Bursa Saham dalam Bayang-Bayang Risiko Politik
Oleh: Hari Prabowo
Ketua LP3M Investa dan pengamat pasar modal.
Investortrust.id - Mungkin mayoritas pelaku pasar, khususnya investor saham, merasakan betapa sulitnya kondisi pasar saat ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebagai tolok ukur kinerja pertumbuhan harga saham berasa sangat alot pergerakannya. Sejak awal tahun 2023 sampai tanggal 20 Oktober 2023, IHSG turun 0,02% (year to date/ytd).
Dalam suatu bentuk investasi, selalu ada faktor risiko yang patut diperhatikan, termasuk investasi pada instrumen pasar modal. Saat ini, menurut pandangan saya, bursa sedang dalam bayang-bayang apa yang dikategorikan sebagai risiko politik.
Dari eksternal, yaitu perang Rusia dan Ukraina yang berlarut-larut telah membuat distribusi barang antarnegara sangat terganggu sehingga beberapa harga komoditas naik signifikan.
Upaya menekan inflasi dengan menaikkan suku bunga yang dilakukan The Fed menjadi kurang menggigit. Kini, kondisi itu diperparah lagi oleh "kumatnya" perang Israel dan Hamas yang sangat brutal.
Suhu Politik Jangan Mamanas
So, dari internal menjelang Pemilu, situasi politik dalam negeri sudah terasa menghangat. Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menimbulkan protes banyak pihak manambah hangatnya situasi pada saat cuaca panas akibat El Nino.
Ini tentu menjadikan investor merasa kurang nyaman, bahkan investor asing dalam beberapa bulan terakhir mencatatkan net sell dari bursa saham domestik.
Keluarnya asing dari bursa saham biasanya diikuti oleh penguatan dolar AS terhadap nulai tukar rupiah. Saat ini, rupiah sudah jebol, melampaui level Rp 15.800 per dolar AS.
Tentu ini sangat berat, khususnya bagi emiten "pengutang" dalam mata uang asing karena akan memperbesar biaya selisih kurs.
Ibarat jatuh tertimpa tangga, baru saja Bank Indonesia (BI), di luar ekspektasi, menaikkan bunga acuan, BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps dari 5,75% menjadi 6%. Keputusan BI menaikkan suku bunga terutama untuk menahan anjkoknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Kenaikan suku bunga, suka atau tidak suka, harus dirasakan kalangan usaha. Jadi, risiko politik akibat perang yang mengganggu kegiatan ekonomi telah berimbas pada kegiatan investasi di pasar modal pula.
Kita berharap kondisi politik dalam negeri dalam menyambut Pemilu cukup sebatas menghangat saja, jangan sampai memanas. Semua pihak harus punya kesadaran tinggi bahwa iklim investasi butuh situasi yang aman dan stabil, karena pertumbuhan ekonomi membutuhkan investasi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Harus Menyesuaikan Pasar
Bagaimana dengan investor saham? Dalam menghadapi situasi terkini, investor saham harus bisa mengatur strategi terbaik, termasuk dalam menentukan pilihan sahamnya.
Kita harus menyesuaikan pasar, bukan pasar yang harus menyesuaikan kita. Cermati saham dari emiten yang penjualannya dominan ekspor dan sedikit utang dalam mata uang dolar AS.
Sebaliknya, berhati-hatilah dengan saham emiten yang bahan bakunya impor dan memiliki rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio/DER) besar. Saham ELSA, ADRO, BRMS, ANTM, SMGR, dan DRMA layak diperhatikan.**

