IHSG Masih Bisa Menguat ke 6.000, Namun Profit Taking Berpotensi Muncul
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) masih berpeluang lanjutkan kenaikan menuju level psikologis 6.000, Kamis (11/6/2026). Namun, setelah reli tajam dalam dua hari terakhir, pasar juga berpotensi memasuki fase konsolidasi atau koreksi wajar.
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan area support IHSG saat ini berada di kisaran 5.731, sementara level 6.000 menjadi resistance psikologis yang cukup kuat.
“Apabila indeks gagal menembus dan bertahan di atas level tersebut, maka koreksi jangka pendek menuju area support menjadi skenario yang cukup realistis. Namun selama IHSG mampu bertahan di atas area 5.700, tren pemulihan jangka menengah masih tetap terjaga,” kata Hendra kepada investortrust.id, Kamis (11/6/2026).
Baca Juga
IHSG Berpeluang Naik Menuju Level 6.000, Tiga Saham Dipimpin DSAA Layak Dilirik
Menurut dia, peluang konsolidasi atau koreksi pada perdagangan hari ini lebih besar dibandingkan melanjutkan penguatan tajam seperti yang terjadi dalam dua hari sebelumnya. “Aksi ambil untung berpotensi muncul setelah reli yang sangat cepat, terlebih ketika investor asing masih mencatatkan penjualan bersih dalam jumlah besar,” ujarnya.
Sebelumnya, penguatan IHSG selama dua hari berturut-turut yang membawa indeks kembali mendekati level 6.000 menunjukkan pasar mulai merespons langkah-langkah stabilisasi yang dilakukan otoritas.
Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar 25 basis poin menjadi 5,50% memberikan sentimen positif terhadap rupiah yang sempat menguat hingga kembali berada di bawah Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi tersebut juga meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik di tengah tekanan eksternal.
Baca Juga
Wall Street Ambruk Setelah Trump Ancam Serangan Baru ke Iran, Dow Ambles Lebih dari 900 Poin
Menurut Hendra, penguatan rupiah menjadi sinyal bahwa kebijakan moneter yang lebih ketat mampu meredam tekanan jangka pendek terhadap pasar keuangan Indonesia.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa reli IHSG yang telah mencapai lebih dari 10% dalam dua hari terakhir tetap perlu diwaspadai. “Secara teknikal, reli yang sangat cepat biasanya akan diikuti oleh aksi ambil untung (taking profit), terutama dari pelaku pasar jangka pendek yang memanfaatkan momentum rebound,” katanya.
Hal tersebut tercermin dari masih terjadinya aksi jual bersih investor asing sebesar Rp2,9 triliun. Kondisi itu menunjukkan bahwa meskipun indeks menguat tajam, investor global masih belum sepenuhnya kembali percaya terhadap prospek pasar Indonesia dalam jangka pendek.
Dengan demikian, penguatan pasar saat ini dinilai masih lebih banyak ditopang oleh investor domestik dibandingkan aliran dana asing yang berkelanjutan. Dari sisi eksternal, Hendra menilai eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi sumber risiko utama. Ketegangan geopolitik tersebut berpotensi menjaga volatilitas harga energi dunia tetap tinggi.
Walaupun harga minyak belum melonjak secara ekstrem, risiko gangguan distribusi melalui Selat Hormuz dapat memicu kenaikan harga energi global yang pada akhirnya meningkatkan tekanan inflasi di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Baca Juga
Selain itu, pasar global masih menunggu arah kebijakan bank sentral utama dunia serta data inflasi AS yang akan menjadi petunjuk bagi langkah suku bunga Federal Reserve (The Fed) ke depan. Kombinasi faktor tersebut berpotensi membuat investor cenderung lebih defensif dalam beberapa hari mendatang.
Dari dalam negeri, kenaikan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax sempat memicu kekhawatiran terhadap daya beli masyarakat dan tekanan inflasi. Namun, keputusan pemerintah mempertahankan harga BBM subsidi dan LPG bersubsidi berhasil meredakan kekhawatiran tersebut sehingga sentimen pasar kembali membaik.
Meski begitu, dampak lanjutan dari suku bunga yang lebih tinggi juga perlu diperhatikan. Kenaikan biaya dana berpotensi memperlambat pertumbuhan kredit, meningkatkan risiko kredit bermasalah (NPL) di beberapa sektor, serta menekan konsumsi masyarakat apabila berlangsung dalam periode yang cukup panjang.
“Dengan demikian, meskipun sentimen jangka pendek mulai membaik berkat stabilisasi rupiah dan respons positif terhadap kebijakan Bank Indonesia, pasar masih membutuhkan konfirmasi berupa kembalinya aliran dana asing, stabilitas geopolitik global, serta perbaikan indikator ekonomi domestik,” pungkas Hendra.

