Teknologi dan Investasi Jadi Faktor Penentu Masa Depan Migas Indonesia
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Indonesia masih memiliki potensi besar minyak dan gas (migas), termasuk di Kalimantan yang bisa mendukung target produksi migas nasional pemerintah. Namun, peningkatan produksi membutuhkan dukungan investasi, teknologi, kepastian hukum, serta percepatan birokrasi agar pengembangan lapangan migas dapat berjalan lebih optimal.
Praktisi dan pakar migas Tumbur Parlindungan mengatakan, Indonesia membutuhkan investor yang memiliki kemampuan teknologi dan kekuatan finansial untuk mengembangkan potensi migas, termasuk di wilayah Kalimantan. Investor juga membutuhkan kepastian hukum atau contract sanctity sesuai kontrak kerja sama production sharing contract (PSC) yang telah ditandatangani sejak awal proyek berjalan.
Selain itu, regulasi di tingkat pusat maupun daerah diminta tidak bertentangan dengan kontrak PSC yang sudah disepakati agar iklim investasi tetap terjaga. “Investor membutuhkan kepastian hukum sesuai PSC yang telah ditandatangani sejak awal. Regulasi di pusat maupun daerah juga jangan sampai bertentangan dengan kontrak yang sudah disepakati,” ujar mantan President Indonesia Petroleum Association (IPA) kepada Investortrust.id. Jumat (22/5/2026).
Baca Juga
IEA Peringatkan Pasar Minyak Masuk “Zona Merah” pada Juli-Agustus
Tantangan lain yang cukup besar untuk wilayah darat atau onshore seperti di Kalimantan adalah proses pembebasan lahan dan perubahan status penggunaan lahan yang memerlukan waktu panjang. Untuk itu, pelaku industri mendorong pembentukan tim khusus lintas kementerian dan lembaga untuk membantu percepatan proses birokrasi dan perizinan proyek migas.
Selain kepastian regulasi, industri juga menilai iklim investasi yang sehat, infrastruktur penunjang, serta stabilitas politik dan keamanan menjadi faktor penting untuk menarik investasi baru di sektor migas.
Di sisi produksi, kata dia, penurunan produksi lapangan migas tua masih menjadi tantangan utama. Industri menilai laju penurunan produksi hanya dapat ditekan melalui pemanfaatan teknologi yang tepat guna. "Teknologi yang digunakan berbeda untuk setiap lapangan migas, tergantung karakteristik reservoir dan kondisi lapangan," kata Tumbur.
Untuk itu, kerja sama dengan perusahaan yang memiliki penguasaan teknologi menjadi kebutuhan penting dalam pengembangan migas nasional. "Penggunaan tingkat komponen dalam negeri atau TKDN juga diharapkan tetap mempertimbangkan kesiapan teknologi yang tersedia agar tidak menghambat operasional dan investasi," kata Tumbur.
Dia menilai peningkatan produksi migas nasional hanya dapat dicapai melalui penemuan lapangan baru lewat aktivitas eksplorasi yang lebih agresif, baik di wilayah darat maupun lepas pantai Kalimantan. “Tanpa aktivitas eksplorasi yang masif, peningkatan produksi akan sangat sulit terjadi,” ujarnya.
Baca Juga
Hashim Sebut Prabowo Amankan Pasokan 150 Juta Barel Minyak dari Rusia
Selain eksplorasi, Tumbur mengatakan, penerapan enhanced oil recovery (EOR) juga masih memungkinkan diterapkan di lapangan migas berukuran besar atau giant field. Namun, untuk lapangan marginal, implementasi EOR sulit dilakukan karena faktor keekonomian proyek yang kurang memadai.
Dia mengatakan, industri sebaiknya mulai memanfaatkan teknologi baru untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan lapangan migas, termasuk penggunaan machine learning dan artificial intelligence (AI) dalam operasional hulu migas. Pemanfaatan teknologi digital dapat membantu perusahaan menekan laju penurunan produksi sekaligus meningkatkan efisiensi operasi di tengah tantangan industri migas global yang semakin kompleks.

