIN) Restui Tahan Laba, Fokus Perkuat Modal dan Infrastruktur
Sebelumnya, pasar keuangan domestik sempat menghadapi tekanan akibat pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), serta meningkatnya ketidakpastian global. Kondisi tersebut mendorong kenaikan risk premium Indonesia yang pada akhirnya membebani valuasi pasar saham.
Menurut Rully, keberlanjutan penguatan IHSG akan sangat bergantung pada perkembangan indikator makro, terutama pergerakan rupiah dan yield obligasi pemerintah yang menjadi perhatian investor.
“Jika rupiah mampu bertahan menguat dan yield SBN tenor 10 tahun turun secara bertahap dari level puncaknya di atas 7,3% menuju kisaran yang lebih rendah, premi risiko Indonesia akan menurun. Kondisi tersebut akan membuka ruang bagi masuknya kembali aliran dana asing ke pasar obligasi maupun saham,” ujar Rully.
Baca Juga
Rupiah ke Level Rp 17.719 per Dolar AS, Analis: Berpotensi Lanjut Menguat ke Rp17.500 per Dolar AS
Ia menambahkan, pasar masih akan mencermati perkembangan sentimen global, arah kebijakan moneter, serta stabilitas pasar keuangan domestik.
Meski sejumlah indikator mulai menunjukkan perbaikan, investor masih menunggu konfirmasi yang lebih kuat bahwa penurunan risk premium dan stabilisasi rupiah dapat berlanjut secara berkelanjutan sebelum optimisme terhadap pasar kembali menguat.
