IHSG Dilanda Profit Taking hingga Turun 0,68%, Sebaliknya Saham ARA Bertebaran Dipimpin SDMU
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (15/4/2026), ditutup berbalik arah setelah terkena aksi ambil untung (profit taking) dengan penurunan 52,36 poin (0,68%) menjadi 7.623. Rentang pergerakan 7.622-7.773 dengan nilai transaksi Rp 21,44 triliun.
Penurunan tersebut berbanding terbalik dengan pasar saham Asia yang mayoritas menguat. Pelemahan juga dipicu atas aksi ambil untung sejumlah saham, khususnya saham emiten Prajogo Pangestu yang telah melesat dalam lima hari terakhir.
Baca Juga
Bakrie Capital Kembali Tambah Saham Astrindo (BIPI), Kepemilikan Naik Jadi 6,73%
Penekan utama indeks datang dari pelemahan saham sektor infrastruktur 1,33%, sektor kesehatan 2,81%, sektor konsumer primer 1%, sektor material dasar 0,44%, dan sektor energi 0,27%. Sebaliknya saham sektor transportasi, industri, konsumer non primer, hingga properti menguat.
Meski IHSG melemah dilanda profit taking, sejumlah saham berikut justru catat penguatan hingga auto reject atas (ARA), DEFI melesat 34,33% menjadi Rp 90, SDMU menguat 34,88% menjadi Rp 116, DEFI emnguat 34,22% menjadi Rp 90, dan PSDN melambung 34,13% menjadi Rp 224.
ARA juga melanda saham WBSA, saham pendatang baru yang listing pekan lalu, naik 25% menjadi Rp 440, RONY naik 24,92% menjadi Rp 1.955, ASLI naik 24,56% menjadi Rp 426, BIKE menguat 24,43% menjadi Rp 550, dan MLPT naik 20% menjadi Rp 24.300.
Baca Juga
Utang Luar Negeri Indonesia Bertambah Menjadi US$ 437,9 Miliar
Kemarin, IHSG ditutup melesat 175,76 poin (2,34%) menjadi 7.675. Rentang pergerakan 7.500-7.686 dengan nilai transaksi Rp 23,52 triliun. Kenaikan terdorong penguatan saham big cap dan konglomerasi. Seperti konglomerasi Prajogo Pangestu, Happy Hapsoro, Sinarmas, Bakrie, hingga Haji Isam.
Kenaikan juga sejalan dengan penguatan pesat sejumlah sektor saham, seperti sektor infrastruktur 5,62%, sektor industri 4,47%, sektor energi 3,68%, sektor material dasar 3,55%, sektor transportasi 3,20%, dan sektor keuangan 1,23%. Sebaliknya penurunan melanda saham sektor konsumer primer 0,95%.
Sejalan dengan penguatan pesat tersebut, sejumlah saham berikut catatkan keanikan harga pesat hingga auto reject atas (ARA), seperti saham RICY dengan kenaikan 34,88% menjadi Rp 116, PPRE menguat 34,65% menjadi Rp 136, PURI menguat 34,75% menjadi Rp 190, DEFI naik 34% menjadi Rp 67, dan MDIA mengaut 33,33% menjadi Rp 72.
