Januari 2027, Danantara Siapkan Platform Mandiri untuk Transaksi Komoditas RI
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — CEO Danantara Rosan Roeslani mengumumkan peta jalan transformasi digital dalam pengelolaan sumber daya alam Indonesia. Mulai Januari 2027, seluruh transaksi komoditas strategis nasional akan dialihkan melalui platform mandiri yang dikelola oleh Danantara.
Platform ini dirancang untuk menciptakan ekosistem perdagangan yang saling menguntungkan bagi kepentingan domestik maupun pasar global. Rosan menyebut sistem ini sebagai bentuk penyempurnaan pengelolaan bumi Indonesia untuk dunia demi membawa akses kemakmuran bagi rakyat.
"Sepanjang bulan awal Januari 2027, kami akan melakukan transaksi ini melalui platform kami. Platform yang membawa ‘political benefit’, dunia senang, dan negara pun senang," ungkap Rosan dalam konferensi pers di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Rabu (20/5/2026).
Baca Juga
Gandeng Arm, Danantara Targetkan Cetak 15.000 Ahli Desain Chip di Indonesia
Rosan menegaskan kehadiran platform ini diharapkan dapat menyelesaikan masalah sinkronisasi data yang selama ini menjadi kendala antara Kementerian Keuangan dan sektor terkait lainnya. Sebelum sistem ini beroperasi penuh, pemerintah akan memberikan masa transisi selama enam bulan untuk sosialisasi dan evaluasi teknis.
Melalui platform digital tersebut, Danantara berkomitmen untuk menyempurnakan aspek perpajakan, royalti, hingga pengelolaan data SDA secara ‘real-time’.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan pemerintah telah membentuk badan khusus ekspor untuk tiga komoditas strategis melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia.
“Pak Menteri Investasi [Rosan Roeslani] sudah membentuk PT yang namanya Danantara Sumberdaya Indonesia,” kata Airlangga.
Baca Juga
Airlangga: PT Danantara Sumberdaya Indonesia Akan Kelola Ekspor Batu Bara, CPO, dan Ferro Alloy
Ia menyebut tiga komoditas utama yang akan masuk dalam pengelolaan ekspor tersebut adalah batu bara, crude palm oil (CPO), dan ferro alloy. “Top three ekspor kita adalah batubara 8,65%, CPO 8,63%, dan ferro alloy sebesar 5,82%. Oleh karena itu, tiga komoditas inilah yang dilakukan pengelolaan ekspor,” ujar Airlangga.
Ia menjelaskan komoditas sumber daya alam sektor pertambangan merupakan sektor ekstraktif yang memiliki dampak terhadap lingkungan sekaligus nilai tambah ekonomi nasional.

