Bagikan

Usai Akuisisi 45% Saham TCP, Harta Djaya (MEJA) Bertransformasi Jadi Investment Holding dan Masuk Bisnis Batu Bara

JAKARTA, investortrust.id PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA) akan bertransformasi menjadi investment holding company setelah menuntaskan akuisisi 45% saham PT Trimata Coal Perkasa (TCP). Langkah ini menandai ekspansi perseroan ke sektor pertambangan batu bara, di samping bisnis existing di bidang kontraktor interior, konsultasi desain, dan manufaktur furnitur.

Direktur Utama MEJA Richie Adrian Hartanto S menyampaikan bahwa kolaborasi dengan TCP telah berjalan dan menjadi bagian dari strategi diversifikasi usaha perseroan. Kolaborasi dilakukan dengan mengakuisisi 45% saham TCP senilai Rp 1,6 triliun.

“MEJA sudah setengah jalan untuk berkolaborasi dengan TCP. Nantinya bisnis MEJA yang lama tidak bubar, tetapi kita menambah segmen bisnis ke batu bara melalui akuisisi saham TCP,” ujar Richie di Jakarta, Senin (27/4/2026).

Baca Juga

Triple B Tuntaskan Akuisisi 45,80% Saham Hartja Djaya (MEJA), Pengendali Berubah

TCP merupakan perusahaan tambang batu bara yang memiliki izin operasi produksi periode 2013–2033 di Sumatera Selatan. Perusahaan ini menguasai konsesi sekitar 11.640 hektare dengan estimasi sumber daya mencapai sekitar 800 juta ton batubara.

Saat ini, TCP telah melakukan pengeboran awal dan tengah menyiapkan pembangunan infrastruktur, termasuk hauling road dan coal terminal untuk mendukung operasional.

Dalam proses akuisisi, manajemen MEJA menggunakan skema equity swap, bukan reverse acquisition maupun backdoor listing. Perseroan akan menerbitkan saham baru melalui rights issue yang diberikan kepada pemegang saham TCP sebagai pembayaran atas 45% saham tersebut.

Aksi korporasi ini menjadikan pemegang saham TCP sebagai pemegang saham baru MEJA, tanpa mengubah pengendali perseroan. PT Triple Berkah Perkasa tetap menjadi pemegang saham pengendali.

Baca Juga

IHSG Bisa Lanjutkan Pelemahan, Sebaliknya Tiga Saham Dipimpin ARCI Layak Dilirik

Sebelumnya, PT Triple Berkah Perkasa juga telah menuntaskan mandatory tender offer saham publik MEJA dengan harga Rp 66. Hingga periode berakhir, tidak ada pemegang saham publik yang melepas sahamnya, mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek perusahaan.

Ke depan, MEJA akan mengembangkan struktur sebagai investment holding dengan dua lini utama, yakni bisnis existing dan pengembangan usaha baru melalui TCP.

Dari sisi strategi, akuisisi TCP didorong oleh prospek sektor energi, khususnya batu bara, yang masih kuat. Batu bara dinilai tetap menjadi sumber energi utama dengan kontribusi sekitar 48% terhadap ketahanan energi nasional, diikuti gas sekitar 22% dan energi terbarukan sekitar 6%.

Baca Juga

RKAB 2026 Hampir Rampung, Kuota Produksi Batu Bara Dekati 600 Juta Ton

Selain sebagai bahan bakar pembangkit listrik, batu bara juga memiliki potensi hilirisasi melalui gasifikasi menjadi bahan bakar serta produksi amonia untuk kebutuhan pupuk dan industri.

Lokasi proyek TCP dinilai strategis karena memiliki kedalaman sungai yang memadai untuk kapal berukuran besar. Hal ini membuka peluang pengembangan sebagai pusat distribusi batu bara, baik untuk produksi sendiri maupun bagi pemegang izin usaha pertambangan (IUP) lainnya.

Dengan strategi diversifikasi bisnis, penguatan struktur perusahaan, serta dukungan prospek sektor energi, manajemen optimistis langkah ini akan meningkatkan nilai perusahaan dan memberikan manfaat jangka panjang bagi investor.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024