IHSG Anjlok 1,70%, Samuel Sekuritas Sebut Valuasi Saham Justru Kian Menarik
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 101,29 poin atau 1,70% ke level 5.839 pada penutupan perdagangan hari ini, Kamis (4/6/2026). Di tengah pelemahan tersebut, Deputy President Director Samuel Sekuritas, Suria Dharma menilai kondisi pasar saat ini membuat valuasi saham menjadi semakin menarik untuk dijadikan investasi jangka panjang.
Menurut Suria, pengalaman dari berbagai krisis sebelumnya menunjukkan bahwa penurunan pasar sering kali menjadi momentum bagi investor untuk membeli saham pada harga yang lebih murah.
"Biasanya saat pasar turun, valuasi saham menjadi lebih menarik. Kondisi saat ini juga bisa menjadi peluang bagi investor jangka panjang," katanya kepada investortrust.id di Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Meski demikian, ia mengakui belum dapat memastikan kapan pasar akan kembali menguat. "Kapan pasar mulai naik memang sulit diprediksi. Tetapi dalam jangka panjang saya percaya pasar saham Indonesia akan kembali tumbuh," ujar Suria.
Suria menerangkan, pelemahan IHSG saat ini tidak disebabkan oleh memburuknya fundamental emiten. Bahkan, dia menyoroti sektor perbankan yang masih mencatatkan kinerja positif sepanjang kuartal I/2026.
Baca Juga
Prabowo Diam-Diam Sambangi Danantara saat Rupiah dan IHSG Kompak Merosot
"Secara fundamental tidak ada masalah. Kinerja perbankan masih cukup baik," ucapnya.
Dikatakan Suria, tekanan pada saham-saham perbankan lebih dipengaruhi oleh pengurangan porsi investasi Indonesia oleh investor global, mengingat sektor tersebut memiliki bobot besar dalam indeks global seperti MSCI dan FTSE.
"Karena bobot perbankan besar di indeks global, saham-saham bank ikut tertekan ketika investor asing mengurangi eksposur ke Indonesia," tuturnya.
Ia menambahkan, penurunan harga saham membuat sejumlah saham perbankan, termasuk bank-bank BUMN, menjadi lebih menarik dari sisi valuasi maupun dividen.
"Ini seperti yang terjadi pada dulu itu di saham batu bara. Saham batu bara valuasi turun, akhirnya dividend yield-nya menjadi tinggi gitu. Itu yang terjadi juga dengan saham-saham bank Himbara saat ini," terang Suria.
Terkait aksi jual investor asing yang telah mencapai lebih dari Rp 60 triliun secara year to date (ytd), Suria menilai arus modal berpotensi kembali masuk apabila berbagai ketidakpastian yang menghantui pasar mereda. "Kalau berbagai isu yang menjadi perhatian pasar sudah lebih jelas, sentimen bisa kembali membaik," katanya.
Ia juga optimistis status Indonesia sebagai emerging market tidak akan berubah. "Kemungkinan Indonesia turun ke frontier market sangat kecil. Posisi Indonesia di kelompok emerging market masih cukup kuat," tegas Suria.

