Bukan Karena Fundamental, Faktor Ini Jadi Biang Keladi Kejatuhan IHSG Nyaris 3%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali terperosok hampir 3% pada perdagangan Jumat (5/6/2026), seiring tekanan yang terjadi pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar disertai arus keluar dana asing dari pasar saham domestik.
Mengacu data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga pukul 10.27 WIB, IHSG turun 158,44 poin (2,71%) ke level 5.681,35. Nilai transaksi tercatat Rp 8,45 triliun dengan volume perdagangan 11,83 miliar saham. Tekanan terbesar datang dari kejatuhan saham BBCA setelah melemah 4,15% menjadi Rp 5.200 dan BBNI anjlok 3,22% menjadi Rp 3.310.
Baca Juga
Menurut pengamat pasar modal Elandry Pratama, penurunan IHSG lebih dari 2% hari ini dipicu kombinasi sentimen eksternal, pelemahan nilai tukar rupiah, serta meningkatnya kekhawatiran investor terhadap arus keluar dana asing yang membuat minat terhadap aset berisiko menurun.
“Saya melihat penurunan IHSG lebih dari 2% hari ini lebih banyak dipicu oleh kombinasi sentimen eksternal, pelemahan rupiah, dan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap arus keluar dana asing sehingga risk appetite pasar menurun,” kata Elandry kepada investortrust.id, Jumat (5/6/2026).
Adapun pelemahan saham-saham perbankan besar, seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI, bukan disebabkan memburuknya fundamental emiten. Menurut dia, saham-saham tersebut merupakan konstituen utama indeks dengan tingkat likuiditas tinggi, sehingga kerap menjadi sasaran aksi jual saat investor mengurangi risiko atau melakukan rebalancing portofolio.
“Dengan kata lain, tekanan yang terjadi saat ini lebih didorong oleh faktor market sentiment dan capital flow jangka pendek, dibanding perubahan pada kinerja operasional bank yang sejauh ini masih relatif solid,” tambah Elandry.
Fase Downtrend
Senada, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana atau Didit menilai IHSG masih berada dalam fase downtrend yang kuat dan belum menunjukkan sinyal pembalikan arah yang valid.
“Target koreksi IHSG yang kami sampaikan pada report pagi ini berada di rentang 5.395-5.412,” kata Didit kepada investortrust.id, Jumat (5/6/2026).
Baca Juga
Giliran Saham BBCA Hantam Pasar, IHSG Berbalik Anjlok 1,07% Pagi Ini
Didit menambahkan, investor masih mencermati derasnya arus keluar dana asing dari pasar saham Indonesia. Pada perdagangan sebelumnya, tercatat outflow sebesar Rp 1,27 triliun, sementara secara year-to-date (ytd) telah mencapai Rp 57,6 triliun.
Menurutnya, pelaku pasar juga masih memperhatikan perkembangan outlook peringkat Indonesia yang diturunkan menjadi negatif akibat meningkatnya risiko kebijakan fiskal dan potensi pelebaran defisit APBN. Selain itu, pergerakan rupiah terhadap dolar AS juga masih menjadi perhatian, meskipun pada hari ini mata uang Garuda sempat menguat.
Adapun sektor-sektor yang paling membebani pergerakan IHSG adalah energi, keuangan, dan infrastruktur. Untuk sektor perbankan, Didit menilai tekanan yang terjadi turut dipengaruhi kekhawatiran pasar terhadap isu independensi lembaga keuangan.

