IHSG Berisiko Uji Level 5.800, Dua Faktor Ini Jadi Penentu
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Krisis sentimen yang membayangi pasar keuangan domestik masih berpotensi menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam jangka pendek.
Usai ditutup anjlok ke level 5.941 pada perdagangan Rabu (3/6/2026), IHSG diperkirakan berisiko menguji area psikologis berikutnya di kisaran 5.800 apabila tekanan jual dan arus keluar dana asing terus berlanjut.
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan pasar yang sedang mengalami krisis sentimen sering kali bergerak tidak rasional dalam jangka pendek.
Baca Juga
Bursa Eropa di Zona Merah, Saham Akzo Nobel Anjlok 17% Setelah Negosiasi Akuisisi Gagal
“Oleh karena itu, IHSG kemungkinan dapat mengalami tekanan lanjutan dan menguji area psikologis berikutnya di sekitar 5.800 hingga 6.000 sebelum akhirnya menemukan keseimbangan baru dan berpeluang melakukan pemulihan secara bertahap,” kata Hendra kepada investortrust.id, Rabu (3/6/2026).
Menurut Hendra, pelemahan IHSG tidak semata-mata dipicu faktor eksternal seperti memanasnya kembali konflik AS-Iran yang mendorong harga minyak dunia mendekati US$100 per barel. Tekanan juga datang dari berbagai sentimen domestik yang belum menemukan titik terang.
Pelemahan rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS, kekhawatiran terhadap kebijakan ekspor satu pintu, serta berlanjutnya arus keluar dana asing membuat investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko di Indonesia.
Di tengah mayoritas bursa Asia yang menguat, kondisi tersebut menunjukkan tekanan terhadap pasar domestik lebih banyak berasal dari faktor internal dibandingkan faktor eksternal.
Baca Juga
Hendra menilai pasar bergerak berdasarkan persepsi terhadap risiko dan prospek ke depan. Ketika pemerintah menyampaikan fundamental ekonomi masih kuat, namun rupiah terus melemah, IHSG menjadi salah satu indeks dengan kinerja terburuk di dunia tahun ini, dan investor asing terus melakukan aksi jual, maka muncul kesenjangan antara narasi dan realitas pasar. “Kepercayaan investor merupakan aset yang sangat mahal nilainya,” ujar Hendra.
Ia menjelaskan, ketika kepastian kebijakan berkurang dan pelaku pasar kesulitan memproyeksikan arah ekonomi ke depan, investor cenderung memilih menunggu atau memindahkan dananya ke negara lain yang dianggap lebih stabil.
Net Sell Berlanjut
Data arus modal asing juga mencerminkan kondisi tersebut. Pada perdagangan Rabu (3/6/2026), investor asing kembali mencatatkan net sell saham sekitar Rp 864 miliar. Secara akumulatif sejak awal tahun, dana asing yang keluar dari pasar saham Indonesia telah mencapai sekitar Rp 67 triliun.
“Angka ini tergolong sangat besar dan menjelaskan mengapa tekanan jual terus terjadi pada saham-saham berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi penopang indeks,” tuturnya.
Hendra menilai volatilitas pasar masih berpotensi tinggi selama arus keluar dana asing berlanjut dan belum ada katalis positif yang mampu mengembalikan kepercayaan investor global. Meski demikian, kondisi saat ini tidak harus disikapi dengan kepanikan.
Baca Juga
Net Sell Jumbo Rp 993,29 Miliar, Saham BBCA dan BBRI Diobral
Menurut dia, banyak saham unggulan telah mengalami koreksi yang cukup dalam sehingga mulai memasuki area yang menarik untuk investasi jangka panjang.
Bagi investor jangka panjang yang memiliki saham dengan fundamental kuat, strategi hold atau akumulasi bertahap masih dapat dipertimbangkan karena valuasi sudah jauh lebih murah dibandingkan beberapa bulan lalu.
“Namun, pembelian sebaiknya dilakukan secara bertahap dan tidak sekaligus, mengingat risiko koreksi lanjutan masih terbuka,” ujarnya.
Baca Juga
Sempat Diburu, Wamen Imipas Silmy Karim Serahkan Diri ke KPK
Sementara itu, bagi investor jangka pendek atau trader, Hendra mengingatkan pentingnya disiplin dalam menerapkan manajemen risiko mengingat volatilitas pasar masih sangat tinggi.
“Pada akhirnya, pemulihan pasar tidak hanya membutuhkan stabilisasi rupiah atau meredanya konflik global, tetapi juga membutuhkan kembalinya kepercayaan investor terhadap arah kebijakan ekonomi domestik,” ungkap Hendra.

