Perlawanan terhadap Reformasi Ekonomi: Ketika Rupiah dan IHSG Dijadikan Senjata
Poin Penting
|
Oleh: Sanusi *)
INVESTORTRUST.ID - Selama hampir tiga dekade di pasar modal Indonesia, saya telah menyaksikan krisis sungguhan — 1998, 2008, 2020. Saya tahu seperti apa krisis dari dalam. Yang terjadi sekarang berbeda. Ini bukan krisis yang datang dari kelemahan fundamental. Ini tekanan yang dirancang untuk terlihat seperti krisis.
Saya telah berada di pasar modal Indonesia sejak tahun 1999. Saya mengalami sendiri krisis 1998, kejatuhan berbagai konglomerasi, krisis global 2008, taper tantrum, pandemi Covid-19, hingga berbagai gejolak politik dan ekonomi yang mengguncang pasar keuangan nasional.
Namun apa yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir menimbulkan pertanyaan besar yang tidak bisa saya diamkan.
Bukan karena rupiah melemah. Bukan karena indeks harga saham gabungan (IHSG) turun. Kedua hal tersebut adalah bagian normal dari kehidupan pasar. Yang mengusik adalah besarnya tekanan yang terjadi dibandingkan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini.
I. Anomali yang Tidak Bisa Dijelaskan secara Wajar
Izinkan saya meletakkan dua kelompok fakta secara berdampingan, tanpa interpretasi terlebih dahulu:
Negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi dalam 13 tahun tidak seharusnya memiliki indeks saham dengan kinerja terburuk di dunia. Ini bukan logika pasar yang bekerja normal. Ini anomali yang memerlukan penjelasan lebih dalam dari sekadar "sentimen negatif" atau "rebalancing MSCI".
Dan ada satu fakta yang semakin menguatkan kecurigaan saya:
Volatilitas pasar internasional menurun. Tensi Timur Tengah mereda. Mayoritas mata uang emerging market menguat terhadap dolar AS. Namun Indonesia bergerak ke arah yang berlawanan. Rupiah melemah, IHSG jatuh, asing keluar. Ketika seluruh dunia membaik tapi satu negara terus memburuk — itu bukan faktor global. Itu ada sesuatu yang spesifik untuk negara itu.
II. "Jual Indonesia" — Dari Bisikan Menjadi Seruan Terbuka
Jika sebelumnya tekanan ini hanya terasa di angka-angka, kini sudah ada yang bersuara terang-terangan.
George Boubouras, Kepala Riset di K2 Asset Management —hedge fund global yang mengelola dana sekitar US$4,3 miliar — menyatakan secara terbuka kepada Bloomberg: "Perdagangan paling populer di Asia saat ini adalah 'jual Indonesia'."
Boubouras bahkan mengungkapkan bahwa dirinya memiliki "nol eksposur ke Indonesia" dan tidak akan memberi Indonesia "kesempatan" untuk masuk kembali ke portofolionya.
Pernyataan seperti ini bukan sekadar opini. Dari seorang kepala riset hedge fund pengelola miliaran dolar, ini adalah sinyal kepada komunitas investor global — sebuah ajakan yang, ketika diikuti oleh cukup banyak pelaku, akan menjadi kenyataan yang menghancurkan dirinya sendiri.
Ini bukan sekadar investor yang kecewa. Ini adalah pelaku yang memiliki kapasitas untuk menggerakkan pasar, menyampaikan pesan kepada publik global bahwa Indonesia layak untuk ditinggalkan. Motifnya perlu dipertanyakan.
Yang perlu kita tanyakan: mengapa seorang kepala riset hedge fund global merasa perlu berbicara sekeras itu kepada media? Investor yang sekedar kecewa biasanya diam dan pergi. Investor yang ingin menekan sebuah negara biasanya berbicara keras agar yang lain ikut.
III. Anatomi Tekanan — Berlapis dan Bersamaan
Berdasarkan pengamatan mendalam selama hampir tiga dekade, saya mengidentifikasi tekanan yang terjadi bukan dari satu arah, melainkan berlapis secara bersamaan:
Lapisan pertama: Tekanan di pasar valuta asing
Posisi short rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) offshore dilakukan dalam skala besar. Pasar ini beroperasi di luar yurisdiksi Bank Indonesia (BI) sehingga sangat rentan terhadap aksi spekulatif. Pelemahan rupiah yang jauh melampaui nilai fundamentalnya — yang berdasarkan Purchasing Power Parity (PPP) seharusnya berada di kisaran Rp15.000 — adalah bukti nyata overshooting yang tidak wajar.
Lapisan kedua: Pembantaian sistematis saham perbankan
Saham BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI ditekan secara bersamaan. BBCA saja mencatatkan net sell asing hingga Rp26,8 triliun. Keempat saham ini adalah motor penggerak IHSG. Menekan keempatnya sekaligus berarti mengendalikan arah indeks secara keseluruhan. Akibatnya, BMRI menawarkan dividend yield 11,58% dan BBRI 11,34%, angka yang tidak masuk akal untuk bank sekuat ini, kecuali harganya memang sengaja ditekan jauh di bawah nilai wajarnya.
Lapisan ketiga: Tekanan di pasar obligasi
Net sell asing di obligasi pemerintah mencapai Rp14,29 triliun. Ini bukan sekadar rotasi portofolio biasa. Ketika tekanan terjadi bersamaan di tiga instrumen (saham, valuta asing, dan obligasi), ini menunjukkan pola yang lebih terstruktur dari sekadar reaksi organik pasar.
Lapisan keempat: Amplifikasi narasi
Secara bersamaan beredar narasi-narasi yang dirancang untuk memaksimalkan kepanikan: perbandingan dengan krisis 1998 yang tidak akurat, ancaman downgrade MSCI yang dibesar-besarkan, dan berbagai alasan yang disampaikan secara konsisten melalui media tertentu dan influencer keuangan. Di era digital, koordinasi formal tidak lagi diperlukan. Cukup ada kesamaan kepentingan, kesamaan kemarahan, dan kesamaan tujuan, maka narasi menyebar dengan sendirinya.
IV. Dua Kebijakan yang Menjadi Pemicu Sesungguhnya
Tekanan ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Ada dua kebijakan konkret yang secara langsung mengancam kepentingan pihak-pihak tertentu. Timing kemunculan tekanan ini terlalu berdekatan dengan pengumuman kebijakan-kebijakan tersebut untuk disebut kebetulan.
Kebijakan pertama: PP Nomor 21 Tahun 2026 tentang Devisa Hasil Ekspor SDA
Aturan ini mewajibkan seluruh eksportir SDA nonmigas memasukkan 100% devisa hasil ekspor ke sistem keuangan Indonesia dan menyimpannya di bank-bank anggota Himpunan Bank-Bank Milik Negara (Himbara) selama minimal 12 bulan. Selama puluhan tahun, dolar AS hasil eksploitasi SDA Indonesia diparkir nyaman di bank-bank Singapura, Hong Kong, atau yurisdiksi offshore. Kebijakan ini mengakhiri praktik tersebut secara tegas.
Kebijakan kedua: PP Nomor 24 Tahun 2026 tentang Ekspor Komoditas SDA Strategis Satu Pintu
Kebijakan ini mewajibkan ekspor batu bara, kelapa sawit, dan ferro alloy hanya melalui satu pintu: PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Yang paling mengancam kepentingan besar: DSI berwenang menentukan harga jual dan margin — pricing power yang selama puluhan tahun dipegang sepenuhnya oleh tangan swasta, termasuk asing. Bukan hanya pemain domestik yang kehilangan privilege. Pemain asing yang selama ini menikmati keleluasaan menetapkan harga dan transfer profit ke luar negeri pun terdampak langsung.
Setiap perubahan besar hampir selalu menghasilkan pihak yang diuntungkan dan pihak yang dirugikan. Kelompok yang selama ini memperoleh manfaat dari mekanisme lama memiliki alasan ekonomi untuk menolak perubahan tersebut. Dan pihak yang merasa dirugikan tidak selalu diam.
Yang saya amati: tekanan terhadap rupiah dan IHSG meningkat tajam justru setelah kebijakan-kebijakan ini diumumkan dan mulai diimplementasikan. Apakah itu kebetulan? Mungkin. Namun sebagai pelaku pasar yang telah mengamati pasar hampir tiga dekade, saya percaya bahwa kebetulan yang terlalu banyak layak dipertanyakan.
V. Pasar Tidak Selalu Bergerak Karena Fundamental
Banyak orang menganggap pasar selalu rasional. Pengalaman saya selama hampir tiga dekade justru menunjukkan bahwa pasar sering kali bergerak berdasarkan persepsi.
Persepsi kemudian berubah menjadi tindakan. Tindakan berubah menjadi kenyataan.
Ketika cukup banyak pelaku percaya rupiah akan melemah, mereka membeli dolar. Ketika cukup banyak pelaku percaya pasar saham akan turun, mereka menjual saham. Ketika cukup banyak pelaku percaya kebijakan pemerintah akan gagal, mereka mengurangi eksposur terhadap Indonesia. Akhirnya pasar benar-benar turun. Bukan karena fundamental berubah terlebih dahulu, melainkan karena ekspektasi yang berubah.
Inilah yang dalam teori pasar keuangan disebut self-fulfilling prophecy. Dan inilah yang saat ini sedang terjadi di Indonesia.
Pasar NDF berperan penting dalam mekanisme ini. NDF adalah pasar ekspektasi nilai tukar di masa depan yang memungkinkan pelaku mengambil posisi terhadap arah rupiah tanpa melakukan transaksi fisik. Dalam kondisi sentimen negatif yang kuat, NDF dapat memperbesar dan mempercepat penyebaran ekspektasi pelemahan rupiah ke seluruh pasar keuangan global. NDF tidak menciptakan fundamental yang buruk. Tetapi NDF dapat mengubah sentimen menjadi pergerakan harga yang nyata.
VI. Ini Bukan 1998 — Perbandingan yang Berbahaya
Salah satu narasi yang paling berbahaya yang beredar saat ini adalah perbandingan dengan krisis 1997–1998. Perbandingan ini bukan saja tidak akurat, melainkan tampak disengaja untuk memaksimalkan kepanikan.
Pada 1997–1998: utang swasta dalam denominasi dollar sangat masif dan tidak ter-hedging, sistem perbankan rapuh dengan kredit bermasalah (NPL) yang meledak, cadangan devisa hanya cukup untuk beberapa minggu impor, dan fundamental ekonomi memang bermasalah secara struktural.
Hari ini: cadangan devisa US$ 146 miliar lebih dari enam bulan impor, sistem perbankan dengan capital adequacy ratio (CAR) solid, utang luar negeri dalam proporsi yang jauh lebih sehat, dan ekonomi tumbuh 5,61% pada kuartal I-2026 (year on year/yoy).
Credit Default Swap (CDS), ukuran paling jujur yang digunakan pasar untuk menilai risiko gagal bayar sebuah negara, berada di level normal. Pasar obligasi internasional tidak memberikan sinyal alarm. Kedua indikator ini tidak bisa dimanipulasi oleh narasi — dan keduanya mengatakan: Indonesia tidak sedang menuju krisis.
VII. Perspektif dari Sejarah
Indonesia bukan satu-satunya negara yang pernah menghadapi tekanan pasar di tengah upaya reformasi struktural yang menyentuh kepentingan besar.
Mahathir Mohamad menghadapi serangan spekulatif sengit ketika Malaysia memperkenalkan kontrol kapital pada 1998. Narasi "Malaysia akan bangkrut" tersebar luas. Mahathir tidak mundur. Malaysia justru pulih lebih cepat pulih dan tumbuh dibanding negara-negara yang mengikuti resep Dana Moneter Internasional (IMF).
China mempertahankan sistem kontrol devisa yang ketat sejak lama, dengan mewajibkan repatriasi devisa hasil ekspor ke sistem keuangan domestik. Hasilnya: cadangan devisa terkuat di dunia dan stabilitas mata uang yang relatif terjaga dari tekanan eksternal.
Pola yang konsisten di berbagai negara: kebijakan kontrol devisa dan reformasi struktural selalu diserang habis-habisan di awal implementasinya oleh pihak-pihak yang kehilangan privilege. Negara yang konsisten menjalankannya terbukti lebih resilient dalam jangka panjang.
VIII. Apa yang Perlu Dilakukan
Saya menyampaikan beberapa hal yang mendesak untuk diperhatikan:
Pertama, pemerintah harus konsisten dan tidak mundur dari kebijakan DHE SDA dan ekspor satu pintu. Mundur di bawah tekanan pasar akan mengirimkan sinyal yang jauh lebih berbahaya: bahwa pemerintah ini bisa ditekan kapan saja melalui serangan pasar. Itu akan mengundang serangan-serangan berikutnya.
Kedua, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) perlu menyelidiki pola transaksi secara serius. Siapa yang memegang posisi short terbesar di NDF rupiah? Siapa yang melakukan net sell terkoordinasi di saham-saham perbankan? Apakah ada hubungan antara pihak-pihak tersebut dengan kelompok yang terdampak langsung oleh kebijakan DHE SDA dan ekspor satu pintu?
Ketiga, investor ritel harus memahami situasi ini dengan jernih.
Setiap saham yang dijual dalam kepanikan adalah keuntungan bagi pihak yang menciptakan kepanikan itu. Dividend yield BMRI dan BBRI yang menembus 11% dari bank-bank dengan fundamental sekuat ini adalah sinyal yang sangat jelas bagi investor yang berpikir jangka panjang.
Keempat, narasi tandingan berbasis data harus dibangun secara konsisten. Pasar bergerak berdasarkan kepercayaan. Kepercayaan dibangun melalui konsistensi pesan dan konsistensi kebijakan. Komunikasi yang solid dari Istana, Kemenko Perekonomian, Kemenkeu, dan Bank Indonesia (BI) secara terkoordinasi adalah bagian dari pertahanan yang tidak kalah pentingnya dari intervensi di pasar valas.
IX. Penutup
Semua yang saya tulis di atas adalah hipotesis yang lahir dari pengamatan terhadap pola pasar, bukan tuduhan terhadap pihak tertentu. Saya tidak memiliki bukti adanya koordinasi formal. Saya tidak memiliki akses terhadap posisi perdagangan para hedge fund global.
Namun sebagai investor yang telah melewati berbagai siklus pasar, saya tidak dapat mengabaikan fakta bahwa pergerakan pasar kali ini terasa berbeda dari biasanya.
Pasar keuangan modern adalah perpaduan antara uang, psikologi, kepentingan, dan narasi. Terkadang narasi mampu bergerak lebih cepat dari fundamental itu sendiri. Dan terkadang, pasar dijadikan senjata oleh mereka yang cukup besar untuk menggerakkannya.
Pertanyaan yang perlu dijawab bukan hanya mengapa rupiah melemah dan IHSG jatuh. Tetapi juga siapa yang diuntungkan oleh pelemahan tersebut, siapa yang dirugikan oleh kebijakan baru pemerintah, dan apakah kedua hal tersebut memiliki hubungan yang lebih erat dari yang selama ini kita sadari.
Hingga saat ini, menurut pandangan saya, pertanyaan-pertanyaan tersebut masih layak untuk terus didiskusikan secara terbuka, kritis, dan objektif.
Dan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu akan menentukan apakah reformasi ekonomi yang sedang berjalan ini akan berhasil — atau berhasil digagalkan oleh mereka yang tidak rela kehilangan privilege yang telah mereka nikmati atas beban bangsa ini. ***
*) Praktisi pasar modal/investor sejak 1999/mantan Ketua Umum Masyarakat Investor Sekuritas Seluruh Indonesia (MISSI).
* Catatan Transparansi: Artikel ini ditulis berdasarkan analisis, pengalaman, dan pandangan penulis, dengan bantuan kecerdasan buatan (AI) sebagai alat bantu penulisan dan penyusunan data. Seluruh argumen, penilaian, dan kesimpulan merupakan tanggung jawab dan pandangan pribadi penulis.
