IHSG Anjlok 4% Pagi Ini, Dua Sentimen Ini Jadi Pemberat Utama
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan hebat pada perdagangan intraday sesi I, Senin (8/6/2026), seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap prospek suku bunga tinggi di Amerika Serikat (AS) dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Mengacu data RTI Business hingga pukul 10.30 WIB, IHSG jatuh sebanyak 225 poin (4,04%) ke level terendah baru 5.369. Sepanjang perdagangan, indeks sempat menyentuh level tertinggi 5.523,94 dan terendah 5.346,34.
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana atau Didit mengatakan, pelemahan IHSG sejalan dengan penurunan mayoritas bursa saham global dan kawasan Asia. “Membuka perdagangan hari ini, IHSG terkoreksi lebih dari 4%. Hal tersebut sejalan dengan pergerakan mayoritas bursa global dan regional Asia,” kata Didit kepada investortrust.id, Senin (8/6/2026).
Baca Juga
Menurut dia, sentimen utama yang menekan pasar berasal dari data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang jauh lebih kuat, dibandingkan ekspektasi pasar. Kondisi tersebut meningkatkan spekulasi bahwa bank sentral AS, The Fed, akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan (higher for longer).
Selain faktor eksternal, pelemahan rupiah terhadap dolar AS menjadi tekanan tambahan bagi pasar saham domestik. Berdasarkan data, Rupiah kembali jatuh sebanyak Rp 128 ke level terendah Rp 18.148.
“Nilai tukar rupiah yang berlanjut melemah terhadap dolar AS masih menjadi sentimen IHSG yang saat ini berada di level Rp18.148 per dolar AS,” ujarnya.
Baca Juga
Pipeline IPO Saham di BEI Menyusut Jadi 12 Perusahaan per Juni 2026
Meski demikian, Didit melihat peluang terjadinya rebound jangka pendek dari sisi teknikal. Menurutnya, area gap pada level 5.395-5.412 telah tertutup sehingga berpotensi menjadi pijakan bagi pergerakan indeks selanjutnya.
Senada, Pengamat Pasar Modal Elandry Pratama menilai koreksi IHSG lebih dari 4% dipicu kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang muncul secara bersamaan.
Menurut Elandry, pelaku pasar masih merespons pelemahan bursa Amerika Serikat pada perdagangan Jumat (5/6/2026) yang kembali memunculkan kekhawatiran terhadap prospek pertumbuhan ekonomi global. Kondisi tersebut mendorong penurunan minat investor terhadap aset berisiko.
“Sentimen tersebut kemudian merembet ke mayoritas bursa Asia pada perdagangan hari ini sehingga tekanan jual tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di sejumlah pasar regional,” kata Elandry saat dihubungi investortrust.id, Senin (8/6/2026).
Baca Juga
Saham Big Bank Hancur, BBCA dan BBRI Sentuh Level Terendah Baru
Dari dalam negeri, investor juga mencermati berbagai dinamika politik dan sosial, termasuk isu rencana demonstrasi besar-besaran yang dinilai berpotensi meningkatkan ketidakpastian jangka pendek di pasar keuangan.
Selain itu, kekhawatiran terhadap keberlanjutan fiskal masih membayangi sentimen pasar, terutama setelah muncul berbagai pembahasan mengenai kebutuhan pendanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). “Meskipun pemerintah terus menegaskan komitmen menjaga disiplin fiskal, sebagian investor masih menunggu kejelasan sumber pendanaan dan dampaknya terhadap defisit anggaran dalam jangka menengah,” ujarnya.
Elandry menambahkan, kombinasi sentimen global yang negatif, tekanan pada bursa regional, kekhawatiran terhadap stabilitas fiskal, serta meningkatnya sikap hati-hati investor membuat aksi jual terkonsentrasi pada saham-saham berkapitalisasi besar. Kondisi tersebut pada akhirnya mendorong IHSG terkoreksi lebih dalam pada perdagangan hari ini.

