IHSG Sesi I Melesat 5,03% ke Atas 6.300, Pengamat Ungkap Faktor Pendorong Ini
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) melanjutkan reli pada perdagangan Senin (15/6/2026) dengan kenaikan lebih dari 5%. Penguatan tersebut mencerminkan meningkatnya optimisme pelaku pasar terhadap aset berisiko di dalam negeri.
Berdasarkan data RTI Business, pada penutupan perdagangan sesi I, IHSG menguat 302,077 poin atau 5,03% ke level 6.309,73. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp17,2 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 33,25 miliar saham.
Pengamat pasar modal Elandry Pratama mengatakan terdapat sejumlah faktor yang mendorong penguatan IHSG pada perdagangan hari ini. Salah satunya adalah technical rebound setelah pasar mengalami tekanan cukup dalam dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi tersebut membuat valuasi sejumlah saham berkapitalisasi besar, terutama sektor perbankan, berada pada level yang menarik sehingga memicu aksi bargain hunting.
Baca Juga
IHSG Sesi I Melesat 5,03%, Lompatan Didukung Sejumlah Sentimen Positif Ini
“Technical rebound setelah tekanan cukup dalam dalam beberapa pekan terakhir. Valuasi sejumlah saham big caps terutama perbankan sudah berada di level yang menarik sehingga memicu aksi bargain hunting,” ujar Elandry.
Selain itu, perbaikan sentimen global turut mendukung pergerakan pasar saham domestik. Elandry menilai meredanya kekhawatiran investor terhadap eskalasi konflik geopolitik telah mengurangi sikap risk aversion di pasar keuangan.
“Perbaikan market sentiment global, terutama setelah meredanya kekhawatiran investor terhadap eskalasi konflik geopolitik yang sebelumnya sempat mendorong risk aversion di pasar keuangan,” katanya.
Baca Juga
Faktor lain yang menopang penguatan IHSG adalah kembali masuknya dana asing ke saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya sektor perbankan yang memiliki bobot signifikan terhadap pergerakan indeks.
“Masuknya kembali dana asing ke saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya sektor perbankan, yang memberikan dorongan signifikan terhadap indeks karena bobotnya yang besar,” jelas Elandry.
Nilai Tukar
Di sisi lain, penguatan nilai tukar rupiah dan stabilitas pasar obligasi juga dinilai meningkatkan kepercayaan investor terhadap aset berisiko domestik. “Penguatan rupiah dan stabilitas pasar obligasi turut meningkatkan kepercayaan investor terhadap aset berisiko domestik sehingga risk appetite mulai membaik,” ujarnya.
Mengenai prospek pasar ke depan, Elandry menilai peluang keberlanjutan tren penguatan masih terbuka dalam jangka pendek selama didukung oleh aliran dana asing dan sentimen global yang tetap kondusif. Meski demikian, ia mengingatkan volatilitas pasar masih berpotensi tinggi karena investor menunggu sejumlah agenda penting dalam waktu dekat.
Baca Juga
BRI (BBRI) Perluas Akses Investasi Global melalui BRImo, Hadirkan Reksa Dana USD Batavia
“Namun, saya masih melihat volatilitas cukup tinggi karena pasar masih menunggu beberapa agenda penting dalam waktu dekat seperti keputusan suku bunga The Fed, BI Rate, serta perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah,” katanya.
Elandry menambahkan, meskipun momentum penguatan saat ini cukup positif, kenaikan yang terlalu cepat juga berpotensi memicu aksi ambil untung oleh investor.
“Jadi, meskipun momentum penguatan saat ini cukup positif, saya melihat kenaikan yang terlalu cepat juga berpotensi diikuti aksi profit taking. Untuk pekan ini, fokus investor tetap perlu diarahkan pada saham-saham berfundamental kuat dan likuiditas tinggi yang menjadi tujuan utama aliran dana investor,” terangnya.
