Lelang Frekuensi 700 MHz Jadi Penentu Masa Depan 5G Indonesia
JAKARTA, investortrust.id - Lelang spektrum frekuensi 700 MHz (megahertz) dinilai akan menentukan perkembangan jaringan 5G di Indonesia. Sebab, peta persaingan antaroperator seluler akan sangat dipengaruhi oleh lelang tersebut.
Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) diketahui akan menggelar lelang spektrum frekuensi 700 MHz paling lambat Juni 2024. Lelang tersebut akan digelar bersamaan dengan lelang frekuensi 26 GHz (gigahertz) yang juga disiapkan untuk jaringan 5G.
Asal tahu saja, pita frekuensi 700 MHz sebelumnya diduduki oleh lembaga penyiaran. Pita frekuensi tersebut saat ini kosong setelah rampungnya migrasi siaran televisi analog ke digital terestrial atau analog switch off (ASO) pada tahun lalu.
Executive Director Indonesia Information and Communications Technology (ICT) Institute Heru Sutadi menilai ketertarikan operator terhadap lelang spektrum frekuensi 700 MHz akan sangat menentukan masa depan jaringan 5G di Indonesia.
Baca Juga
“Masa depan jaringan 5G tergantung bagaimana lelang spektrum frekuensi 700 MHz. Kalau jalan dan banyak operator berminat, maka potensi jaringan 5G berkembang akan makin besar,” katanya ketika dihubungi investortrust.id pada Kamis (25/4/2024).
Heru menyebut ketertarikan operator seluler dalam lelang tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh adanya insentif. Pemerintah juga harus mendorong agar 5G bisa dimanfaatkan secara optimal.
Saat ini, penggunaan jaringan 5G masih terbatas pada enhanced mobile broadband (eMBB) atau pengiriman data yang lebih cepat dibandingkan jaringan 4G.
Padahal, jaringan 5G dapat dimanfaatkan untuk machine type communication (MTC) yang biasa digunakan untuk perangkat internet untuk segala (Internet of Things/IoT). Kemudian juga ultra-reliable low latency communications (URLLC) yang digunakan dalam sistem mobil otomatis.
“Tinggal bagaimana used case 5G-nya dikembangkan, artinya pemanfaatan 5G lebih didorong. Kemudian juga harga ponselnya bisa lebih terjangkau,” ujar Heru.
Jaringan 5G Belum Optimal
Sementara itu, untuk jaringan 5G yang sudah tersedia saat ini menurut Heru jauh dari kata optimal. Kualitas jaringannya, nyaris sama dengan jaringan 4G yang kecepatan internet maksimalnya mencapai 100 MBPS (megabit per detik).
“Jaringan 5G di Indonesia belum optimal, sudah ada adopsi dan jaringan 5G tapi ya masih seperti 5G 5G-an,” katanya.
Baca Juga
XL Axiata Mundur Jika Harga Lelang Frekuensi 5G Terlalu Mahal
Kendalanya adalah keterbatasan spektrum frekuensi. Dibutuhkan setidaknya 100 MHz agar operator seluler bisa menggelar jaringan 5G secara optimal.
Saat ini, untuk menggelar jaringan 5G operator masih mengandalkan spektrum hasil penataan ulang atau refarming yang terbatas.
“Karena masih refarming spektrum frekuensi lama dan besarannya juga nggak sampai 100 MHz. Jadi kecepatan dan daerah yang ada 5G-nya terbatas,” papar Heru.
Untuk saat ini, pemerintah boleh beranggapan bahwa jaringan 4G sudah cukup untuk melayani kebutuhan telekomunikasi masyarakat. Namun, menurut Heru, kebutuhan internet masyarakat, khususnya di kota-kota besar sudah meningkat dan tidak bisa mengandalkan jaringan 4G saja.
“Sehingga harus di-upgrade ke 5G. Sebab sekarang pengguna internet kita terus bertambah, aplikasi di ponsel menjadi hal yang sering kita gunakan dan bahkan sekarang live streaming,” tegasnya.

